Derian POV
Sampai di dalam rumah bukannya aku senang, tapi suasana hatiku malah terasa panas. Apalagi saat ada Zahra di sampingku, aku menjadi enggan untuk menatap wajahnya. Aku tau mungkin sekarang wanita itu sedang bingung dengan sikapku, tapi aku pun tidak bisa memberinya penjelasan karena aku masih tidak mengerti kenapa aku bersikap seperti ini hanya karena persoalan sepele.
Sekarang aku benar-benar membutuhkan pelepasan, aku bingung kenapa setelah kecelakaan rasa ketergantunganku pada minuman keras masih juga belum berkurang. Minuman itu seolah sudah menjadi obat paling mujarab untuk hidupku.
Aku melangkah tergesa ke ruang kerjaku, terdorong rasa rindu akan botol-botol wine kesayanganku. Tapi betapa terkejutnya diriku saat kulihat lemariku sudah kosong.
Kemana perginya semua wine ku ?
Kuraih handphone di sakuku untuk segera menghubungi asistenku roger.
" Cepat ke ruang kerjaku sekarang ! "
Perintahku tegas dengan nada sedikit berteriak.
Isi kepalaku sekarang sudah mau meledak. Tadi Jhonson dan Zahra sudah membuat hariku menjadi rumit dan sekarang ada orang gila yang sudah menghilangkan seluruh koleksi wine terbaikku. Hari ini adalah hari terburuk dalam sejarah hidup seorang Derian.
Tidak perlu menunggu lama untuk mengetahui jawabannya, roger sudah masuk untuk menghadapku.
" Kau lihat ! Kau lihat baik-baik ! " Aku berteriak di depan wajahnya sambil menunjuk ke arah lemari. Ekspresi mukanya yang tetap terlihat datar dan dingin membuatku semakin geram.
" Cari tau bagaimana bisa semua wine milikku hilang tak bersisa ! " Aku menarik kerah bajunya hingga tubuhnya sedikit terangkat. Ia tetap terlihat tenang menatapku, tubuhnya tidak terasa gemetar di bawah intimidasiku.
" Tuan maafkan saya, ini murni bukan kesalahan saya, karena pelaku yang sebenarnya adalah istri anda sendiri nona Zahra " Mendengar pernyataan Roger membuat kepalaku seolah disambar oleh petir. Aku yang terkejut segera mendorong tubuh roger hingga ia terhuyung ke belakang.
" Apa maksudmu ? " Kembali terpintas di dalam otakku ingatan sebelum aku mengalami kecelakaan, kami berdua sempat terlibat dalam pertengkaran hebat. Aku bisa berpikir logis jika Zahra yang sangat marah bisa saja melakukan hal seperti ini, tapi aku harus tetap memastikannya.
" Seusai saya mengantar nona Zahra untuk menemui anda di rumah sakit, saya menyempatkan diri untuk mengecek seluruh sudut rumah anda, dan saya menemukan ruang kerja anda dipenuhi pecahan botol dan ceceran wine, saya sempat mencurigai adanya pencuri atau penyusup di dalam rumah anda, tapi saat saya menemukan sehelai jilbab tergeletak di ruangan itu saya menjadi yakin kalau itu adalah perbuatan nona Zahra"
" Bagaimana bisa kau bilang Zahra pelakunya kalau hanya sehelai jilbab yang kau temukan ? "
" Saya masih menyimpannya, sebentar akan saya tunjukkan pada anda " ujar roger sangat percaya diri, lalu dengan langkah panjangnya ia berjalan menuju sebuah lemari besar dan meraih sesuatu di dalam laci. Dengan cepat ia menghampiriku yang masih berdiri terpaku dengan nafasku yang naik turun mengendalikan rasa panas di dalam dadaku.
" Ini tuan, bukankah ini milik nona Zahra ? Saya yakin bahwa istri anda pelakunya karena saya sudah menyelidiki semua sudut rumah dan tidak terdapat tanda bekas penyusup yang masuk " Aku meraih jilbab di tangannya, dan menggenggamnya erat. Terputar film di dalam otakku, pada saat aku dan Zahra bertengkar hebat, wanita itu mengenakan jilbab yang sama seperti ini. Genggamanku menjadi gemetar menahan marah yang sudah mendesak hingga ke ujung lidahku.
" Kalau begitu sekarang pergilah belikan aku beberapa wine ! " Roger dengan langkah cepat meninggalkanku di dalam ruang kerjaku sendirian.
" Arggggggghhhhh ! " Aku berteriak keras hingga tubuhku bergetar.
Kepalaku terasa sangat berat dan pening, ingin rasanya aku membenturkan batok tengkorakku ini ke tembok hingga ia bisa memuntahkan semua emosiku. Terdorong amarahku yang memuncak aku mengangkat kakiku melangkah hendak menghampiri Zahra. Tapi langkahku terhenti oleh dering handphoneku yang nyaring.
Dengan kasar aku mengangkatnya tanpa melihat id yang tertera di layarnya.
" Halo ! "
" Hay bro ! Aku dengar kau sudah pulang ke rumah ! Kenapa dengan nada bicaramu ? Apa ada masalah ? " suara ramah Roland menyahut dari sebrang, membuatku memutar kedua bola mataku jengah. Kenapa di saat-saat seperti ini dia harus menelfonku.
" mmm...tidak ada apa-apa, ada apa kau menelfonku aku sedang sibuk cepatlah katakan apa maumu ? " titahku kasar.
" santai saja Derian just relax my boy !
Ok...ok sebenarnya aku menelfonmu hanya untuk menanyakan kabarmu dan satu hal lainnya " Roland terdengar bergumam di ujung kalimatnya
" Cepat ucapkan ! Jangan menggumam ! " Aku menggeram marah
" Apa istrimu ada hubungan khusus dengan Jhonson sahabat adikmu ? " Pertanyaan cepat yang ia ajukan seolah menghentikan waktu.
" Apa maksudmu ? Kenapa kau menanyakan hal konyol macam itu ? "
Nada suaraku sedikit meninggi
" Begini, sebenarnya satu hari sebelum kau pulang aku berencana menjengukmu, tapi saat aku berada di depan rumah sakit ibuku menelfonku untuk segera pulang, jadi aku membatalkannya, namun saat aku melajukan mobilku tidak jauh dari rumah sakit aku melihat Istrimu sedang berdiri di tepi jalan dan berbicara dengan seseorang pria yang ada di dalam mobil, terdorong rasa penasaran aku keluar mobil dan melihat lebih dekat siapa pria itu, aku kira itu adikmu tapi betapa terkejutnya aku saat pria itu memperlihatkan wajahnya dia ternyata Jhonson, dan tidak lama kemudian istrimu ikut masuk ke dalam mobil dan mereka berdua pergi dengan cepat, tadinya aku sempat ingin membuntutinya tapi ibuku terus menelfonku jadi aku mengurungkan niatku " Leherku seperti tercekik saat mendengarnya.
" Apa aku bisa percaya dengan kesaksianmu ini ? "
" Aku sempat mengambil gambarnya, nanti akan aku tunjukkan ! " Tidak bisa menahan lebih lama lagi, aku segera memutus komunikasiku dan melangkah kasar ingin menghampiri Zahra secepatnya.
Sekarang seluruh tubuhku sudah siap kuledakkan, dengan kedua tanganku yang mengepal kuat akan ku remukkan tubuh wanita itu hingga berkeping-keping. Aku merutuk diriku yang pernah jatuh dalam pesona wanita itu, yang ternyata dia tidak jauh berbeda seperti ibunya.
Membuatku membulatkan hati untuk membenci Zahra. Nafasku tersengal-sengal sesak di dalam dadaku, karena hati ini seolah ditusuk oleh beribu benda tajam dan disiram dengan air keras, begitu sakit, perih dan panas menjadi satu.
Tidak kusadari sekarang tubuhku sudah berada tepat di depan pintu kamar Zahra. Aku sempat meragu saat menggenggam erat kenop pintunya. Aku sebenarnya sudah tidak sabar untuk melihat sosok ular berbisa itu, agar aku bisa segera memusnahkannya. Tapi bahasa tubuhku berkata lain,aku justru berhati-hati takut mengganggu privasinya.
Ku buka pelan-pelan pintu kamarnya. Jantungku terdengar berdegup cepat, mengalirkan darah naik ke atas kepalaku hingga wajahku sekarang menjadi sangat panas. Tapi belum sempat aku meluapkannya tubuhku dibuat meleleh melemaskan semua otot hingga ke sumsum tulangku. Suara merdu Zahra yang sedang mengalunkan ayat suci menggetarkan jiwa dan ragaku. Hingga membuatku tak tahan dan mengurungkan niatku meninggalkan wanita itu bercengkrama dengan tuhan.
Aku berjalan cepat ke kamarku, mengumpat berkali-kali pada kelemahan diriku. Ku lihat Roger sudah berada di depan kamarku menggenggam sebotol wine, dengan kasar aku mengambilnya dan masuk ke dalam kamarku.
Aku membanting keras pintu di belakangku, dan membawa tubuhku yang masih bergetar jatuh terduduk di atas lantai. Dengan tanganku yang gemetaran aku membuka botol wine itu dan meneguknya cepat. Rasa manis dan pahit langsung membakar kerongkonganku hingga ke dalam otakku yang sudah mendidih.
Isi kepalaku berkabut, dadaku sakit, perih, sesak, dan sekarang perutku rasanya mual. Aku sudah tidak bisa menggambarkan bagaimana kacaunya perasaan yang ada padaku sekarang. Aku menengguk kembali wine di genggamanku hingga rasanya satu botol saja masih belum bisa mendinginkan tubuhku. Sekarang yang bisa ku lakukan hanya duduk terpaku, mabuk dan diam membiarkan semua perasaan ini menghancurkanku. Aku tertawa lirih menyesali betapa bodoh dan lemahnya diriku terhadap Zahra.
Beginikah rasanya terkhianati ? Ibu inikah sakit yang kau rasakan ?
Air mata itu meleleh meluncur perlahan di atas kulit pipiku yang panas.
Akan ku hancurkan kau Zahra !
Sekarang dan untuk selamanya !
KAMU SEDANG MEMBACA
Husband For Zahra
Romansa" bunda aku memang selalu memimpikan diriku untuk menikah, tapi tidak dengan cara seperti ini bu, aku mohon....sadarlah bunda..ini tidak baik...ini sama saja kau menjual diriku !!!" Zahra menangis terisak-isak suara gerungan tangisannya terdengar be...
