"cinta itu .... begitu... kamu merasakannya, tapi tak ada kata2 yang cukup untuk mengungkapkannya.."
---
Amalya pov
setelah izin pulang cepat, jam 3 sore aku sudah disini. Di sebuah taman pemakaman elit di daerah karawang, San diego hills. sekitar 300 meter dari gerbang pemakaman ini, kita bisa menemukan sebuah masjid, gereja, tempat kremasi, bahkan sebuah foodmart, minimarket, dan kolam renang.
aku arahkan mobil melaju ke arah timur. aku menghela nafas mencari sebuah nisan bertuliskan "Rifki Kusuma Wijaya Bin Dimas Wijaya". dulu aku sempat berseteru dengan ibu mas rifki mengenai tempat pemakaman ini. beliau ingin mas rifki dimakamkan di surabaya bersama almarhum papa, namun mas rifki ternyata sudah membeli satu komplek makam seminggu sebelum kecelakaan itu.
makam mas rifki tampak bersih dan rapi. aku bersimpuh di atas makam yang tertutup rumput hijau dengan nisan marmer tersebut. ku letakan sebuket bunga lily di dekat nisan mas Rifki. semilir angin menerpa wajahku.
"assalamualaikum mas.. maaf mas, Lya baru berkunjung lagi. Mas, apa kabar? Lya Alhamdulillah baik2 aja. Aruna jg."
"Mas, hari ini ada yang mau melamarku pada ayah, ibu, dan aruna. namanya Ata. orangnya baik, dia teman Lya waktu kuliah. Mas, Lya mohon izin sama mas Rifki. izinkan Lya memulai kehidupan yang baru. Lya tidak akan pernah melupakan mas rifki. kami akan selalu mendoakanmu, Mas.. Lya dan Aruna sangat menyayangi Mas Rifki.."
ku cium nisan mas rifki setelah selesai membacakan surat yaasiin.
"Lya pamit ya mas.. semoga mas rifki bahagia disana.. Assalamualaikum.."
---
sesampainya di rumah, tampak meja makan dan ruang tamu penuh dengan beragam kue dan masakan. Ibu memang hobby memasak, tapi sepertinya koq ya terlalu berlebihan, kan cuma Ata yang berkunjung, bukan se-RT. ini cuma kunjungan biasa, kenapa seheboh ini.
"Bu, banyak banget masakannya. siapa yang mau makan ih..lagian Ata kan cuma main aja kenapa heboh gini. jangan-jangan ibu ngundang tetangga juga lagi??"
"nggak ih.. ibu gak undang siapa2. ibu cuma seneng aja. jadi kebablasan masaknya.. haahha"
"Aruna mana bu?"
"tidur sore tuh di kamar kamu."
"udah ih bu jangan masak mulu.. siapa yg mau ngabisin coba.. "
"ah kamu mending sana, mandi, dandan, nanti nak Ata keburu dateng lho.."
"ih ibuuu..."
aku pun berlalu, pergi ke arah kamar. seketika aku terhenti didepan pintu. menatap Aruna yg tengah sholat ashar, tertegun mendengar doanya..
"Yaa Allah.. Aruna sayang sama mama, sayang papa juga.. tapi karena papa gak ada, boleh kan aruna minta om Ata yang jadi papa Aruna.. biar mama bisa bahagia lagi, biar Aruna punya papa lagi.. Om Ata baik koq.. mama dan aruna pasti bahagia.. titip pesen sama papa ya Allah.. salam kangen dari Aruna.. "
seketika itu air mataku mengalir deras, aku bergegas memeluk Aruna..
"mama sayang banget sama Aruna.."
"Aruna juga sayang banget sama Mama.."
"Yaa Allah,, terima kasih telah meanugerahkan anak yang luar biasa ini.."
---
Athala pov
baiklah,,, huffh... ditemani Dhika dan Pak Rojak kami sudah ada di depan rumah Lya. setelah memastikan lingkungan aman tanpa satupun wartawan atau paparazi disini, aku pun keluar, disusul oleh Dhika dan Pak Rojak. Bagiku, mereka adalah keluarga. jangan tanyakan dimana keluarga papa dan mama, sejak papa memutuskan menikah dengan mama 30 tahun yang lalu, mereka sudah sebatang kara.
KAMU SEDANG MEMBACA
A untuk Anakku
Literatura FemininaAmalya seorang single parent dari anak berusia 5 tahun bernama Aruna. Ia terbiasa larut dalam kehidupan kerjanya untuk melupakan rasa kehilangan akan suaminya yang telah meninggal. hingga akhirnya dia bertemu lagi dengan masa lalunya, Athala. Athala...
