"dunia itu emang sempit ya.. sejauh apapun kamu pergi, pasti aku bisa menemukanmu.."
------
Amalya pov
pagi ini aku masih terbangun di kamar rumah sakit. saat pertama aku membuka mata, lagi-lagi ada wajah Ata yg tersenyum padaku.
"selamat pagi sayang.. gimana sudah baikan?"
Ata tampak sedang sibuk dengan jas dan dasinya. mungkin dia akan berangkat kerja hari ini. sedikit sedih sebenarnya, karena itu artinya aku harus sendirian.
"kamu mau kerja?" tanyaku
"iya sayang,, jam 11 nanti ada meeting dengan investor dan financial planner untuk perusahaanku yang baru."
"oooh..."
"tenang aja,, kamu masih punya waktu 2 jam untuk melihat wajah tampan aku.. hehehe"
"iiih.. ge-er banget.."
kami lantas tertawa ringan bersama sambil Ata menyuapiku sarapan. tiba-tiba saja pintu kamar terbuka.
"Mamaaa..."
"aaah.. aruna sayang.."
Ayah dan Aruna baru saja datang. Ibu tidak ikut, Ata sudah menjelaskan padaku sebelumnya. Ibu tidak tau apa2 tentang penculikanku dan sampai saat ini ibu masih di cirebon. Ibu hanya tahu aku sedang dirawat di rumah sakit karena maag kronisku yang kambuh. gak bohong juga sih.. lebih dari 24 jam disekap azzam tak sedikitpun makanan yg dia berikan ku sentuh, alhasil maag kronisku kambuh.
tak lama berselang kamarku juga kedatangan mba Shandy sambil membawa anak balitanya.
"Lya gimana kabarnya? udah baikan?"
"baik mba.. adek kecil namanya siapa? cantik bgt.."
"namanya Shalom.." jawab mba Shandy.
ku sentuh pipi bakpao gadis itu. kasian sekali gadis kecil ini harus kehilangan ayahnya yg masuk penjara.
"maaf ya mba.. ayahnya shalom jadi gak bisa nemenin shalom tumbuh jadi anak yang cantik.."
"justru mba yang mau minta maaf. gara2 azzam, kamu jadi seperti ini. mba janji dia akan dihukum setimpal dengan kejahatannya.. hhmmm,, dan lagi.. Azzam sebenarnya bukan ayah shalom. aku menikah dengan Azzam saat hamil Shalom 2 bulan. ayah yang marah besar memaksaku menikah, tanpa aku tahu harus menikah dengan siapa. saat itulah azzam datang dan menawarkan diri."
aku terdiam mendengarkan penuturan mba Shandy. Ata duduk disampingku ikut mendengarkan. shalom dan aruna sedang bermain ipad di sofa sambil ditemani ayah.
"hmm klo boleh tahu, ayah shalom dimana sekarang mba?"
mba shandy menatap jendela kamar dan mulai bercerita kembali.
"mba ketemu ayah shalom di sydney. di sebuah klub besar disana. mba sedang minum untuk menghilangkan rasa frustasi gara2 ayah yang terus-terusan memintaku melanjutkan kuliah di jurusan bussiness management, sedangkan sama sekali aku gak minat. aku ingin kuliah di art and fashion. ayah shalom yang saat itu sedang minum sendirian jg menyapaku karena kami sama2 orang Indonesia. entah bagaimana seterusnya aku tak ingat. esoknya aku sudah ada di hotel dan dia entah kemana. sejak saat itu sudah 3 tahun aku belum pernah menemukan dia. yang lucu adalah, namanya saja aku tak tau. hehehe."
aku dan Ata terdiam, bingung harus berkata apa. tidak air mata dari mata mba shandy, namun justru malah mencoba tersenyum padaku walaupun aku tahu hatinya pasti terluka.
"hmm sabar ya mba.. semoga Allah menunjukkan jalan terbaik untuk mba dan shalom.."
"aamiin.."
tak lama berselang, pintu kamar vvip rumah sakit ini diketuk lagi. ok, tamu selanjutnya, pikirku. oh, Rizal rupanya.
"hai Rizal,, ayo masuk.. wah rame nih jadinya.." dengan semangat aku meminta Rizal bergabung.
Mba shandy yang menyadari kedatangan orang lain pun ikut menoleh ke arah Rizal. dan saat mata mereka bertemu, aku menyadari ada sesuatu yang ganjil disitu. ekspresi wajah rizal dan mba shandy yang sama2 pucat dan tak bergerak sama sekali.
Ata yang juga menyadari hal itu akhirnya meminta ayah agar mengajak aruna dan shalom keluar dari ruangan dulu. setelah itu Ata mengunci pintu kamarnya. sedikit ragu akhirnya aku memulai percakapan.
"oke. sepertinya aku kenalin dulu satu-satu ya. mba shandy, ini Rizal, adik dari almarhum suamiku."
mba shandy hanya menoleh sejenak padaku lalu kembali menatap Rizal tanpa geming.
" Rizal, ini mba shandy. sahabatku."
Rizal juga bertingkah sama, hanya menoleh sejenak lalu kembali menatap mba shandy.
"sepertinya kalian sudah sama-sama kenal." ujar Ata.
tampak ragu untuk bicara, Rizal hanya mengulurkan tangan ke arah Shandy. tapi bukannya menerima, shandy justru menghindar.
"Lya, Ta.. aku pamit dulu ya.."
mba shandy langsung melangkah cepat ke arah pintu. meninggalkan aku, ata dan rizal yang kebingungan.
" kamu kenal dia, Zal?" tanyaku
" hmm.. kenalan waktu di sydney. yaaah cuma one night stand gw aja koq.."
akhirnya aku dan Ata seperti melihat benang tipis penghubung mba Shandy dan Rizal.
"one night stand tiga tahun lalu?" tanya Ata
"kok kamu tahu? apa urusannya denganmu?" jawab Rizal ketus.
" kamu lihat gadis kecil yang cantik tadi?" tanyaku
Rizal mengangguk
"mungkin kamu harus mengejar mereka. gadis kecil itu anaknya shandy. mungkin ada darahmu yang mengalir di jantung kecilnya." jelasku
Rizal berpikir sejenak lalu ikut bergegas pergi meninggalkan ruangan kami. Ata menggenggam tanganku dan berkata,
"setidaknya kejadian ini juga sudah berhasil mempertemukan dua orang yang sama-sama kehilangan."
aku mengangguk dan tersenyum. Ata kembali mengecup keningku.
"aku kerja dulu ya.. nanti sore aku kesini lagi.."
"hati-hati ya, Ta.." sambil tersenyum aku mengiyakan
" I love you, sayang.."
"love you too.." jawabku pelan.
"ih gak kedengeran.. coba bisikin sini.." Ata mendekatkan telinganya ke arah bibirku. awalnya aku ingin bilang 'I love U too' yang kenceng, tapi aku justru malah mendaratkan kecupan di pipinya sekilas lalu menutup mukaku dengan kedua tangan.
Ata yang sedikit terkejut hanya membisikkan sesuatu di telingaku.
"aku anggap itu jawaban ya.. dagh sayang.. aq pergi dulu.."
dan,, kecupan lagi dikeningku mengiringi kepergiannya..
----
***Notes:
sepertinya tinggal beberapa bab lagi..
jgn lupa votes n comments'a..
makasiiih...
KAMU SEDANG MEMBACA
A untuk Anakku
ChickLitAmalya seorang single parent dari anak berusia 5 tahun bernama Aruna. Ia terbiasa larut dalam kehidupan kerjanya untuk melupakan rasa kehilangan akan suaminya yang telah meninggal. hingga akhirnya dia bertemu lagi dengan masa lalunya, Athala. Athala...
