ch 12

18K 1K 4
                                        

"cinta memberiku satu kekuatan. kekuatan untuk berani mempertahankannya."

**8 tahun yang lalu**

"hei,, kamu Amalya kan?"  Athala menyapa seseorang yang duduk disebelahnya. KRL AC eksekutif bogor-tanah abang baru saja melaju meninggalkan stasiun bogor. jam menunjukkan pukul 9 pagi. beruntungnya ini bukan jam berangkat kerja jadi kita masih bisa mendapat pilihan tempat duduk yang lapang.

"iya.. koq tau?" amalya menjawab dengan sedikit ketus.

" aku sempet dateng ke acara di fakultasmu, acara apa ya lupa. pokoknya kamu dulu salah satu panitianya deh. " Athala mencoba menjelaskan. sedangkan amalya berpikir keras mencoba mengingat. Amalya sering menjadi panitia berbagai acara kampus, jadi dia anggap 'iya' aja pernyataan orang itu.

"oh hai. nama kamu siapa?" jawab Lya

"kenalin. Athala. cukup Ata aja." Atha mengajaknya bersalaman. dan saat itulah, pertama kali mereka dipertemukan.

---

malam ini Lya yang seorang asisten dosen, ada jadwal mengajar kelas  ekstensi jam 9 - 11 malam. Ata dengan senang hati mengantarnya ke kampus walaupun Lya menolak. dan seperti biasa Ata akan menunggunya sampai Lya selesai mengajar. tapi ada yang berbeda dengan Lya malam ini. mukanya pucat dan terlihat kurang bersemangat.

" Ta,, aku ngajar dulu ya.. kamu gak apa2 nungguin aku?" Lya selalu merasa sungkan kalau Ata selalu antar jemput atau bahkan menunggunya mengajar, takut dikiran manfaatin orang. padahal Ata dengan senang hati menemaninya kemanapun Lya pergi.

"kamu yakin baik2 aja? koq kayaknya kamu pucet bgt.." tanya Ata sambil menyeruput secangkir kopi di cafe taman koleksi dekat kampus tempat  Lya mengajar.

"tenang aja.. I'm Okay!" jawab Lya sambil tersenyum.

"ok. kalau ada apa2, aku nunggu disini ya.. hati2.. "
Lya pun beranjak menuju ruangan kelas mengajarnya.

Ata melanjutkan rutinitasnya. menunggu Lya sambil minum kopi di cafe.

satu jam berlalu, Lya sudah berjalan ke arahnya. tumben Lya sudah beres ngajarnya, padahal baru satu jam, pikir Ata.

"Ta, pulang yuk.. aku gak enak badan.. "
muka Lya tampak pucat dan bercucuran keringat. seketika Ata langsung panik dan bergegas menuntun Lya ke arah mobilnya.

"Lya, kita langsung ke rumah sakit ya.."

"gak ah Ta,, aku pengen pulang ke kostan aja.."

Ata tak pernah bisa menolak permintaan Lya. akhirnya Lya diantar sampai ke kostannya.
Kamar seluas 3x3 m dan kamar mandi seluas 1x1 m di dalamnya, kamar kost seadanya. berbeda dengan Ata yang memang tinggal di  komplek perumahan elit di kota bogor, Bogor Lakeside.

Ata sering mengantar Lya pulang, tapi biasanya hanya sampai gerbang kostnya. kamarnya polos, hanya satu tempat tidur single, meja belajar, televisi 20 inchi, dan sebuah lemari kecil. tak banyak barang Lya orang yang simple, selain itu juga karena dia pulang kerumah orang tuanya setiap weekend.

Ata membaringkan Lya yang sepertinya teramat lemas. setelah minum parasetamol, Lya tertidur dengan selimut dan kompresan yang diganti setiap 10 menit sekali. jam sudah menunjukkan pukul 10.30. Ata tidak mungkin meninggalkan Lya dalam kondisi seperti ini. akhirnya Ata izin kepada ibu kost Lya dan Rt setempat yang kebetulan bersebelahan dengan kostan Lya. Ata memutuskan untuk tetap berada di kostan Lya sampai Lya baikan, tentunya dengan pintu kamar terbuka, syarat dari ibu kost dan pak RT.

pukul 01.30 panas Lya mulai reda, Lya sudah mulai tertidur nyenyak setelah sebelumnya menggigil dan mengigau tak jelas. dan Ata selalu ada menggenggam tangan Lya untuk menenangkannya.
saat itulah Ata menyadari satu hal, dia sepertinya telah lama jatuh hati pada gadis itu. dalam hatinya ia berjanji, akan selalu ada untuk Lya sampai kapan pun.

sepanjang malam Ata sama sekali tak bisa terpejam. sampai akhirnya pukul 4 pagi, Ata terlalu mengantuk dan tertidur.

Jam 5 shubuh Lya terbangun menemukan Ata yang tertidur sambil duduk di lantai dengan kepala bersandar ke tempat tidur Lya. Lya merasakan tubuhnya sudah baikan. ia menyingkap selimut di tubuhnya, dan handuk kompres di keningnya. dia mengamati Ata yg masih tertidur dengan tangan yang menggenggam tangannya. saat itulah Lya menyadari satu hal, dia ternyata sudah jatuh hati pada Ata pada setiap keberadaannya.

Ata dan Lya bukanlah sepasang kekasih dengan sebuah deklarasi kata2 'aku suka kamu, aku cinta kamu, aku sayang kamu'. mereka hanya menjalani rasa 'nyaman' yang mereka rasakan setiap bersama. sebenarnya mereka sudah terlalu dalam dari kata 'jatuh hati'. jauh di dalam hati mereka, Ata dan Lya paham satu hal, mereka sama2 jatuh cinta, tak bisa dan tak ingin kehilangan.

satu bulan kemudian....

Lya benar-benar kebingungan,, entah dimana Ata berada saat ini. sudah 15 hari dia sama sekali tak bisa dihubungi. Lya selalu menghabiskan waktu luangnya di cafe Taman Koleksi. berharap tiba-tiba Ata datang padanya dengan senyum dan candaan khasnya. Lya cemas. tidak, Lya tidak hanya cemas. Lya merindukan Ata.

waktu berlalu terasa lambat bagi Lya. Ata benar-benar menghilang begitu saja. bahkan terakhir kali kemarin dia minta bantuan dosennya untuk mengecek ke bagian kemahasiswaan fakultas komunikasi tentang Ata, kabarnya Ata sudah keluar dari kampus sejak hampir sebulan yang lalu.

dan sekarang disinilah Lya. di cafe yang sama selama sebulan penuh menunggu Ata. menangis tersedu sambil memotong pancake ditemani segelas hot lemon tea. Lya menyerah, Lya sudah terlalu lelah mencari Ata. ketika Lya sudah terbiasa dan mulai menyadari perasaannya pada Ata, Lya justru malah merasakan kehilangan terbesar dalam hidupnya.

30 menit berlalu, pancakenya sama sekali tidak Lya makan. hanya terpotong-potong tidak karuan. ia berusaha bisa menahan air matanya untuk tidak keluar, tapi sia-sia, air matanya malah semakin deras, namun  tanpa isakan, hanya air mata dalam diam.

lalu tiba-tiba, didepannya duduk lah seseorang.

"haaiii,, kamu jangan nangis terus,, kan kasian bogor kehujanan." lelaki itu tersenyum dan menyerahkan sehelai tissue pada Lya.

Siapa sih ini, sok ikut campur urusan aku, candaannya garing pula. bathin Lya.

"kenalin, aku Rifki. Rifki Kusuma Wijaya." Lelaki itu tersenyum mengulurkan tangan untuk bersalaman.

---

A untuk AnakkuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang