ch 11

19.6K 1.2K 5
                                        

"jika cinta menyakitimu, bisa jadi cinta pula yang menyembuhkanmu.."

-----

*Athala's pov*

setelah gak karuan kebut2an di tol jagorawi, lalu frustasi saat memasuki kota jakarta, bermodalkan google maps, akhirnya sampai juga di rumah sakit. aku bergegas lari ke ICU.

"suster, perempuan yang sejam lalu dibawa kesini mana?" aku tak bisa menyembunyikan panik dan teriak sekenanya ke arah suster yang baru keluar dari ICU.

"maaf mas siapanya pasien ya?"

"suaminya sus. calon suaminya!!!" jawabku

"hah? serius?" suster itu nampak heran. dia melihatku dari atas kepala sampai bawah kaki.

"yaaa serius sus.. sekarang kemana pasiennya?" tanyaku kesal.

"diruang jenazah mas. lurus aja dari sini. di ujung. kebetulan belum ada satupun keluarga yang datang."
suster itu menatap iba padaku yang seketika menutup wajahku dengan kedua tangan. aku menangis begitu saja..

"mas pasti sayang bgt.. sabar ya.. masih banyak koq wanita lain yang lebih baik di dunia ini.."
mendengar pernyataan suster itu sebenarnya aku ingin sekali melempar mulutnya dengan petasan ukuran jumbo biar dia gak semena2 kalo bicara, tapi sayang suster itu keburu pergi.

aku bergegas ke ruang jenazah dan meminta izin kepada petugasnya untuk masuk. di dalam ruangan itu hanya ada satu jenazah tertutup selimut.

"Lya,, kenapa bisa kamu pergi begitu saja.. aku masih rindu.. aku belum menunaikan janjiku untuk membahagiakanmu.. aku belum apa-apa Lya.. aku benar-benar mencintaimu Lya..aku butuh jawaban Lya..bangun Lya.." aku hanya bisa terisak setelah mengungkapkan cintaku pada Lya yang bahkan tak bisa menjawabku. kata orang, Lelaki sejati adalah lelaki yang menangis saat kehilangan orang yang dicintainya.. sepanjang hidupku aku baru menangis untuk tiga orang. mama, papa, dan Lya sekarang..

aku memberanikan diri membuka penutup jenazah itu. aku ingin mencium Lya untuk terakhir kalinya.
dan ternyata,,,

aku terkejut saat kulihat bukan Lya yang terbaring kaku disitu. aku menemukan jenazah seorang wanita paruh baya. entah siapa. aku beranjak mencari petugas kamar jenazah.

"pak, itu bukan jenazah wanita yang saya maksud."

"lho, dari tadi pagi toh ya cuma itu mas.."

aku bingung.. lalu segera berlari ke arah bagian informasi. dan akhirnya aku menemukan suster yang tadi ada di ICU.

"hei sus, kalau kasih info yang akurat dong. koq tadi saya ke ruang jenazah ternyata bukan wanita yang saya maksud!"

"lho, mas tadi cari siapa sih? jenazah ibu2 itu memang baru sejam lalu meninggal dari ugd. korban tabrak lari. emang wanita yang mas maksud siapa?" suster itu bertanya.

"Amalya. Amalya Trisanti. katanya dia dibawa ke icu sejam yang lalu." jawabku tak sabaran.

"oooh... bu amalya.. ada diruang anggrek 203 lantai 2.. kalo bu amalya cocok deh sama mas.. hehe"

tanpa aku pedulikan kata-kata suster itu, aku bergegas mencari lift. ah lama,, akhirnya aku naik lewat tangga..

201... 202... 203...

kubuka pintu kamarnya dan benar, dia Lya... Amalya-ku masih hidup.. aku langsung memeluknya erat, tak peduli dengan ekspresi wajahnya yang kebingungan.

"Lya, jangan buat aku khawatir. aku takut kehilangan kamu lagi.."

---

Amalya's pov

A untuk AnakkuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang