Setelah beberapa menit, semua orang masih terlihat terkejut akan apa yang baru saja Kak Richard katakan. Bagaimana tidak? Selama ini dia tidak pernah terlihat berhubungan dengan wanita, dan sekarang ia membawa seorang wanita yang ia katakan sebagai pacarnya. Siapa lagi namanya tadi? Carly? Ah ya, Carla.
Kak Richard dan Kak Carla juga masih tak bergeming dari tempatnya, mereka hanya diam di tempatnya sambil berpegangan tangan dengan erat. Sepertinya Kak Carla takut, terlihat dari ia yang terus menunduk dan meremas tangan Kak Richard kuat-kuat.
Beberapa saat kemudian, terdengan sebuah dehaman yang ternyata berasal dari Ayahku, Raja James. Hal ini sukses membuat mata di ruangan ini menatapnya.
"Silahkan duduk terlebih dahulu." Pinta Ayahku kepada Kak Richard dan Kak Carla.
Mereka berdua pun duduk di satu sofa lain yang masih kosong tanpa melepaskan genggaman tangan mereka yang erat.
"Jadi, berapa lama kalian sudah berhubungan?" Tanya Ayahku lagi dengan lembut, tetapi berkesan tegas.
"3 bulan, Ayah." Jawab Kak Richard enteng. Aku membulatkan mataku karena terkejut. 3 bulan?! Kenapa dia tidak mengatakan apapun pada kami? Setidaknya padaku.
"Apa?!" Tanpa sadar, aku memekik kaget, membuat semua mata di ruangan ini beralih untuk menatapku. Merasa diperhatikan, aku menjadi risih sendiri dan akhirnya menunduk karena malu.
"Ehm.. lanjutkan saja, aku tak akan mengganggu." Ucapku dengan pelan. Tiba-tiba, David mengelus pelan punggungku untuk menenangkanku.
"Jangan kaget begitu, ada saatnya seseorang untuk jatuh cinta. Dan jelas, jatuh cinta itu berlaku untuk semua orang." Bisik David dengan pelan di telinga kananku yang hanya kujawab dengan anggukan pelan.
Ayahku kembali berdeham untuk mencairkan suasana.
"Mengapa tidak pernah memberi tahu kami mengenai hubunganmu, Richard?" Tanya Ayahku lagi.
"Sebenarnya, itu permintaan Carla. Katanya, dia merasa belum siap untuk bertemu dengan keluargaku terlebih karena dia mengira kita, terlebih Alena masih berduka akan kematian Jacob." Jelas Kak Richard kepadaku. Aku menatap Kak Carla sambil tersenyum tipis. Kulihat dia membalasku dengan senyuman manisnya. Kurasa aku mulai menyukainya, dia tidak egois.
"Bagaimana dan dimana pertama kali kalian bertemu?" Tanya Ayahku lagi kepada Kak Richard tanpa mengurangi ketegasannya, membuat suasana di ruangan ini sangat tegang.
"Seperti yang Ayah tahu, aku sering berjalan-jalan disekitar Kerajaan Blanchard. Suatu saat, aku bertemu dengan Carla yang sedang berjalan sambil membawa belanjaannya, ehm.. sebenarnya aku menabraknya. Jadi, dia sempat kesal padaku, namun akhirnya kami berpacaran juga." Tukas Kak Richard kepada kami. Jujur, aku merasa sedikit iri dengan kakakku. Dia.. sudah menemukan orang yang dia cintai dan mendapatkannya begitu mudah. Bagaimana dengan diriku? Orang yang begitu kucintai mati hanya karena menyelamatkanku.
"Hm, begitu.. Jadi, Carla ya?" Ucap Ayahku dengan lembut kepada Carla.
"Iya.. Yang Mulia.." Jawab Kak Carla dengan masih ragu-ragu kearah Ayahku. Mungkin dia masih bingung harus memanggil Ayahku apa.
Ayahku hanya terkekeh pelan.
"Panggil Ayah atau Papa saja." Ujar Ayahku sambil tertawa pelan kepada Kak Carla.
"Yang- Ayah, merestui hubungan kami?" Tanya Kak Carla dengan penuh harap kepada Ayahku.
"Iya, mengapa tidak? Apa disini ada yang tidak merestui hubungan mereka?" Jawab Ayahku dengan enteng membuat suasana yang sebelumnya tegang menjadi rileks kembali.
"Panggil juga aku Ibu." Ujar Ibuku kepada Kak Carla. Dapat kulihat binar kebahagiaan di wajahnya yang cantik itu.
"Selamat ya Richard dan Carla." Tukas David dengan antusias kepada mereka.
Kini, semua mata menatapku yang masih menatap bingung kearah mereka berdua.
"Al?" Panggil Kak Richard menyadarkanku dari lamunanku.
"Hah?" Tanyaku dengan bingung. Kak Richard menatapku meminta kepastian dan Kak Carla menatapku penuh harap.
Aku pun tersenyum.
"Hai, calon kakak ipar." Panggilku kepada Kak Carla dengan senyuman yang mengembang di wajahku.
Mereka berdua tersenyum bahagia kemudian saling berpelukan membuatku yang melihat ikut merasakan kesenangan itu. Suasana yang tadinya tegang menjadi penuh dengan kebahagiaan. Sudah ditentukan bahwa nanti, aku akan menikah berbarengan dengan kakakku. Aku yang mengingat pernikahanku semakin dekat hanya dapat tersenyum kecut.
***
Hari demi hari berlalu dengan cepatnya, tanpa terasa besok sudah hari pernikahanku dengan David. Aku hanya dapat menghela nafas jika mengingatnya. Aku tak tahu lagi harus bagaimana agar dapat mencintai David, aku tak dapat berpindah hati dari Jacob.
Terbesit ide untuk berjalan-jalan di benakku untuk menghilangkan semua beban hatiku. Aku pun berganti baju dengan gaya casual lalu berpamitan kepada orantuaku dan langsung beranjak dari Kerajaan menuju pemukiman penduduk.
Aku sudah berjalan kurang lebih 1 jam disekitar sini dan tak mendapatkan apapun, kecuali keheningan. Aku merasa jenuh dan akhirnya aku memutuskan untuk mencari mangsa di hutan dekat sini karena bosan.
Beberapa menit kemudian, aku sudah tiba di ujung hutan itu. Aku pun memasuki hutan itu. Aku merasakan suasana natural yang benar-benar menenangkan hati. Aku merasa tak memiliki beban apapun saat ini. Aku sendiri tak mengerti mengapa aku memilih untuk pergi ke hutan.
Saat sedang mengagumi keindahan hutan ini, aku melihat seekor rusa tak jauh dari tempatku. Aku pun berniat untuk menangkapnya dan menghisap darahnya. Aku pun mengendap-endap untuk mendekat kearahnya. Saat sudah dekat, aku sudah mengambil ancang-ancang untuk memegangnya erat-erat. Tiba-tiba, ia berlari dengan kencang menjauh dari tempatku. Apa dia menyadari keberadaanku? Sial! Padahal aku sudah berhati-hati.
Aku yang kurang kerjaan pun mengejar rusa itu dengan kecepatan vampireku. Tapi, saat berlari, aku menabrak sesuatu yang keras hingga aku terjungkal kebelakang. Pertama kali, aku mengira itu pohon. Tetapi, ketika melihat sesosok tubuh juga terkapar tak jauh dari tempatku membuatku sadar bahwa yang tadi kutabrak adalah orang bukan pohon.
Kulihat dia juga sudah mulai bergerak untuk bangkit, aku pun mendekatinya untuk membantunya berdiri juga. Saat sudah dekat, aku dapat melihat bahwa ia adalah seorang pria. Tubuhnya.. mengingatkanku akan Jacob. Tapi, segera kubuang pemikiran itu mengingat bahwa besok aku akan menikah jadi aku harus melupakan segala tentang Jacob.
Saat sudah berada tepat disampingnya, aku benar-benar kaget. Wajah itu.. mata itu.. hidung itu.. mulut itu.. semua itu adalah milik Jacob.
Apa ini? Pria ini adalah Jacob?
Aku merasa begitu senang karena masih ada kemungkinan bahwa Jacob masih hidup.
"Ja-jacob..?" Panggilku dengan ragu bercampur bahagia.
Kulihat dia sudah bangkit dan dia mulai menatapku. Namun, tatapannya.. berbeda dengan yang dulu, tatapannya penuh kebencian. Ada apa dengannya?
"Jangan mendekat vampire busuk!" Desisnya dengan tajam kepadaku.
Dia.. Jacob. Aku yakin itu, tubuh dan wajahnya masih sama dengan dulu. Hanya saja, mengapa dia berubah? Mengapa dia membenci vampire? Apa dia.. seorang werewolf?!
🎀🎀
KAMU SEDANG MEMBACA
I am a Vampire?
VampireBella Arnauld adalah seorang gadis berumur 17 tahun yang duduk di bangku kelas 3 SMA dan dapat dikategorikan sebagai gadis yang pendiam. Semuanya berjalan seperti biasa.. Sampai akhirnya.. Ia bertemu seseorang yang akan mengubah hidupnya selamanya...
