Ada yang pernah bilang kepadaku, "Jangan pernah menyesal kalau kau pernah menunggu seseorang, meski yang kau inginkan tak pernah datang. Setidaknya, kau telah belajar caranya berjuang."
##############
Kemal's POV
Gue berjalan sambil membawa makanan dan minuman di tangan gue ke arah cewek itu. Iya, Arianna atau Anna panggilannya. Cewek yang gak pernah jauh jauh dari hidup gue. Cewek yang selalu ada dimana-mana. Cewek yang selalu mau gue hindarin tapi saat gue udah berhasil menghindarinya, gue malah kangen sendiri ngeliat cewek itu.
"Nih, gue cuma dapet paket ayam nasi doang, yang lainnya udah abis soalnya. Gak papa kan?" Ujar gue sambil menyodorkan makanan, takut kalo dia gak suka ayam gara gara takut gemuk. Biasanya cewek sering gitu kan?
Cewek itu cuma mengangguk sambil tersenyum lalu mulai memakan ayamnya. Gue yang emang lagi kelaperan langsung ngabisin makanan gue dengan cepat. Maklum, daritadi udah bunyi terus minta dipakanin. Beberapa menit kemudian gue selesai dan menatap cewek di depan gue yang masih asik mengabiskan makannya.
Manis.
Satu kata yang terlintas di otak gue begitu melihatnya. Gue tersenyum kecil. Baru sebentar gue menyadari perasaan gue dan sebentar lagi gue harus belajar melupakannya. Rasanya ada yang sedikit sakit memikirkan fakta-fakta itu.
Gue akhirnya memilih memfokuskan pikiran pada minuman yang sedang gue habiskan ini. Beberapa menit kemudian gue mendongak, niat ingin liat doi udah selesai makan apa belom malah mergokin dia lagi ngeliatin gue. Ada sesuatu yang meloncat bahagia ngeliat dia lagi ngeliatin gue. Apa ya?
"Kenapa?" Tanya gue tanpa mampu menghilangkan perasaan bahagia ini sehingga tercetaklah senyum dengan jelas.
"Em...kakak mau kuliah dimana?" Tanyanya tiba-tiba sambil menatapku.
Gue yang awalnya tersenyum, langsung teringat akan tujuan utama gue memulai interaksi dengannya. Apa mungkin ini waktunya buat cewek ini tau semuanya?
Gue memaksakan senyuman lagi untuk menutupi segala kesedihan dan pikiran-pikiran gue, "kalo lo maunya gue kuliah dimana?"
Ya gue mulai mencoba aku-kamu dengannya. Gak tau kenapa pengen aja. Mungkin ini yang dinamakan naluri? Entahlah.
Gue liat cewek ini malah mengerjapkan matanya beberapa kali sambil membulatkan matanya. Lucu sekali.
"Hey?" Panggil gue berusaha menyadarkannya dari lamunannya.
"Em...hehehe ya jangan jauh-jauh kak..." jawabnya dengan pelan. Gue liat ada semburat merah di pipinya.
"Hahahaha kenapa gitu? Kangen ya?" Goda gue sambil menaik turunkan alis. Gue lihat cewek itu tertawa kecil membuat matanya menyipit dan terlihat kecil kesung pipinya yang semakin membuatnya manis. Membuat gue melebarkan senyuman gue tapi juga merasakan sakit yang lebih mendalam melihatnya.
"Ya biar aku tetep bisa liat kakak hehehe," jawabnya sambil menyengir. Semakin manis lagi.
"Wah liat doang nih? Gak mau ketemu langsung?" Tanya gue dengan nada sok kaget.
"Yaelah kak, nanti kalo aku ketemu kakak terus aku bisa mati jantungan..." jawabnya namun ia langsung menutup mulutnya dengan cepat. Aduh lucu banget sih.
Gue tertawa sambil geleng-geleng lalu bangkit berdiri, "bintang tamunya baru manggung sejam lagi, sekarang masih band-band sekolah. Mau keliling sekolah dulu gak?" Ajak gue sambil mengulurkan tangan gue ke depan wajahnya.
Gue berniat memberitahunya sekarang sambil berkeliling.
Gue liat cewek itu langsung mengangguk dan menaruh tangannya di atas tangan gue.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Ugly Truth
Teen FictionSebenernya, happy ending itu ada beneran gak sih? Apa karma benar - benar nyata? Apa kehidupan yang di novel - novel itu beneran ada? Yang selalu berakhir bahagia tanpa masalah? Yang dapat menjalani hidupnya tanpa beban? Jujur aja, gue belom tau gim...
