Bab 15

165 18 0
                                    

Aku terus berlari menuju altar. Aku sudah menggunakan banyak energi untuk memanggil Dewa Perang, dan sekarang aku harus berlari? "Argh!" Aku menggigit bibirku. Aku menatap jam tanganku, 13.00.

Untuk mencapai altar mungkin aku membutuhkan sekitar 1 jam berlari tanpa halangan. Tapi apabila terdapat banyak halangan, mungkin akan memakan sekitar 2 jam.

"Semoga ia baik-baik saja." Batinku. Jantungku berdegup dengan kencang. Tak bisa kubayangkan kalau ia akan meninggalkanku lagi seperti saat dulu. Sudah 10 tahun ia menghilang, apakah aku harus kehilangannya lagi saat aku hampir mendapatkannya?

Aku kembali menggigit bibir bawahku, dadaku terasa sakit. Ini bukan sakit karena memikirkan Emma, ini sakit karena Dewa Perang berada dalam kondisi kritis.

"Dengan darah dari keturunan suci, Leuvour, aku Dylan d' Leuvour memanggilmu malaikat bersayap satu! Hukumlah orang-orang berdosa yang mengotori tanah ini!" Terdengar suara jelas Dylan.

Aura Dylan terasa jelas, tepat di belakangku. Aku membalikkan tubuhku. Menatapnya. Kedua matanya berdarah, ia pasti sudah mencapai batasnya. Bagaimana bisa ia memanggil tiga malaikat sekaligus? Malaikat bersayap satu yang ia panggil berdiri tepat di atasnya.

"Hukum orang berdosa ini." Ia menunjukku. Seketika, cahaya putih menyilaukan muncul dari tangan malaikat bersayap satu itu.

"Ah. Hanya sampai sini rupanya." Batinku. Memangnya apalagi yang bisa aku lakukan untuk menghadapi malaikat ini. Seandainya saja aku lebih kuat.

"Aku akan membantumu, kakak." Suara lembut seorang pria. Ia berbisik tepat di telingaku.

Seketika, cahaya putih menyilaukan itu menghilang dari hadapanku. Seorang pria berambut hitam berdiri di hadapanku. Ia menggunakan baju adat Jepang berwarna biru.

"Dylan, kau semakin hebat saja, ya? Kau sekarang bisa memanggil tiga malaikat sekaligus." Ia berkata.

Dylan menghapus air mata darahnya. "Kau tidak sopan sekali dengan kakakmu. Setidaknya buka topeng rubahmu itu." Ia berkata sambil tersenyum tipis menahan sakit.

Lelaki berambut hitam itu tertawa kecil, kemudian ia membuka topengnya. Aku masih tidak bisa melihat wajahnya, ia masih membelakangiku.

"Wajahmu tidak berubah, ya? Wajahmu itu masih saja membuatku ingin menguburmu hidup-hidup." Dylan menatapnya dengan tatapan membunuh.

Lelaki berambut hitam itu masih saja tertawa kecil. "Tidakkah kau merindukanku?"

"Ck." Dylan berdecak. Kemudian ia menyayat jari kelingking tangan kirinya. "Dengan darah dari keturunan suci, Leuvour, aku Dylan d' Leuvour memanggilmu malaikat tanpa sayap! Hukumlah orang-orang berdosa yang mengotori tanah ini!"

Aku hanya bisa menganga. Sekarang ia sudah memanggil empat malaikat! Ia bisa mati!

"Kau bisa mati jika seperti itu, aku akan menyelesaikan ini dengan cepat dan membantu istriku." Lelaki berambut hitam itu kembali menggunakan topengnya dan mengeluarkan korek api.

Ia menyalakan korek apinya. Seketika bayangan tubuhnya menjadi gelap dan besar. "Keluarlah wahai naga hitam." Ia berkata dengan tenang. Naga hitam keluar dari bayangannya dan mulai menyerang malaikat-malaikat Dylan.

Malaikat tanpa sayap milik Dylan itu memegang sebuah tombak. Auranya sungguh suci. "Jangan pernah memanggil Emma sebagai istrimu!" Dylan berteriak.

Malaikat tanpa sayap itu memutar-mutar tombaknya. Sedangkan, naga hitam milik pria itu berputar-putar dan beterbangan di angkasa.

"Tolong ulur waktu untukku!" Aku berteriak kepadanya. "Aku akan menyelamatkan Emma!"

Pria itu tidak merespon. Aku langsung berlarian menuju altar. Odisea mulai hancur, suara ledakan ada dimana-mana mengiringi pertempuran sengit naga hitam dan malaikat-malaikat keluarga Leuvour.

"Kembalilah ke peraduanmu, Dewa Perang!" Aku berteriak. Aku membutuhkan banyak energi untuk berlari, setidaknya aku harus menghemat energiku.

Aku melirik jam tanganku. Pukul 14.30 aku hampir sampai. Terdengar suara banyak orang memanjatkan mantra.

Terdengar seperti bisikan. Mantra itu sepertinya pernah aku dengar, jangan-jangan mantra itu mantra untuk membangkitkan iblis. Jangan-jangan mereka akan membangkitkan Emma! Aku mengigit bibirku sambil berlarian. Siapa dalang dibalik ini?

*Duarrr* Suara ledakan. Dylan dan pria berambut hitam itu masih bertempur. Aku melirik jam tanganku, 14.15. "Tunggu aku Emma!"

Aku berlari dan terus berlari. Mantra itu semakin terdengar jelas. Aku berhenti di tengah lariku. Ternganga melihat bangunan altar dikelilingi orang-orang berjubah hitam. Grimore.

Grimore seharusnya tidak bisa masuk begitu saja ke Odisea, kecuali ada seseorang yang membantu mereka masuk. Apakah ada penghianat? Terngiang di kepalaku perkataan goblin bahwa tuan mereka adalah salah satu tetua Odisea. Apakah salah satu tetua Odisea berhianat?

Aku menggigit bibir bawahku sampai berdarah. Mengapa ada yang berhianat? Aku tak punya pilihan lain selain menghajar mereka.

Aku mengepalkan tanganku dan berlari ke arah altar itu, tapi saat aku hampir mencapai altar, aku menabrak sesuatu yang seperti kaca. Sihir pelindung ala Grimore! "Grimore b*ngs*t!" Aku memekik.

Aku memukul-mukul pelindung itu. Aku hanya bisa melihat dari kejauhan, sementara mereka membangkitkan Emma. Aku mencoba segala sihir untuk membatalkan sihir lain tapi tidak bekerja. Apakah aku harus memanggil Dewa lagi?

15.10

Sebuah cahaya hitam pekat keluar dari bangunan altar. Bangunan itu meledak dan sihir pelindungnya juga menghilang. Beberapa orang berjubah hitam itu terjatuh dan tak sadarkan diri, sedangkan aku terlempar jauh ke belakang.

Dari reruntuhan bangunan itu kemudian muncul seorang wanita. Ia menggunakan baju ketat berwarna hitam dan membawa cambuk hitam berduri. Succubus! Mereka berhasil membangkitkan Emma! Aku meneteskan air mata. Aku bahkan tidak bisa melindungi Emma. Di belakang wanita itu berdiri seorang gadis berambut hitam dan menggunakan dress berwarna putih. Emma. Ia telah kembali ke wujud semulanya.

-----------------
Hey readers! Terimakasih sudah membaca chapter ini! Ikuti terus kelanjutannya! Sampai jumpa di chapter berikutnyaaa👄👄👄

-oreo

STALKERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang