Badanku terasa sakit semua saat aku berusaha untuk berdiri. Di hadapanku bangunan altar itu sudah hancur. Seorang wanita bertanduk dan berekor berdiri sekitar 50 meter dari tempatku berada. Wanita itu bukan manusia. Iblis. Succubus. Emma telah memanggilnya. Apakah ingatannya telah kembali?
Kalau succubus sudah dipanggil maka kastil Odisea akan hancur. Tugasku dari dulu adalah untuk melindungi Odisea meskipun harus berhadapan dengan orang yang aku sayangi. Haruskah Emma mati lagi?
Mataku masih melirik ke berbagai arah. Mencari jejak si penghianat. Siapa yang berani menghianati Odisea? Aku menggigit bibir bawahku. Geram dan kesal.
Tapi tanpa terasa succubus itu menangkap pergerakanku. Ia mengayunkan cambuknya ke segala arah, hendak menyerangku. Aku berlarian menghindari cambukannya. Cambukkannya itu meretakkan tanah. Bisa dibayangkan jika cambukannya itu mengenai tubuhku, tulangku bisa patah semuanya.
Aku mulai berpikir untuk menyarankan para tetua membuat kastil persembunyian baru. Kastil ini pasti hancur.
Succubus itu masih menggerakkan cambuknya dengan barbar. Sementara, Emma tetap berdiri diam di tempatnya. Di tangan kirinya terdapat luka lambang salib dan di tangan kirinya terdapat berbagai luka. Kedua kakinya penuh dengan luka. Ia sudah kembali ke wujud semulanya. Ia menangis darah, tetapi darahnya berwarna hitam. Hitam pekat.
Satu-satunya cara untuk menghentikan succubus adalah untuk mengirimkan succubus kembali ke tempat asalnya. Hal itu hanya bisa dilakukan oleh Emma, tapi ada hal lain yang bisa kulakukan. Succubus akan kembali ke tempat asalnya apabila aku membuat Emma pingsan atau memotong salah satu jari tangan kanannya.
Tapi yang menjadi permasalah adalah, succubus tidak akan membiarkan tuannya terlukai, meskipun ia harus mati. Hal lainnya yang dapat kulakukan adalah mengalahkan succubus, tapi hal tersebut tidak mungkin aku lakukan. Succubus hanya bisa dikalahkan oleh malaikat tertentu.
Mungkin malaikat milik keluarga Dylan dapat mengalahkannya. Aku masih menghindari serangan succubus, tanpa sempat melawannya. Otakku sibuk berpikir cara-cara untuk mengehentikan succubus.
Otakku akhirnya hanya bisa berpikir bahwa hanya Dylan yang bisa mengalahkan succubus. Aku menepuk dahiku, aku baru mengingat salah satu buku yang pernah kubaca, succubus hanya dapat dikalahkan oleh malaikat keluarga Solano. Bagaimana ini?
Sepertinya aku tak punya pilihan lain selain membuka segel kekuatanku. Meskipun kekuatanku dapat membunuh Emma nantinya, aku tak mungkin mengorbankan seluruh Odisea beserta penghuninya hanya untuk Emma.
Aku menguatkan imanku. Aku masih menghindari serangan succubus. Aku berlari maju ke arahnya sambil menghindari serangannya yang bertubi-tubi. Lalu, aku dengan secepat kilat melepas jubahku di hadapannya. Aku berhasil menutupi pandangannya dengan jubahku.
Kemudian, dengan secepat kilat aku mengaktifkan segelku. "Aku Emilio sebagai salah satu penyihir hebat Odisea, meminta izin membuka segelku demi perdamaian di tanah Odisea!"
Cahaya kuning yang menyilaukan mengelilingi tubuhku. Segelku terbuka. Aku 10 kali lebih kuat daripada biasanya. Semoga saja kekuatan ini bisa mengalahkan succubus itu.
Succubus itu menyipitkan matanya. Cahaya yang keluar dari tubuhku ini sepertinya membuat matanya sakit. "Gigantest!" Aku berteriak. Aku memanggil mahluk suci Gigantest. Ia adalah mahluk yang berupa naga, tubuhnya terbentuk dari petir dan cahaya kuning keemasan.
Ia menyerang succubus dengan taring-taringnya, succubus menghindari serangan Gigantest. Mereka terus beradu, sedangkan aku membantu Gingantest dengan serangan sihir lainnya. Dengan energiku saat ini, aku tidak mungkin mengalahkan succubus. Gigantest hanya dapat bertahan sekitar 10 menit dengan energiku saat ini.
Aku tak punya pilihan lain selain memotong jari Emma. Jika harus memilihin antara Emma dan Odisea, maka sudah pasti kupilih Odisea. Bagaimana bisa aku mengorbankan kepentingan golongan untuk kepentingan individu.
Sementara Gigantest membuat succubus sibuk, aku berlarian ke arah Emma yang masih berdiri diam. Sambil berlari aku mengeluarkan pisau kecil dari saku celanaku. Aku hampir dekat dengan Emma. "Maafkan aku Emma!" Batinku.
Aku memotongnya. Jari Emma. Masih terdengar suara succubus di belakangku dan sepertinya ia berlarian ke arahku. Kenapa succubus tidak berhenti?
"Kau sungguh naif." Suara seorang pria. Aku menatap ke arah pisauku. Aku tidak memotong jari Emma, aku memotong jari pria itu. Pria itu berdiri di dekat Emma untuk melindunginya.
Potongan jari pria itu jatuh ke tanah. Ia tidak merasakan kesakitan. Dari potongan jari itu muncul suatu aura hitam gelap dan di tangan pria itu juga muncul suatu hal yang sama. Perlahan jari itu naik hingga akhirnya menyambung kembali.
Sementara itu succubus masih berlarian ke arah kami. "Berlutut!" Pria itu menatap succubus dengan tatapan dingin. Succubus itu menurut dan berlutut di hadapan pria itu. "Kembalilah ke tempatmu seharusnya berada."
"Baik, tuan!" Succubus itu kemudian membuat lingkaran sihir di bawah kakinya, ia masuk ke lingkaran sihir itu dan menghilang.
Pria itu mendekati Emma dan memeluknya. Hatiku teriris melihat pemandangan itu. "Sadarlah." Ia berkata dengan lembut tepat di telinga Emma.
Mata kosong Emma pun menutup dan ia mulai kehilangan keseimbangan. Pria itu menangkapnya dan menggendongnya. Ia meninggalkanku yang masih membeku di tempatku.
Seorang pria berambut pirang berdiri tak jauh dari tempat kami berada. Dylan. Pria itu lalu memberikan Emma kepada Dylan. Dylan menggendong Emma dengan erat.
"Jaga Emma untukku." Suara lembut pria itu terdengar hingga tempatku berada.
Dylan hanya mengangguk kecil. Kemudian pria itu menyalakan korek apinya. Bayangannya kemudian membesar dan membentuk kubah besar yang mengelilinginya. Kubah itu menjadi bola dan terbang ke langit, lalu menghilang.
Aku masih heran mengapa Dylan masih sadar, padahal ia sudah memanggil 4 malaikat sekaligus. Ia malah kelihatan semakin muda.
Aku hanya dapat melihatnya pergi dengan menggendong Emma di tangannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
STALKER
Romance#bahasaindonesia Pernahkah kalian bermimpi tentang seseorang? Mungkin kalian akan menganggap orang itu hanya imajinasi kalian saja. Tetapi, bagaimana kalau kalian memimpikan orang yang sama secara terus-menerus. Novel ini mengisahkan tentang Emma...