Usai mandi air hangat, berganti pakaian dengan pakaian tidur yang tebal, belajar, dan makan malam. Biru merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk, tubuhnya memantul berkali-kali saat ia membanting tubuhnya ke atas kasur dengan kasar.
Biru mengusap wajahnya kemudian beralih melihat jam dinding putih yang menggantung didinding kamarnya.
Pukul 9 malam lewat 30 menit. Gadis itu tertawa renyah menyadari bahwa kedua orangtuanya belum juga pulang dan hujan telah usai sejak dua jam yang lalu.
Biru menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan.
Orangtuanya tidak pernah di rumah, bahkan pada saat minggu ataupun hari weekend kedua orangtuanya memilih terkurung di dalam ruang kerja, berhadapan dengan layar monitor dan setumpuk berkas-berkas yang membuat Biru muak melihat aktivitas membosankan mereka.
Kedua orangtuanya sama sekali tidak mengingat Biru atau sekedar menyempatkan sarapan atau makan malam bersama dengan putri semata wayangnya. Menyapa dirinya saja jarang.
Tidak mau ambil pusing, Biru segera memejamkan matanya.
Jika bisa, Biru memilih untuk tetap terus tertidur daripada harus terbangun lagi, menurutnya mimpinya saat ia tertidur lebih indah daripada kenyataan.
💎💎💎
Biru menyapu pandangan ke sekeliling untuk yang kedua kalinya, masih sama.
Sekolah masih sepi karena Biru datang terlalu pagi. Biasanya teman-temannya akan datang pukul 06.40 atau bahkan pukul 07.00 karena jam masuk sekolah adalah pukul 07.15 dan saat ini masih pukul 06.15.
Biru mendecak kesal, ia kembali duduk termangu di dalam kelas. Saat sedang asyik memainkan pulpennya, ia mendengar derap langkah seseorang mendekati kelasnya, wajah Biru semringah.
Biru menegakkan tubuhnya. Pintu kelas yang terbuka setengah kini semakin terbuka lebar karena dorongan dari tangan seseorang yang siluetnya terlihat dari dalam.
"Yah, Bagas." Ujar Biru kecewa dengan nada pelan seperti sedang berbisik, menyerupai suara angin yang berhembus.
Biru menghela nafas, yang ia tahu cowok paling teladan di SMA Bina Karya ini hanya Bagas, memang. Bagaimana tidak? Ia selalu datang sebelum teman-temannya, bahkan ia pernah datang ke sekolah sebelum penjaga sekolah datang dan akhirnya ia menunggu di depan gerbang sampai penjaga sekolah datang untuk membukakan pintu gerbang. Itukah keteladanan yang harus diteladani? Biru merasa Bagas sedikit aneh. Ah, sejak kapan ia memedulikan Bagas.
Bagas menoleh ke arahnya sebentar dan segera menuju bangkunya dengan langkah cepat. Bagas meletakkan tasnya di atas meja dan mengeluarkan buku paket kimia kemudian sibuk membaca dan sesekali mencatat.
Biru meliriknya cukup lama. Bukan, bukan karena ia tertarik dengan Bagas (um, walaupun Bagas selalu terlihat menarik di mata siapapun), melainkan ia sedang berfikir, apakah ada PR Kimia? Seingatnya saat belajar semalam, ia tidak menemukan tulisan kapital dua huruf di buku tugas kimianya.
"Gas? Ada PR?" Tanya Biru memberanikan diri setelah ia mempertimbangkan pertanyaan itu berkali-kali.
Bagas mendongakkan wajahnya, menatap Biru. Ia menggeleng dan kembali mencatat. Biru menghela nafas lega kemudian kembali menghadap papan tulis.
Entahlah, tiba-tiba saja Biru teringat perkataan Ivy kemarin; Bagas sering memperhatikannya.
Ia merasakan dirinya mulai aneh saat memikirkan hal itu. Keanehan terjadi saat ia terus memikirkan hal itu. Jantungnya berdegup dua kali jauh lebih cepat dengan ritme tak seimbang, tangannya dingin dan... Ada rasa, um, bahagia dalam hatinya (mungkin). Semakin di pikirkan, gadis itu semakin melangkah mundur dalam memorinya. Teringat hari pertamanya bersekolah. Ia ingat betul kejadian itu. Ia ingat sekali bagaimana jantungnya berdebar dan darahnya berdesir seperti apa yang ia rasakan saat ini. Ia ingat, sangat ingat bagaimana dirinya merespon kejadian itu.
