Ch.14

1.1K 126 11
                                    

     Biru terus berlari, mencari tempat persembunyian yang aman untuknya. Beberapa pasang mata menatapnya aneh. Ia tidak menghiraukannya. Yang bersemayam dalam benaknya saat ini adalah 'Tempat bersembunyi'.

     Kakinya terasa sangat lemas untuk berlari, darah yang mengalir seakan tak memberikan toleransi.

      Bingung harus kemana, gadis itu memutuskan untuk berhenti di sebuah koridor yang cukup sepi. Koridor menuju laboratorium dan perpustakaan di lantai 1.

      Biru menyandarkan tubuhnya.

     Matanya terpejam, menahan sakit yang menusuk di sekitar kepalanya. Seakan teringat sesuatu, ia merogoh saku roknya dan menarik sebungkus tisu yang sengaja ia bawa dari rumah. Menarik selembar tisu dan mengelap darah yang masih terus mengalir.

     "UNTUK SELURUH SISWA, DI HARAPKAN SEGERA BERKUMPUL DI LAPANGAN UNTUK MELAKSANAKAN UPACARA BENDERA!" Perintah itu menggema ke seluruh penjuru SMA Bina Karya.

     Biru yang mendengar suara perintah tersebut yang di ulang tiga kali berturut-turut dari speaker di setiap sudut untuk segera upacara, hanya bisa menghela nafas. Tidak mungkin ia ikut upacara dalam keadaan seperti ini.

      Dari tempatnya bersandar ia bisa melihat para petugas upacara yang masih berlatih, segerombolan siswa yang berjalan tergesa menuju lapangan dan segera membentuk barisan, juga Bu Razma yang berdiri tepat di ujung koridor dimana Biru saat ini bersembunyi.

     Mata Biru membulat penuh. Tunggu. Apa? Yang berdiri di ujung koridor adalah Bu Razma? Bu Razma! 'Bencana!' Batinnya kalut.

     Bu Razma tampak teliti memantau siswa-siswi yang barisannya sedang di atur oleh Bu Nuri, guru baru kelas 10. Sesekali wanita paruh baya pecandu marah itu (baca: Bu Razma) berteriak, memarahi barisan siswa lelaki yang sulit di atur.

     Jantung Biru berdegup kencang, 'Plis, Bu. Jangan nengok atau lewat sini, jangan.' Batin Biru cemas.

     Namun kenyataan berkata lain. Bu Razma menoleh ke arah koridor dan mendapati Biru yang tengah tertunduk takut sambil terus mengelap hidungnya.

     "Hey! Kamu!" Suara tegas Bu Razma yang tertuju pada Biru membuat bulu kuduk gadis itu berdiri.

     "Sedang apa kamu?! Cepat turun dan baris ke lapangan!" Ujar Bu Razma dengan nada tinggi. Matanya berkilat tajam menatap Biru yang hanya meliriknya takut-takut.

     Biru mengangguk pelan.

     "Cepat!" Bentak Bu Razma menggema, yang membuat Biru berlari terbirit-birit menuju lapangan.

      Saat langkahnya melewati tubuh besar Bu Razma, Biru semakin mempercepat laju larinya tanpa berani menoleh kepada Bu Razma yang pasti sedang menatapnya, dengan tatapan membunuh dan segera berbelok untuk menuruni anak tangga.

     "Untung udah selesai." Kata Biru pada tisu yang bersimbah darah. Lalu membuangnya ke tempat sampah di pinggir lapangan dan langsung membentuk barisan.

     Di lain tempat,

     Nafas Bagas memburu.

     Tubuh tingginya membungkuk, tangan kanannya menekan dada, sementara tangan kirinya sibuk menyapu peluh di dahi. Rambut yang sudah tertata rapi kini harus acak-acakan lagi.

BIRU [HIATUS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang