Sesampainya di sekolah Biru, Haikal dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Biru keluar dan menopang tubuhnya, menuntun Biru berjalan menuju kelas.
Terlihat dengan jelas beberapa orang memperhatikan Biru dan Haikal begitu heran, ada juga yang memperhatikan sinis sambil saling berbisik kepada teman-temannya.
Sebenarnya, wajar saja jika hal itu terjadi. Toh, Haikal memang terbilang 'agak' tampan dengan wajah yang agak ke-bule-an (Mungkin faktor tinggal cukup lama di Perancis.)
"Kal, gue udah nyuruh Ivy buat jemput gue. Udah, lo balik aja." Perintah Biru sambil meneliti ke sekeliling.
"Ha? Kok gitu? Lo malu, ya? Iya gue tau gue jelek, Ru." Tanya Haikal dengan wajah mendramatisir. Biru melongo dengan alis ditekuk.
"Yang bilang lo jelek siapa?" Biru mendelik.
"Berarti gue ganteng?" Tanya Haikal dengan wajah berserinya.
"Enggak juga malah." Jawab Biru dengan wajah datarnya. Biru tak memedulikan wajah gemas yang ditunjukkan oleh Haikal.
"Yaudah, dimana Ivy? Gue anter lo ke si Ivy itu."
Biru menyipitkan mata, menyapu pandangan. Barangkali, Ivy tak sengaja melintas di depan mereka lalu dengan mudah Biru bisa memanggilnya dan dirinya langsung berpindah ke tangan Ivy dan meninggalkan si laknat itu berdiam diri di tempat tanpa peduli bagaimana ekspresinya nanti.
Sayangnya, itu hanya sebuah ekspetasi.
Sudah berkali-kali Biru mencoba spam chat dan menelepon Ivy, namun temannya yang bawel itu tidak membalas maupun menjawabnya, menghampirinya pun tidak. Dengan satu helaan napas, Biru mengiyakan tawaran Haikal untuk mengantarnya sampai kelas.
Sesampainya di depan pintu kelas, gadis cantik itu meminta Haikal untuk membiarkannya dan meminta tolong untuk membantunya berjalan kepada Naura yang kebetulan sedang membuang sampah.
"Yaudah, get well soon, laknatku. Bye!"
Mendengar kata 'laknatku' sontak membuat Biru melotot dan masih sempat-sempatnya gadis itu memukul lengan Haikal. "Lo, tuh!" Haikal hanya cekikikan dan berlalu pergi.
"Kaki lo kenapa, dah? Tadi itu siapa? Kok ganteng, ya? Pacar lo, ya? Sweet gitu 'kok sama lo, itu pasti pacar lo." Cerocos Naura sambil menuntun Biru berjalan ke arah bangkunya. Biru menggeleng kuat-kuat. Mana mungkin gadis kalem sepertinya berpacaran dengan lelaki laknat nan mesum seperti Haikal? Ya, walaupun bisa saja terjadi, namun tidak mungkin bagi Biru sendiri.
"Dia old bestie gue," Ujar Biru sambil mencoba mencari posisi duduk yang nyaman. Naura sendiri hanya ber-oh ria.
"Thanks, ya!" Naura mengangguk sambil mengacungkan dua jempol dan segera berlari keluar kelas.
Biru menoleh ke bangku di sampingnya, tak ada Ivy maupun tasnya. Kemana gadis rewel itu? Padahal ia bilang ia akan menjemput Biru di halaman sekolah, tetapi pada kenyataannya? Ia belum datang ke sekolah. Padahal bel sudah berbunyi sejak Biru menempelkan bokongnya ke kursi.
Baru saja batin Biru sibuk bertanya-tanya tentang kemana Ivy. Si gadis rewel itu datang dengan nafas terengah-engah dari ambang pintu kelas. Tangannya lurus ke depan, meraba-raba, mungkin mencari benda yang bisa ia pegang untuk menopang tubuhnya.
"Ivy?! Lo kemana, sih?" Protes Biru tanpa memedulikan Ivy yang tampilannya sudah acak-acakan dengan napas yang tidak terkendali.
"Loh... Diem... Dul... Hu...," Ivy menempelkan jari telunjuknya di bibir Biru.
