Ch.5

1.5K 174 0
                                    

     "Gila capek banget!" Biru merenggangkan otot-ototnya yang kaku.

     Betisnya terasa sangat kaku, bayangkan ia dan Ivy mengitari mall selama 3 jam tanpa istirahat, benar-benar menguras tenaga bagi Biru. Berbeda dengan Ivy yang seolah memiliki tenaga cadangan untuk terus mengitari mall tanpa ada cita-cita untuk duduk sebentar sekedar melemaskan otot betis mereka.

     Drrrtt...

     Ponsel Biru bergetar, buru-buru ia mengeceknya.

     Ivy.K.Ananta : Makasih beb dah nemenin gueeee, luv u omatz eakz ;;*

     Biru Crystalia : Gak lagi -_-

     Biru melempar ponselnya ke kasur usai membalas chat dari Ivy.

     Biru terduduk lemas di balik meja belajarnya.

     Ia memandangi tiga bungkusan di atas kasurnya. Di mall tadi, ia sengaja mampir ke toko buku sebentar untuk membeli beberapa buku novel yang sedang laris di pasaran dan buku-buku lainnya, sisanya adalah pakaian-pakaian yang menarik perhatiannya yang ia beli dengan harga cuci gudang.

     Berbeda dengan Ivy yang belanja banyak pakaian, kosmetik, parfum dan alat kecantikan lainnya.

     Biru melirik jam dindingnya, sudah pukul 19.25 dan ia teringat bahwa ia belum mandi juga belum belajar.

     Semua tugasnya terbengkalai hari ini, Biru menghela nafas gusar.

     Maka, ia memutuskan untuk mandi dan mengerjakan tugasnya walau sebenarnya ia sangat lelah.

     Tok... Tok... Tok...

     "Non Biru sudah makan belum? Nyonya baru pulang, nyonya ingin bertemu non Biru."

     Biru terdiam dengan pulpen di tangan. Bunda pulang?

     Hatinya berkata ingin menemui Bundanya, namun logikanya justru menolak perkataan si hati.

     Hati dan logika memang terkadang tidak sejalan.

     "Non Biru..." Ketukan dan suara Bik Ratih kembali terdengar.

     Biru menekan dadanya, rindu di hatinya semakin dalam, ia rindu Bundanya bagaimanapun juga.

     "Biru capek, Bik!" Sahut Biru dari dalam kamar.

     Itu bukan jawaban dari dalam hatinya, ia memang lelah, namun seharusnya tidak ada alasan apapun untuk bertemu dan sekedar bertatap muka dengan orang yang paling di rinduinya. Biru menggeleng lemah. Air matanya menetes, tetesan air matanya jatuh ke atas buku tugasnya.

     "Tapi, Non..."

     "Biru..."

     Biru menelan ludah.

     Suara Karin yang lembut memanggil Biru, suara yang sangat Biru rindukan selama ini.

     Biru semakin terisak, ia ingin segera keluar kamar dan memeluk Karin erat untuk melampiaskan kerinduannya.

     Namun, logika nya tetap melarang keras.

    "Sayang, keluar bentar nak, ada yang mau Bunda bicarakan."

     Biru mengusap aliran air mata di pipinya kemudian mencoba mengatur nafas nya yang tersengal.

     Ia berdiri dan berjalan menuju pintu kamar, melawan logikanya.

    Cklek!

     "Ikut Bunda ke ruang keluarga." Ujar Karin sambil lalu.

     Biru mematung. Ia bahkan tidak mengenali Karin sama sekali, Karin bukan seperti Karin yang dulu.

BIRU [HIATUS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang