Cklek
Pintu ruangan laki-laki itu terbuka, Bryant Delton, seorang psikolog muda, sebenarnya dia tidak bekerja di tempat praktik ini. Hanya saja dia harus menggantikan sepupunya yang sedang memiliki urusan lain.
Bryant mendongak melihat siapa yang membuka pintu ruangannya.
Bola matanya terbuka lebar, "Lo?!" Ia melihat seorang perempuan yang mirip dengan perempuan yang menabraknya tadi. Ini dia? Tapi kenapa rambut dan bajunya berbeda? pikirnya.
"Saya? Saya kenapa, dok?" Perempuan itu adalah Alreni.
"Lo yang nabrak gue tadi, kan?"
"Buk--" ucapan Alreni terpotong karena pintu ruangan Bryant yang terbuka. Memperlihatkan seorang perempuan yang masuk kedalam ruangannya, Alrine.
"Maaf gue telat," ucap Alrine, "Om?!" teriaknya melengking ke seluruh ruangan.
Kok ada dua? Yang nabrak gue tadi, siapa? pikir Bryant.
"Om yang tadi nabrak saya, kan?! Main kabur aja badan kayak tembok nabrak-nabrak, tangan saya nih. Gak minta maaf lagi cepetan minta maaf kalo gak om bakal saya aduin ke--" cerocos Alrine terhenti karna dibekap Alreni.
"Diem! Kita ke sini mau konsultasi bukan adu bacot," ucap Alreni dan melepaskan bekapan tangannya
"Ish, iya iya,"
"Jadi siapa yang namanya Alrine?" tanya Bryant to the point setelah melihat data pasiennya.
"Dia dok," jawab laki-laki yang berada didepan Bryant, dia Alrian, sambil menunjuk Alrine.
Bryant beralih menatap perempuan yang ditunjuk.
"Okey, pertama, silahkan beritahu tentang alter egomu," Bryant menjeda, "dan kedua, maaf sudah menabrak kamu, walau sebenarnya kamu yang nabrak saya,"
Alrine yang mendengar perkataan terakhir Bryant, melotot tak terima. Baru saja ia ingin membalas Bryant, namun Alrian mencubit lengannya.
Alrine mendengus kesal, "Nama alter ego saya yang pertama Kara dia sifatnya cuek, pendiam, dingin dan yang kedua Sierra sifatnya mirip dengan saya, namun bisa dilihat dari iris mata," Alrine menunjuk iris matanya, "Jika iris maya saya berwarna cokelat terang, maka Sierra berwarna hitam. Dia psikopat, suka membunuh. Don't mess with her,"
Alter ego psikopat? Menarik pikir Bryant.
"Baiklah, apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Akhir-akhir ini saya merasa mirip dengan Sierra. Misalnya, saya yang dulunya takut dengan film horror apalagi tentang pembunuhan, tapi kini saya gak merasa takut sedikit pun tentang hal seperti itu,"
"Begini, saya telah menangani 3 kali kasus Alter ego seperti ini dan ini adalag pertama kalinya ada alter ego yang mempunyai kelainan jiwa psikopat, menurut saya Sierra tidak sepenuhnya 'tidur' dalam diri kamu. Dia seperti bersembunyi, saya tidak dapat memastikan akibat dari hal tersebut," Bryant menjeda, "untuk itu kamu harus berhati-hati agar menjauhkan hal-hal yang membuatnya 'terbangun' untuk itu saya harus memantau kamu, sekaligus membantumu mencegah
dia 'terbangun'."
"Baiklah, jika itu yang dokter sarankan,"
"Oke mulai besok saya akan mulai memantau kamu,"
_÷_
Klek
Seorang wanita berumur 43 tahun membuka pintu kamar Alrian. Ia melipat kedua tangannya didada saat melihat ketiga anak dan keponakannya tertidur pulas dikasur Alrian yang cukup besar.
"ALRIAN! ALRENI! ALRINE! BENAVO!!" teriak wanita itu sambil menarik selimut yang digunakan oleh keempat orang tersebut.
Sontak keempat remaja itu terbangun sambil memegang telinganya masing-masing.
"Aduhh mah, bisa gak pake teriak-teriak segala? Emang mama mau anak mama yang cantik imut dan suka menabung ini budek?" Alrine terbangun dan langsung mengomeli mamanya sambil mengusap-usap telinganya. Rambutnya acak-acakan dengan muka bantalnya.
"Abisnya kalian udah siang belom bangun, cepat mandi trus sarapan dibawah!" tegas Andina kemudian keluar dari kamar.
Mereka yang tadinya sudah bangun, langsung kembali tidur.
"KALIAN TURUN ATAU MAMA YANG NARIK PAKSA KALIAN TURUN?!" teriak Andina dari meja makan.
"Iya-iya, ma,"
"Iya, tante." jawab mereka kompak.
_÷_
Lionel, Revan, Fendy, dan Kevin sedang bermain basket yang berada dilapangan dekat rumah Leo. Teriknya sinar matahari tak mengganggu keempat laki-laki ini. Para wanita yang berada ditaman dekat lapangan tampak setia memperhatikan mereka, bagaimana tidak? Tubuh mereka yang sixpack dibaluti jersey basket melekat sempurna ditambah permainan basket mereka yang memukau.
"Van, bolanya sini," pinta Lionel, Revan pun melempar bola kepadanya dan langsung di tangkap.
Lionel mengambil ancang-ancang untuk melakukan three-point dari tengah lapangan. Namun sayang, bola itu terpantul ke papan ring dan mengenai ice cream yang dipegang perempuan yang sedang berjalan sidewalk taman terlempar ke tanah.
"Owhh," Ringis teman-temannya.
"Udah jodoh, kalian," Fendy menimpali sambil menepuk pundak Lionel.
Lionel berlari pelan menuju perempuan yang terkena bolanya. Sementara perempuan itu mengepalkan tangannya disertai muka kesalnya seolah-olah akan memakan Lionel.
Bakal panjang, nih, masalahnya batin Lionel meringis.
~●~
REVISED
-10 Juni 2017-
KAMU SEDANG MEMBACA
Alrine (End)
Mystery / Thriller[PART MASIH LENGKAP] Rating : 15+ Genre : Mystery/Thriller, Teen Fiction. Alrine adalah seorang gadis berumur 16 tahun yang menderita penyakit mental DID (Dissociative Identity Disorder) atau gangguan kepribadian, ia hanya ingin menjalani kehidupan...
