Gak seram kok, tenang aja.
Sierra POV
"Aku hanya sembunyi, Pak Tua." ucapku pada kepala polisi sialan itu. Membangunkanku dengan cara menyetrum Rin? Salah, sangatlah salah. Kau beruntung, Pak Tua, ada orang yang menyelamatkanmu saat aku mencekikmu, dan saat aku menggigit telingamu.
Ferron -ah ya fyi, aku malas menghormati orang, apalagi yang menggangguku- Jadi, kupanggil Ferron saja Pak Tua itu. Darimana aku bisa tahu namanya? Aku tahu dari papan nama seragam polisinya, Ferron Ryan. Ayah dari salah satu orang yang sudah kukirim ke neraka, aku sangatlah muak dengan orang-orang yang suka menyiksa yang lebih lemah darinya, -ya walaupun aku sama juga, sih.- tapi percayalah, yang kubunuh hanya orang yang menggangguku, selama kau tidak mengangguku kau dapat hidup dengan tenang.
Dapat kulihat jelas wajah Ferron memucat, kutatap perban di telinganya lalu tertawa sambil memegang perutku.
"Kenapa kau tertawa, huh?" tanyanya heran, Reza; si psikiater yang berada di belakangnya pun ikut heran.
Aku menahan tawaku, "Telingamu tinggal satu ya? Kasihan." ejekku lalu tertawa.
Ia menggeram marah dan memukul keras pintu sel yang membatasi kami. Wajahnya merah mungkin malu, dan urat-urat di lehernya menonjol -uh aku ingin memutuskannya-.
"Tenang, Pak Tua. Jika pintu ini rusak, kau akan lebih cepat menyusul anakmu," aku mencibir.
"Ku jamin, kau akan sangat menderita disini!" ucapnya marah sambil menunjukku.
"Oh ya?" Aku berpura-pura takut, "sebaiknya kau harus bergegas." aku tersenyum misterius.
"Anyway, Reza, boleh ku tahu ini tanggal dan jam berapa?" tanyaku kepada Reza yang berada di belakang Ferron.
Reza melihat jam tangannya dan ingin menjawab, namun Ferron memotong, "kenapa kau bertanya tentang itu?" Huh, lama-lama ku potong anu-mu itu.
"Aku bertanya pada Reza, Pak Tua. Sudah tua, pemarah, kepo juga!" ucapku kesal.
"Jam 05.45 sore, tanggal 1 Mei 2017." jawab Reza singkat.
"Yasudah, terima kasih, bolehkah kalian meninggalkanku disini? Aku jijik melihat urat-uratmu yang menonjol, Pak Tua." celetukku.
Reza terkekeh mendengar celetukanku kemudian terhenti karena ditatap tajam oleh Ferron.
"Aku pergi dulu, kau lakukan tugasmu!" perintah Ferron dan memberikan sebuah kunci, sepertinya kunci sel ini kepada Reza, kemudian langsung pergi. Dia pasti sangat kesal, rasakan itu.
Reza pun memasukan kunci itu dipintu sel dan membuka pintu sel lalu masuk kedalam selku.
"Aku akan menanyakan beberapa pertanyaan padamu, ku harap kau menjawabnya." Reza duduk melantai dengan kaki bersila, aku pun mengikutinya.
"Baiklah,"
"Sebelumnya, kau cukup cerewet untuk seorang pembunuh sadis," Reza terkekeh.
Aku mencebikkan bibirku, "Lalu aku harus apa? Diam saja dan pasrah kepada Pak Tua itu? That ain't me." ucapku santai.
"Menarik, kau orang pertama yang membuatnya kesal karena kalah berdebat," Reza mengeluarkan note kecil dan sebuah pulpen dari sakunya.
"Kita mulai, pertanyaan pertama, misalkan kamu sedang berjalan, kemudian kau melihat kerumunan orang dan polisi sedang mengidentifikasi mayat korban penikaman. Menurutmu dimana saja sang korban ditikam?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Alrine (End)
Mystery / Thriller[PART MASIH LENGKAP] Rating : 15+ Genre : Mystery/Thriller, Teen Fiction. Alrine adalah seorang gadis berumur 16 tahun yang menderita penyakit mental DID (Dissociative Identity Disorder) atau gangguan kepribadian, ia hanya ingin menjalani kehidupan...
