Author POV
Hanya 2 kata dari Sierra sukses membuat Alrian dan Ben diam mematung.
"Udah jelas kan? Gue ke kamar dulu," Sierra pergi masuk ke dalam rumah.
"Ren, jelasin ada apa?"
"Tadi kita mau jalan pulang ke rumah trus mobil kita dihadang sama tiga preman salah satu preman mau nyerang gue tapi malah Rin yang kena soalnya dia ngedorong gue mundur, Singkat cerita Sierra muncul dan ngebunuh ke tiga preman itu," jelasku dan mereka bergedik ngeri saat aku menceritakan kejadian tadi.
_÷_
Kini Sierra berada di dalam kamar mandi kamar Alrine. Ia memejamkan matanya, kemudian membuka matanya perlahan. Warna iris matanya berubah yang awalnya berwarna hitam telah berubah menjadi cokelat terang, iris mata milik Alrine.
Bau anyir darah tercium oleh indra penciumannya. Kedua tangannya membekap mulutnya, ia mulai terisak.
Berapa lagi nyawa yang melayang di tanganku? batin Alrine.
Ia menatap ke arah cermin full body yang berada didalam kamar mandi.
Ada 2 bayangan orang yang wajah mereka mirip dengannya.
"Hai Rin! Makasih, udah ngasih tubuh lo buat gue pake ngebunuh orang," ucap salah satu bayangannya yang ber-aura pekat, Sierra.
"Lo bikin gue jadi pembunuh, Sierra! Udah cukup papa yang jauhin gue, jangan lagi yang lain!" Alrine mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Gue cuma lindungin lo sama Ren, kok. Lo dan Ren gak akan aman disini, kalau gue gak bunuh preman-preman sialan itu,"
Alrine tak membalas, ia tenggelam dalam pikirannya.
"Gue dan Kara ada, supaya gantiin lo saat lo gak sanggup,"
"Lo itu lemah, Rin. Lo rapuh," ucap bayangannya yang satunya, Kara.
"Dan kami bakal ada, sampai lo sanggup, tanpa adanya kami."
_÷_
Alrine sedang bersama dengan Alreni, Alrian dan Ben diruang keluarga yang berisikan sofa, televisi berukuran besar, dan matahari yang dengan leluasa menembus kaca tembus pandang ruangan ini.
"KAK IAN! BALIKIN AYAM GUE!" Alrine melompat-lompat meraih ayam yang di tangan Alrian. Tubuh Alrian yang tinggi membuatnya kesusahan.
"Eit, siapa cepat dia dapat, lo gak cepat gue berarti yang dapat,"
"Syuttt! Diem deh gue lagi nonton," teriak Ben dan melempar kacangnya tepat kepalanya Alrian.
"Biasa aja kali," gerutu Ian sambil mengusap usap kepalanya, "gak usah lempar-lempar kacang."
"Elo sih! Sama adek sendiri dijailin,"
"Kak Ben emang kakak paling baik sejagat raya," ucap Alrine dengan nada yang dibuat-buat sambil mencibir Alrian.
"Ckckc punya sodara ko alay-alay gini, ya?" gumam Alrian.
"GUE DENGER!!" teriak Alrine dan Ben bersamaan.
"Wihh kompak juga,"
Alreni menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar adu mulut saudara-saudarinya, ia merasa bosan dengan saluran yang hanya menayangkan berita gosip, Membosankan batinnya, ia mengambil remote di meja kaca dan mengganti-ganti saluran. Sampai ia menemukan saluran yang membuatnya mematung.
"Telah ditemukan 4 mayat yang diduga dibunuh secara sadis, polisi masih sedang siapa yang telah membunuh keempat mayat yang di identifikasi adalah preman didaerah sekitar, karena tidak ditemukan sidik jari ataupun bukti-bukti lainnya. diduga pelaku ber-inisial 'S' karena ada huruf 'S' pada wajah di salah satu korban yang wajahnya telah hancur hingga tak dikenali. Masyarakat dihimbau untuk berhati-hati pada pembunuh sadis yang sedang berkeliaran...."
KAMU SEDANG MEMBACA
Alrine (End)
Mystery / Thriller[PART MASIH LENGKAP] Rating : 15+ Genre : Mystery/Thriller, Teen Fiction. Alrine adalah seorang gadis berumur 16 tahun yang menderita penyakit mental DID (Dissociative Identity Disorder) atau gangguan kepribadian, ia hanya ingin menjalani kehidupan...
