Chapter9

394 32 2
                                        

Di bawah rintikan hujan, Nata melaju dengan motornya tanpa mempedulikan hujan yang datang semakin deras. Isi pesan dari Damar masih berputar dengan jelas di dalam otaknya.

"Ra, gue udah putus sana Rena. Kalau lo nggak keberatan, gue mau perjuangin lo lagi."

Begitulah isi pesan yang Damar kirim untuk Ara. Tak perlu tanyakan bagaimana perasaan Nata saat ini. Yang terpenting adalah Nata butuh seorang teman yang mau diajak cerita tentang permasalahannya.

Nata menghentikan laju motor hitamnya, ia berhenti di depan rumah bercat biru tua. Langkah kakinya membawa Nata untuk datang kemari. Biasanya Nata selalu datang ke rumah Ronald. Tapi tidak untuk kali ini.

Nata mengetuk pintu rumah, berharap bahwa sang pemilik rumah ada di dalam.

"Nata?"

Ya, Nata memilih Ana sebagai teman untuk ia ajak bercerita.

"Nat, lo udah gila ya? Di luar lagi hujan dan lo ngapain kesini? Terus lo nggak pake jas hujan pula. Emangnya ada--" ucapan Ana terputus. Nata langsung memeluk Ana dengan erat.

"Gue nggak buta, gue juga tau kalau di luar lagi hujan. Kalau lo nggak keberatan, gue boleh peluk elo, kan? Sebentar aja."

Irama detak jantung Ana mulai berdegup lebih cepat. Untuk pertama kalinya ada seorang lelaki yang memeluk Ana, ia mengangguk dan membalas pelukan Nata.

-----

"Gue tau kok, elo cemburu kalau suatu saat nanti Damar nembak Ara?" Tebak Ana tepat pada sasarannya.

Nata langsung menggelengkan kepalanya. "gue nggak cemburu. Lagipula gue nggak ada hak buat ngatur Ara mau pacaran sama siapa dan gue juga nggak ada hak buat cemburu."

"Nggak usah munafik. Elo sama Ara udah sahabatan sejak kelas satu SMP. Gue yakin, diantara kalian pasti pernah punya perasaan lebih dari teman. Nggak ada sejarahnya cewek sama cowok bisa bertahan pada perasaan teman aja. Pasti salah satunya pernah punya perasaan suka."

Nata diam seribu bahasa, ucapan Ana memang benar sepenuhnya.

"Oh iya, lo ganti baju dulu deh. Nanti baru dilanjutin lagi ceritanya. Gue mau ke dapur dulu. Lo mau minum apa?" tanya Ana sambil memberikan pakaian milik Damar kepada Nata.

"Terserah elo aja."

Setelah Nata mengganti pakaiannya, ia mencari keberadaan Ana di dapur. Gadis itu tengah membuat teh dan roti bakar sambil mendengarkan lagu. Tubuh Ana menari mengikuti alunan lagu. Layaknya balerina yang sedang menari di atas panggung.

Nata hanya tertawa kecil melihat tingkah laku Ana. Bahkan Ana tidak menyadari kedatangan Nata yang sekarang sudah berada disampingnya.

Ana mulai kehilangan keseimbangannya dan terjatuh di lantai. Ana meringis kesakitan dan berusaha untuk berdiri.

Nata mengulurkan tangannya untuk membantu Ana berdiri. "Lain kali hati-hati," ucap Nata.

"Sejak kapan lo ada di sini?" tanya Ana sambil menahan malu.

"Sejak kapan ya? Kayaknya sejak lo muter-muter sambil nari nggak jelas gitu."

Ana berusaha untuk menutupi rasa salah tingkahnya.

"Lo lagi buat apa sih?"

"Teh sama roti bakar."

"Ada yang bisa gue bantu?"

"Nggak ada kok. Sebentar lagi juga selesai, lo duduk aja di ruang makan. Nanti gue nyusul."

Nata menghiraukan ucapan Ana. Ia terus menatap Ana, ia terlihat manis dengan mengenakan kacamata minus.

Tentu saja Ana bisa merasakan jika Nata sedang memperhatikan dirinya. Ia menghela napas dan berusaha untuk tidak terlihat salah tingkah.

"Nat, lo ke ruang tamu sana. Daripada lo bengong disini."

"Sejak kapan lo pakai kacamata?" tanya Nata.

"Udah lama sih, sekitar dua tahun yang lalu."

"Kok gue nggak pernah tau?"

"Karena lo nggak pernah nanya."

"Tapi gue juga nggak pernah lihat elo pakai kacamata di sekolah."

Ana melepaskan kacamata minusnya. "Soalnya gue malu kalau pakai kacamata di sekolah."

Nata mengerutkan dahinya. "Kenapa harus malu? Emangnya salah kalau elo pakai kacamata?"

"Gue nggak pede aja. Soalnya gue keliatan-"

"Keliatan apa? Keliatan jelek, cupu atau kaya anak kuper? Na, emang udah dasarnya kalau lo itu cantik. Mau lo pakai kacamata atau enggak, tetap aja lo keliatan cantik."

"Ucapan lo itu jujur atau cuma buat nenangin hati gue aja?" sindit Ana.

"Gue nggak bohong, suwer deh! Kalau lo nggak percaya, coba aja lo tatap mata gue." Kedua mata Nata menatap mata Ana. Mau tak mau Ana juga menatap Nata.

"Sekarang udah percaya kan?" tanya Nata. Ana hanya mengangguk kikuk.

"Gue ke ruang makan dulu ya. Oh iya, roti bakarnya gosong."

Ana membulatkan kedua matanya dan melihat roti bakar yang sudah gosong. Ia menepuk jidatnya. Ana bisa mendengar suara tawa yang berasal dari bibir Nata.

-----

"Hujan udah reda. Habis ini lo mau pulang atau mau cerita lagi?" tanya Ana.

"Gue mau nginep di sini."

"Nat, jangan ngaco deh. Bunda gue pulang jam sepuluh malam. Nanti gue sama elo disangka yang enggak-enggak lagi sama tetangga."

"Kenapa harus peduli? Kita kan nggak ngelakuin apapun."

"Nat, ini bukan waktunya buat bercanda."

"Yaudah kalau gitu gue nungguin orang tua lo pulang aja. Ngomong-ngomong bunda lo kerja dimana?"

"Bunda jadi desainer di butiknya sendiri."

"Kalau ayah lo?"

Tiba-tiba selera makan Ana hilang seketika. "Ayah jadi pengacara."

"Oh ya? Ayah lo keren banget. Kapan-kapan gue mau ketemu nih sama ayah lo. Gue pengen banget ngebahas soal hukum gitu. Soalnya ayah gue tuh nggak pernah nyambung kalau diajakin ngobrol seputar tentang hukum."

"Nat, dengerin gue dulu-

"Jadi kapan ayah lo pulang?"

Ana menghela napas. "Orang tua gue udah cerai. Ayah gue nggak akan pulang ke rumah. Beliau udah bahagia sama keluarga barunya."

Suasana hening seketika, Nata menjadi merasa bersalah dengan Ana.

"Sori, gue nggak tau."

Ana hanya mengangguk sambil menahan tangisnya, Nata segera beranjak dari tempat duduknya dan memeluk Ana.

"Lo boleh cerita sama gue," ucap Nata sambil mengusap rambut Ana.

Hati Untuk AraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang