Chapter2

866 64 23
                                        


"Pagi cantik," sapa Nata di depan pintu pagar Ara.

Ara hanya melihat Nata sekilas dan kembali menyiram tanamannya.

"Ra, minggu depan kita udah masuk SMA. Gue belum rela pisah sekolah sama elo. Untungnya kita masih satu yayasan, rumah kita dekat dan ibu kita bersahabat. Lo tau nggak? Itu termasuk tanda-tanda jodoh."

"Gue jodoh sama Elo? Ogah! "

Nata tertawa kecil. "Ra, kenapa sih lo milih SMA Adipura? Kenapa lo nggak satu sekolah sama gue? Ngomong-ngomong lo udah tahu info tentang Damar? Dia sekolah di SMA Adipura. Dia nggak jadi sekolah di malaysia." Penjelasan Nata membuat Ara menghentikan aktivitasnya.

Ara menatap Nata.

"Lo ngggak bercanda?"

"Lo selalu tertarik buat ngomong sama gue kalau topik pembicaraannya Damar. Lo masih sayang sama dia?" tanya Nata dengan nada cemburu.

Wajar jika Nata cemburu. Nata menyukai Ara, tapi Ara masih menyimpan perasaan pada Damar.

Ara membuka pintu pagar dan menyuruh Nata masuk dan duduk di kursi.

"Nata, lo tahu info tentang Damar dari siapa?"

"Dari ratu gosip di SMP."

"Abel?"

Nata mengangguk.

"Kayaknya gue harus mulai semuanya dari awal deh sama Damar. Nggak seharusnya gue marah sama dia gara-gara Damar nggak suka sama gue. Kita udah dewasa, nggak seharusnya gue masih bersikap kaya anak kecil."

"Lo yakin, Ra?"

"Yakinlah!"

"Gue setuju kalau lo punya niat buat mulai berteman lagi sama Damar. Tapi gue takut kalau suatu saat nanti lo jadi milik Damar."

Ara menghela napas, Nata sangat menyukai Ara.

"Gue tau elo belum bisa move on dari Damar. Selama ini gue cuma jadi pelampiasan elo aja. Suatu saat nanti Damar pasti datang lagi buat jemput elo dan gue harus berjalan mundur buat ngelupain elo," ucap Nata dan beranjak pergi meninggalkan Ara.

-------
Nata menunggu kedatangan Ara di depan pagar rumah Ara. Nata sudah tak sabar ingin melihat gadis itu mengenakan seragam putih abu-abu untuk pertama kalinya.

Kemarin Nata berhasil mengambil foto Ara yang mengenakan atribut MOS. Hari ini, ia akan mengambil foto Ara dan dirinya untuk di pajang di kamar.

Ara melihat Nata dari balik jendela. Ara mendengus kesal, laki-laki itu pasti ingin melihatnya mengenakan seragam putih abu-abu dan mengajaknya untuk foto bersama.

Ara kembali melihat kondisi di luar rumahnya, Nata sudah pergi. Ara menghela napas lega dan melangkah keluar rumahnya.

"Pagi cantik. Foto sama abang yuk! Gratis loh." Goda Nata yang muncul dari semak-semak.

"Gue mau sekolah."

"Ih jutek banget. Sekali aja deh."

"Enggak!"

"Mau yaa?"

"Enggak."

"Please."

"NATA!!!" Bentak Ara yang membuat Nata terdiam.

"Gue cuma mau foto bareng sama pacar gue sendiri. Apa salahnya sih?" tanya Nata.

"Nat, lo bukan pacar gue. Lo nggak bisa maksa gue buat foto sama lo."

"Lo bilang kalau gue bukan pacar lo? Astaga! Bisa nggak sih elo anggap gue pacar lo? Bisa nggak sih kita jalin hubungan yang sewajarnya?!" Emosi Nata.

Hati Untuk AraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang