"Udah dong nangisnya, udah jam dua pagi nih. Lo nggak mau tidur? Nanti siang lo ada persami di sekolahan," ucap Denis yang menenangkan Ara.
Entah apa alasan Ara menangis. Yang Denis tau, adiknya menangis setelah pulang dari rumah Nata.
"Sebenarnya yang salah itu gue atau dia sih."
"Dia itu siapa, Ra? Cerita dong."
Ara menghapus air matanya. "Percuma gue suka sama dia kalau ternyata perasaan dia bukan buat gue lagi."
"Lo ngomong apa sih? Gue makin nggak ngerti."
"Udah ah gue mau tidur. Elo pergi sana, gue mau tidur nih."
Denis menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku adiknya. "Yaudah lo tidur deh. Jangan nangis lagi, kalau lo mau cerita-
"Jangan ngomong mulu! Cepetan sana keluar!" usir Ara.
-------
"Woy, lo ngapain nyuruh gue ke perpustakaan?" tanya Ronald dan duduk di samping Ara.
"Gue mau minta tolong."
"Mau minta tolong apa?"
"Tolong kasih ini ke-
"Oh, lo mau nyuruh gue kasih slayer ini ke Damar, gue pikir lo mau minta tolong buat pinjem duit. Kenapa nggak ngasih langsung aja sih, gengsi ya?"
"Ron, gue belum selesai ngomong."
"Iya iya, lo pasti mau ngucapin makasih ke gue? Santai aja," ucap Ronald sambil menepuk pundak Ara.
"Ronald, dengerin gue ngomong dulu."
"Enggak enggak, lo harus dengerin curhatan gue dulu. Lo tau nggak, tadi pagi Nata cerita sama gue. Katanya dia mau nembak cewek," ucap Ronald berapi-api.
"Siapa?" tanya Ara penasaran.
"Siapa lagi kalau bukan Ana. Cewek yang lagi dekat sama dia itu cuma Ana. Masa iya dia mau nembak elo, nggak mungkin!"
"Yaudah gue pergi dulu ya, Ron. Jangan lupa kasih slayer ini ke Damar."
Ara berlari menuju kamar mandi, tak peduli sudah berapa banyak siswa yang ia tabrak saat ia lari tadi. Tak peduli berapa banyak omelan yang ia dapat dari siswa yang sudah ia tabrak.
Ara menangis sejadi-jadinya. Membuat siswi perempuan yang sedang berada di kamar mandi saling berbisik dan mencoba untuk menenangkan Ara.
"Ara, lo kenapa?" tanya Ana khawatir.
Setelah mendengar cerita dari orang-orang jika Ara berlari sambil menangis, Ana langsung menghampiri Ara.
"Gue nggak tau, An. Tiba-tiba kepala gue pusing," kata Ara berbohong dan memeluk Ana.
Ana berusaha untuk menenangkan Ara. "Udah jangan nangis lagi, sekarang kita ke UKS yuk. Lo istirahat di sana aja."
Ana merangkul Ara dan membawa Ara keluar dari kamar mandi.
"Dia kenapa, An?" tanya Nata tepat di depan kamar mandi.
"Sakit."
Tangan Nata menyentuh dahi Ara. Beberapa detik kemudian, Ara langsung menepis tangan Nata.
"Ra, lo sakit? Pulang aja yuk," ajak Nata.
"An, ayok kita ke UKS. Kepala gue makin sakit," keluh Ara kepada Ana tanpa merespon ucapan Nata.
"Nat, gue bawa Ara ke UKS dulu ya."
Nata mengangguk. "Tolong jaga Ara ya."
-------
Ara membuka kelopak matanya. Waktu menunjukkan pukul 4 sore. Sudah 2 jam ia tertidur di UKS.
"Masih pusing?" tanya Damar sambil menyentuh dahi Ara.
"Lumayan."
Kedua mata Ara menyapu seluruh sudut UKS. "Di sini cuma ada elo doang?"
"Tadi sih rame. Terus pada pergi ke aula."
"Tadi ada siapa aja?"
"Ada gue, Ronald, Ana, Ratu sama Aurel."
Ara menghela napas kecewa. "Nata nggak ke sini?"
"Enggak, lo makan dulu ya."
"Gue nggak laper. Mending elo aja yang makan."
"Kalau lo nggak makan, gue juga nggak mau makan."
Ara tersenyum tipis dan mengacak rambut Damar. "Lo rese ya."
"Katanya tadi lo nangis, kenapa?"
"Enggak."
"Ra?"
"I'm fine"
Suasana menjadi hening. Ara dan Damar terdiam dalam kesunyian.
"By the way, makasih untuk slayernya. Gue suka, itu buatan lo sendiri?"
"Iya, baguslah kalau lo suka," jawab Ara dan memaksakan senyum.
"Itu beneran buat gue?"
Ara mengangguk.
"Bukan buat Nata?"
Ara menggelengkan kepalanya dengan cepat dan kemudian ia tertawa hambar. "Kalau itu buat Nata, pasti udah gue kasih ke Nata."
Damar memberikan slayer berwarna merah pada Ara. Jari telunjuknya menunjuk ke arah sudut slayer yang bertuliskan huruf 'N'
"N untuk Nata bukan untuk Damar," ucap Damar.
"Maaf," lirih Ara sambil menundukkan kepalanya.
"Gue kembaliin barang yang bukan milik gue. Lagipula gue nggak butuh slayer, gue cuma mau-" Damar memberikan jeda sebelum melanjutkan ucapannya. "Gue cuma mau hati lo. Ra, lo mau jadi pacar gue?"
Berkali-kali Ara menelan ludah, tubuhnya menegang, seharusnya ia merasa senang karena Damar menyatakan cinta padanya.
Bukankah Ara selalu bermimpi jika suatu saat nanti Damar akan mengucapkan kalimat tersebut. Entah apa yang ia rasakan, hatinya terus menolak dan melarang bibir Ara untuk menjawab kata 'ya'.
"Gue nggak tau, Mar. Gue butuh waktu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Hati Untuk Ara
Novela JuvenilCerita ini tentang Nata yang jatuh cinta sendirian. Tentang Ara yang masih menyukai masa lalunya. Tentang Ana yang bertemu dengan Nata. Tentang Damar yang mencoba untuk memperjuangkan Ara. Dunia tahu jika Nata menyukai Ara. Bahkan dunia juga tahu ji...
