Suasana di dalam mobil menjadi canggung. Tidak ada suara yang keluar dari bibi Ara maupun Damar.
Damar sibuk menyetir mobil dan Ara sibuk dengan ponsel. Ada pesan masuk dari Nata yang belum ia buka.
Nata :
Ara, hari ini lo berangkat bareng sama Damar lagi?
Ara :
Cemburu?
Nata :
Percuma gue bilang kalau gue cemburu. Nggak ada pengaruhnya buat elo.
Ara :
Terserah.
Nata :
Lo dijemput pake apa? Mobil atau motor?
Ara :
Mobil.
Nata :
Lima menit lagi lo dengerin radio saluran 90.9 FM ya.
Ara mengerutkan dahinya. "Mar, gue boleh dengerin radio nggak?" Tanya Ara.
"Boleh, saluran berapa?"
"90.9 FM."
Jemari Damar langsung mencari saluran yang Ara inginkan.
"Hallo, selamat pagi dan selamat beraktivitas. Kembali lagi di radio 90.9 FM. Bersama saya, Shinta. Hari ini ada laki-laki yang mau berbagi kisah cintanya sama kita. Namanya, Nata dari Jakarta. Yuk kita langsung ajak Nata curhat."
"Halo, kak Shinta."
Ara membulatkan matanya ketika mendengar suara laki-laki yang ia kenal. Tidak salah lagi, laki-laki itu pasti Nata.
"Kok gue ngerasa kalau dia itu Nata teman SMP kita ya? Suaranya mirip banget sama Nata. Menurut lo gimana?" Tanya Damar.
Ara menginggit bibir bawahnya, ia terlalu bingung untuk menjawab perkataan Damar.
"Nata, lo mau curhat apa nih? Kok pagi-pagi udah galau aja?"
"Gini loh, gue punya pacar. Udah dua bulan kita pacaran, gue sayang banget sama dia. Tapi, dia malah sayang sama masa lalunya."
"Terus, elo nggak mau putus aja sama dia? Kalau gue jadi elo ya, gue lebih milih putus terus cari cewek lain."
"Enggaklah, gue tipe cowok setia. Nggak kaya masa lalunya, udah punya pacar tapi masih deketin pacar orang lain."
Damar tertawa kecil dan menatap Ara. "Sejak kapan Nata punya pacar? Bukannya selama ini dia jomblo ya?"
"Nggak tau deh. Pacar imajinasinya kali. Lo tau kan, dari dulu Nata emang rada-rada aneh," jawab Ara sambil menutupi rasa paniknya.
"Kalau gue boleh tau, siapa sih nama pacar lo sama nama masa lalu pacar lo itu?"
"Aduh, penyiar radionya kepo banget sih," gerutu Ara dengan kesal.
Damar melirik Ara. "Emangnya lo nggak kepo? Gue aja kepo."
"Nama pacar gue Ara sedangkan nama masa lalunya itu Damar."
Damar langsung menghentikan laju mobilnya secara mendadak.
"Ara? Damar? Kok namanya mirip ya sama nama kita?"
"Mar, nama Ara sama Damar itu nggak cuma satu. Nama teman bimbel gue aja Damar. Terus nama anak temannya ibu gue itu Ara. Intinya, nama Damar dan Ara itu terlalu pasaran," jelas Ara.
Damar kembali melanjutkan laju mobilnya.
"Oke, ada pesan atau kata-kata yang mau lo sampaikan ke pacar lo?"
"Kayaknya nggak ada deh, lagipula mereka pasti lagi asik bercanda di dalam mobil."
"Makasih buat Nata yang mau berbagi kisah cintanya. Banyak banget pelajaran yang bisa lo ambil dari kisah Nata dan Ara. Oke, gue punya lagu yang bagus untuk kalian. Selamat mendengarkan!"
Damar mematikan saluran radio dan menatap Ara dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kok kejadiannya sama persis kaya kita?"
"Jangan dibahas ya. Lo tau kan, hari ini hari selasa dan pukul setengah tujuh pagi. Waktunya pelajar buat berangkat sekolah. Mungkin nama Ara sama Damar yang dimaksud sama Nata itu lagi berangkat sekolah dan mereka juga naik mobil. Di dunia ini nggak ada yang nggak mungkin."
-------
Nata tertawa kecil ketika membaca beribu pesan yang berisi kutukan dari Ara. Nata yakin, perempuan itu pasti kesal dengan ulahnya.
"Nata, lo dengerin cerita gue nggak sih?" omel Ana.
"Gue dengerin kok."
"Lo lagi chattingan sama siapa sih? Pacar lo?"
"Enggak, gue nggak punya pacar. Gue lagi chattingan sama Ara."
"Pantesan gue dicuekin."
Nata memasukkan handphonennya ke dalam saku bajunya dan mengacak rambut Ana.
"Jangan cemburu, Ara cuma tetangga sekaligus teman dekat gue. Bagi gue, elo juga spesial kok."
"Nat, gue nggak cemburu, jangan kepedean deh. Emangnya gue naksir sama lo? Gini ya, lo bayangin aja deh. Gue udah cerita dari awal sampai akhir sama lo. Tapi elo malah asik chattingan sama Ara."
"Gue dengerin curhatan elo kok."
"Yaudah, sekarang apa saran lo buat gue?"
Nata menyengir. "Tadi lo curhat tentang apa ya? Tiba-tiba gue mendadak lupa."
Ana mendengus kesal dan menjitak kepala Nata.
------
"Jadi, Ronald pernah punya pemikiran buat comblangin kita berdua?" tanya Ana tak percaya. Nata mengangguk dan kembali memakan ice creamnya.
"Menurut lo kagum sama suka itu beda nggak?"
"Cuma beda tipis. Emangnya kenapa?"
"Soalnya gue lagi kagum sama cowok. Tapi gue nggak tau itu perasaan kagum atau suka."
"Lo kagum sama gue ya?" tanya Nata sambil memainkan alisnya.
"Sumpah ya, tingkat percaya diri lo terlalu tinggi. Oh iya, elo juga masih jomblo kan?"
Nata mengangguk. "Emangnya kenapa kalau gue jomblo? Mau ngajakin gue pacaran ya?"
Ara memukul lengan Nata. "Dasar cowok kepedean. Kenapa lo nggak cari pacar aja? Bukannya banyak anak perempuan di sekolah yang suka sama elo?"
"Pasti salah satunya itu elo!"
Ana mendengus kesal. "Gue serius, Nata ganteng!"
"Apa? Apa? Lo manggil gue ganteng? Astaga Ana, gue emang ganteng dari lahir."
Ana memutar matanya dengan kesal dan membuat Nata terkekeh pelan.
"Gini ya, cari pacar itu susah. Gue nggak mau asal nembak terus diputusin gitu aja kalau ngerasa udah nggak cocok. Lagipula, gue udah lama suka sama perempuan."
Ana menatap Nata. "Siapa perempuan itu?"
"Rahasia."
"Ara?"
Nata menghela napas dan mengacak rambut Ana. "Pulang yuk! Gue ada acara di rumah."
"Tapi lo belum jawab pertanyaan gue."
"Suatu saat nanti elo pasti tau kok."
Ana memilih untuk diam dan mengikuti langkah Nata yang meninggalkan taman.
Nata menggenggam tangan Ana. Ia membayangkan jika wanita di sampingnya adalah Ara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hati Untuk Ara
Novela JuvenilCerita ini tentang Nata yang jatuh cinta sendirian. Tentang Ara yang masih menyukai masa lalunya. Tentang Ana yang bertemu dengan Nata. Tentang Damar yang mencoba untuk memperjuangkan Ara. Dunia tahu jika Nata menyukai Ara. Bahkan dunia juga tahu ji...
