Chapter27

317 25 3
                                        

"Bang, lo udah tidur?" tanya Ara sambil mengetuk pintu kamar Denis.

"Bang, gue mau cerita."

"Sebentar, gue habis mandi. Lo tunggu gue di teras rumah aja. Nanti gue kesana," intruksi Denis.

Ara melangkahkan kakinya menuju halaman rumah. Kedua matanya mulai berkaca-kaca. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Kalau lo mau nangis, ya nangis aja. Jangan ditahan," ucap Denis sambil mengusap rambut Ara.

"Sekarang lo sadar kalau lo suka sama Nata. Kenapa lo baru sadar, Ra? Nata sering cerita sama gue. Lo pernah pacaran sama Nata. Dulu waktu Nata masih perjuangin elo, dengan seenaknya elo tarik ulur dia. Setelah Nata ngelepas elo, dengan gampangnya lo minta kesempatan kedua sama dia. Dulu lo kemana aja, Ra?"

"Gue tau gue salah. Gue tau gue terlambat buat perbaiki semuanya."

"Sekarang gini deh, lebih baik lo terima Damar sebagai pacar lo. Jangan ngerusak kebahagiaan Nata, Ra. Biarin dia bahagia sama perempuan lain."

"Enggak, gue nggak bisa," ucap Ara sambil menggelengkan kepalanya.

"Dengerin gue, Ra. Jangan egois, lo masih bisa jadi sahabatnya Nata. Lo masih bisa temenan kaya dulu sama Nata."

"Lo nggak ngerti, Bang. Lo nggak tau gimana rasanya ada di posisi gue."

"Gue angkat tangan, Ra. Semua keputusan ada di tangan lo."

-------

Ana melemparkan minuman kaleng ke arah Damar. Laki-laki itu baru saja selesai latihan basket di samping rumahnya.

"Segitu frustasinya yang lagi digantungin sama Ara," sindir Ana.

"Lo nggak tau aja gimana rasanya digantungin. Udah tiga hari perasaan gue digantungin sama Ara. Setiap gue minta jawaban ke Ara, dia selalu ngulur waktu."

"Yaelah, baru juga tiga hari. Belum setahun. Semoga aja dia terima elo. Gue kasihan sama elo, udah digantungin lama terus ujung-ujungnya malah ditolak. "

"Anjir lo ya jadi saudara. Bukannya bantuin gue cari jalan keluar, malah nyumpahin Ara nolak gue."

"Makanya lo harus sabar. Terus jangan lupa berdoa dan siapkan hati kalau ternyata elo ditolak."

"Monyet lu ya," ucap Damar dengan kesal sambil melempar bola basket ke arah Ana.

"Eh, tunggu sebentar. Ara nelepon gue!"

Ana sengaja menjauh dari Damar, agar laki-laki itu tidak bisa mendengar obrolannya dengan Ara.

"Eh, lo mau kemana? Gue ikut!"

"Idih, sana pergi. Ini urusan perempuan."

"Urusan Ara juga urusan gue. Sebentar lagi gue jadi pacarnya Ara."

"Itu pun kalau dia terima elo," sindir Ana.

Damar menjitak kepala Ana.

"Yah mati," ucap Ana.

"Telepon balik, An."

"Tunggu sebentar."

"Gimana, An? Nyambung nggak?"

"Iya nyambung."

"Loud speaker dong."

"Tapi lo jangan berisik."

Damar mengangguk patuh.

"Hallo." Suara Ara terdengar serak.

"Ra, suara lo kenapa?"

"Lagi batuk. Apa kabar, An?"

"Kabar gue baik. Lo sendiri?"

"Gue baik kalau lo baik."

Suasana menjadi hening. Ana memilih untuk menunggu Ara yang berbicara terlebih dulu.

"An, lo masih di sana?"

"Iya, gue masih di sini."

Damar menyentuh pundak Ana. Membisikkan sesuatu pada Ana dan dibalas dengan gelengan kepala dari Ana.

"An, gue mau ngomong sesuatu."

"Ngomong aja, Ra."

"Gue mau kalian berdua jadian."

"Gue nggak ngerti."

"Perasaan bisa berubah kapan aja. Nata sayang sama lo."

"An, lo ditembak sama Nata? Kok nggak cerita sama gue?" tanya Damar dengan keras.

Ana langsung menutup mulut Damar. "Jangan berisik!"

Sambungan telepon diputus secara sepihak. Ana berdecak sebal dan menjitak kepala Damar.

"Ngerusak suasana aja," omel Ana dengan kesal.

"Kenapa lo nggak cerita sama gue kalau lo ditembak sama Nata?"

"Karena menurut gue itu nggak penting."

"Pokoknya lo harus cerita sama gue."

------

Nata masih sibuk menghapal pelajaran sejarah untuk ulangan harian. Ana sibuk dengan pikirannya. Berusaha untuk memilih keputusan yang tepat.

"Eh, coba deh lo tanya tentang materi sejarah kerajaan ke gue," pinta Nata.

"Hmm."

"Apa isi sumpah palapa?"

Nata terdiam sejenak. Berusaha untuk mengingat kembali tentang materi yang sudah ia baca.

"Isinya tentang apa ya. Duh, gue nggak baca bagian itu. Lanjut pertanyaan selanjutnya, An!"

" oke, pertanyaan yang kedua." Ana memberikan jeda sebelum melanjutkan ucapannya. "Perasaan lo masih buat gue?"

Nata mengerutkan dahinya, ia menjitak kepala Ana. "Apaan sih, garing amat pertanyaan lo."

"Gue serius."

"Masih, perasaan itu masih buat orang yang sama."

"Gue mau jadi pacar lo, Nat."

Senyum Nata mengembang. Laki-laki itu mengambil buku paket sejarah yang dipegang Ana dan menaruhnya di atas meja. Tanpa meminta izin terlebih dahulu, Nata memeluk tubuh Ana. "Gue tau sebenarnya elo juga suka sama gue. Jadi, kapan kita ngelakuin first kiss?"

Ana mendorong tubuh Nata secara kasar. "Jijik!" Ia memukul lengan Nata berkali-kali. "Awas ya kalau lo berani cium gue! Gue sumpahin bibir lo bengkak!!"

Hati Untuk AraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang