Christian menunggu dengan tenang di depan ranjang putrinya. Sudah satu minggu, dan Jesara tidak menunjukkan tanda-tanda akan siuman. Sama saja dengan kedua anak kembar, keponakannya yang ada di ruangan lain.
Clarissa duduk di sebelahnya, menggenggam tangan suaminya dengan erat. "Aku, aku ingin dia bangun. Aku tidak bisa menunggu terus seperti ini"
"Jangan katakan apapun di dalam sini, aku tidak mau anak-anak mendengar hal-hal yang seharusnya tidak mereka dengar"kemudian Christian mengajak Clarissa keluar
Perempuan itu hanya menghela nafas, mengikuti suaminya kemudian mengambil kursi yang paling dekat dengan pintu kamar perawatan putrinya. Mengedarkan pandangannya dan menemukan Damas Hugo sedang berjalan menuju arah mereka.
Damas bisa melihat Clarissa menelan ludah ketika memandangnya, "Tenang saja, aku tidak ingin berbicara denganmu"
"Apa kau masih belum mencintai saudaraku?"
Christian memandang sekilas pada istrinya, kemudian menatap sahabatnya yang terdiam. "Abaikan istriku, dia hanya masih shock dengan apa yang terjadi"
"Aku tidak terkejut dengan yang terjadi. Dengarkan aku, aku baik-baik saja" Bantah Clarissa memandang sengit kedua lelaki di hadapannya, "Damas, apa kau belum mencintai Clarin?"
Lelaki itu menggulung lengan kemejanya, kemudian melirik ke arah Christian Salvia dengan tenang, "Kenapa kau sangat peduli dengan cinta, perempuan?"
Clarissa berdiri dari duduknya dan menatap Damas, dengan sedikit takut. "Jadi itu semua benar?"
"Aku pikir kita punya perjanjian disini" Kata Damas kemudian mengalihkan pandangannya pada Christian
"Jangan pikir aku tidak tau apa yang terjadi diantara kalian" ucap Clarissa menegakkan pandangannya dan memandang sengit Damas Hugo yang menatapnya datar
"Clarissa, tenangkan dirimu..." tegur Crhistian
"Dengarkan suamimu, Clarissa" kata Damas dengan tenang sambil menunjuk kearah Christian
"Jangan pikir aku tidak tau rencana busuk kalian yang mengorbankan aku dan Clarin"
Damas hanya menghela nafas kemudian memandang datar kembali pada Clarissa yang sudah bergetar di hadapannya, "Katakan kenapa kau mengira aku tidak mencintai saudaramu?"
Seolah menjawab tantangan Damas, Clarisa mulai mengatur nafasnya, "Dallas bukan anak Clarin,,," mengalihkan pandangannya pada jari-jarinya yang saling bertautan, "Hanya Dias,,, aku tau semuanya"
Wajah Damas menegang sesaat, memandang Christian dengan tatapan bertanya-tanya kemudian kembali memandang Clarin, "Ha ha ha... Kau gila? Kau ada disana ketika mereka lahir"
Clarisa kembali memandang Damas yang jauh lebih tinggi darinya, memandangnya sengit dan penuh kemarahan, sudah jelas dia memendam banyak amarah, "Mereka, memang kembar, tapi lahir dari rahim yang berbeda. Jangan kira aku tidak tau, Damas Hugo. Kau licik, sangat licik"
Christian dan Damas memandang bergantian, sungguh mereka tidak mengerti arah pembicaraan Clarisa. Apakah Clarisa benar-benar mengetahuinya?
"Aku tau, kau dan Clarin melakukan program bayi tabung. Hanya saja, Dallas disuntikkan ke rahim istri mu yang lain, si gadis polos tak tau diri yang sekarang sudah mati itu..."
"Sssh Clarisa jaga ucapanmu" Potong Christian
Dan Damas tampak menegang sesaat, mengeraskan rahangnya karena ucapan Clarisa
"Kau melakukannya, bersamaan ketika Clarin melakukan program kehamilan. Teganya kau merusak kehidupan gadis lugu itu, hanya karena kau mengincar perusahaan Ayahnya. Dan bisa-bisanya dia melahirkan di hari Clarin melahirkan, kau biadab!" Amuk Clarisa sambil menunjuk Damas dengan telunjuknya
Damas bisa melihat kemarahan disana, kebencian, dan betapa Clarisa sangat tidak menyukai apa yang telah menjadi masa lalu mereka. "Benar, hebat sekali kau mengetahuinya. Oh, kau memata-matai ruang persalinan ya?"
"Aku menyadari ada yang salah Damas. Apa salah Clarin hingga kau melakukan itu? Membuat gadis lain mengandung anak kalian dan membuat Clarin membenci setengah mati anak yang jelas-jelas anak kandungnya juga! Sekarang lihat yang terjadi?! Clarin tidak tau anaknya yang mana? Dan siapa diantara mereka yang akan selamat!"
"Kau tau aku tidak mencintai saudaramu, dulu. Akan aku jelaskan yang sebenarnya, sekarang, disini, agar kau mengerti siapa yang bersalah disini"
Clarisa menunggu, menatap Damas dengan tatapan menuntut. Christian hanya menghela nafas, tidak dapat menahan istrinya karena permasalahan yang sudah sejak lama mereka hindari
"Aku mencintai gadis itu, dan apa yang terjadi? Aku harus menikahi Clarin saat itu, perjodohan sialan yang membuatku terperangkap dengan kenangan masa lalu kita. Dan aku kehilangan gadis itu karena kalian. Ada cara agar aku tidak perlu menyentuh Clarin dan, dengan pintarnya kau mengusulkan untuk melakukan program kehamilan bersamaan. Menyenangkan sekali, hidupku terasa jauh lebih mudah saat itu. Dan, aku menginginkan kekasihku, mengerti?"
"Jadi kau sengaja menjebaknya? Meletakkan janin anakmu dan Clarin agar dia mau menikahimu? Sementara yang dia tau adalah kalian sudah melakukan perbuatan menjijikkan sampai dia hamil? Jadi dugaanku selama ini benar? Pantas saja mereka kembar sekali Ya Tuhan" Tanya Clarisa menerka-nerka apa yang terjadi
Tidak ada bantahan, hanya anggukkan pelan, "Dan kau tau apa yang terjadi? Gadis itu pergi meninggalkanku dan Dallas. Menyedihkan, aku tau. Dan karena sampai sekarang aku tidak melihat Clarin bisa menerima keadaan Dallas . Aku pikir aku tidak bisa menerima Clarin"
"Itu bukan salahmu, aku mengerti" ucap Clarisa
Sedikit mengejutkan, tapi Damas masih berusaha tetap tenang, "Karena kita sudah bicara kebenaran untuk saat ini, aku harap kau tidak menyulut emosiku Clarisa. Tunggu saja mereka sampai sadar, dan aku setuju kalian membawa Dallas"
Christian menatap Damas dengan tatapan membingungkan, "Kau setuju?"
"Aku tidak bisa melihat Dallas membenci ibunya seperti itu, kalian tau mereka seperti berperang dingin"
"Kau hanya melihat Drisella setiap kali melihat Dallas. Aku tau itu. Klasik. Jangan menjadikan perbedaan perhatian Clarin pada Dias dan Dallas sebagai alasan. Ini hanya kau, yang dihantui Drisella. Menjijikkan bagaimana kau memberi nama kedua anak itu menggunakan nama gadismu" sahut Clarisa lagi
"Ah, sudahlah. Aku hanya minta kalian rawat Dallas. Dallas melihat ibunya mati di depannya karena aku memilih Clarin waktu itu, menurutmu apa yang akan dia lakukan pada Dias?"
"Dallas akan membunuhnya?" Tanya Christian
"Bawalah Dallas ke psikiater terbaik disana"
Christian mengedarkanpandangannya, "Berdoa saja ingatan mereka menghilang, dan kalau sampai ituterjadi, aku pikir istrimu yang harus ikut kami"
KAMU SEDANG MEMBACA
FLURRY
General Fiction5 deadly sins of relationship: Level 2 DOUBT Warning, mature content. 21+++ allowed. Cerita untuk 18+++ mengandung unsur dewasa dan bahasa tidak senonoh. please be patient for the update
