“Duh, pegel banget,” Segara berujar sambil menekan-nekan bahunya. “Nggak mau mijitin, Bu?”
Tentu saja Alean tidak curiga bahwa yang dilakukan Segara cuma modus. Alias modal dusta. Yang Alean tahu, tubuh Tora sangat berat. Tadi waktu lelaki itu ambruk, ia kesulitan melepaskan diri. Jadi ketika Segara merengek sakit badan——lantaran menggendong Tora ——ia langsung menggeser posisi duduknya.
“Yang mana?” tanya Alean sambil meraba-raba bahu Segara.
Segara nyengir. Wajah cengengesannya sengaja disembunyikan. “Nih. Yang ini.”
Segara mengajak tangan Alean menyusuri bahunya. Ia sengaja mengulur waktu supaya bisa menikmati tangan pembimbing lapangannya ini. Wih, tangan Bu Lean halus banget!
“Yang bener yang mana?” Suara Alean menginterupsi. Agaknya mulai sadar tengah dijadikan korban modus.
“Sebelah sini, Ibu Cantik.”
Segara menempatkan tangan Alean di ruas punggungnya. Sebelum membiarkannya memijat, Segara meremas jemari gadis di belakangnya dengan perasaan berbunga-bunga.
“Nggak kerasa, Bu.” Segara pura-pura gusar. “Saya buka baju aja, ya. Biar enak.”
“Nggak!”
Alean berhenti memijat. Ia melongok ke arah pintu tempat Tora ditangani namun belum ada perubahan dari dalam sana. Pintu tersebut masih rapat sehingga cicak jantan di langit-langit harus bersabar lantaran terpisah ruang dengan kekasihnya.
Ketika Alean hendak menoleh ke arah lain, seseorang bermimik panik masuk dengan terburu-buru. Alean tahu perempuan tersebut adalah dokter. Setelannya yang menjelaskan semua. Memakai jas putih dan stetoskop di leher.
“Wih, Pak Tora menang banyak, nih,” celetuk Segara sambil membentuk posisi duduk. “Tadi meluk Ibu, sekarang ditangani dokter cantik. Bener-bener jackpot!”
Alean diam saja. Sudah pusing menghadapi makhluk yang satu ini.
“Bu, saya mau pipis. Ke toilet dulu, ya.”
Alean mengatupkan bibir, Segara beringsut.
Pemuda jangkung itu menjauh dari Alean. Ketika berjalan sebanyak dua langkah, mata abu-abunya menyalang. Wah, ada mangsa! Tak dapat dokter cantik, suster semokpun jadi. Lumayan, daripada nggak sama sekali.
Dari jauh Segara memang tertarik dengan dada suster tersebut. Menonjol, padat, ranum, dan menantang. Kalau ditanya bagian tubuh mana yang paling Segara suka dari perempuan, maka jawabannya adalah dada. Dia adalah pecinta nenen. Dan Segara tidak malu untuk mengakuinya.
“Permisi, Sus.” Segara menghentikan langkah perawat yang sudah diincarnya. Ia tersenyum sumir dan siap beraksi. “Toiletnya di sebelah mana, ya?”
“Ikutin aja lorong ini. Nanti belok kanan. Di situ toiletnya.”
“Wah, makasih banyak.” Segara mengerling sambil memamerkan senyum. “Kebaikan Suster ini gratis, kan?”
“Kalau nggak gratis, berani bayar berapa?”
“Bayarnya pake es campur besok sore, boleh?”
Perawat ini tergugah. Barusan dia habis dari kamar pasien berusia uzur. Sumpek, bau, dan dibuat kesal sebab kakek itu manjanya luar biasa. Dan sekarang, ia ketemu laki-laki bening. Masih muda, ramah, dan cakep.
"Cuma es campur?" Sang Perawat menggoda. Agaknya ia setipe dengan Segara. Ada yang kinclong dan bisa diajak main, hayu aja!
"Dan nomor hape. 08....."
KAMU SEDANG MEMBACA
Tesmak
ChickLitSetelah hidupnya dipermainkan nasib--di mana ayahnya kabur dan kekasihnya menghamili gadis lain--, Alean kembali digoda oleh suratan takdir. Ia yang hanya seoongok anak jadah diperebutkan LIMA lelaki sekaligus!!! 1. Cinta pertama yang pernah mengk...
