Setingginya Nirwana

11.1K 1.6K 248
                                        

“Masih di Jakarta, Neng. Saya nggak tahu kapan pulangnya.”

Semangat Alean yang tadinya menggebu-gebu langsung melorot hingga ke dasar. Harapannya semakin redup. Hatinya kian sakit. Rindunya pun menumpuk setingginya nirwana.

Seminggu telah berlalu dan Sharman masih menghukumnya. Lelaki itu tak bisa dihubungi! Ratusan pesan suara sudah Alean kirim namun tak satupun yang digubris. Bahkan saat isi pesannya berupa keingintahuan kabar Delvin dan Melvin, lelaki itu tetap tak mengacuhkan.

Oh, masih marahkah Sharman? Sesakit apakah hatinya sampai-sampai ia menghukum Alean dengan cara yang amat kejam, yakni memisahkannya dengan Delvin dan Melvin.

“Eneng mau titip pesan aja? Nanti InsyaAllah saya sampein kalau mereka udah pulang.”

“Nggak usah, Bu,” jawab Alean tanpa gairah. “Saya pulang aja. Mari.”

Alean melangkah gontai ke arah mobilnya. Dibukanya pintu kendaraan itu dengan lemas, diempasnya bokong dengan kesakitan yang menikam dada.

Dibanding rasa bersalah kepada Sharman, bilur-bilur rindu pada Delvin dan Melvin jauh lebih besar. Dan itu berpengaruh terhadap hidupnya! Kini harinya terasa sepi. Gairahnya surut. Apa-apa terasa hambar. Ia malas makan, malas tidur, malas kerja, dan mungkin malas napas.

Ia sudah mencoba berbagai cara untuk mengalihkan perasaan hampanya. Namun apa daya, semuanya malah membuat kangennya berkembang berkali lipat. Terutama saat memberi makan ikan-ikan cupangnya. Baik Adel maupun Amel, dua ikan itu selalu membawa ingatan tentang Delvin dan Melvin.

Jujur Alean merasa aneh pada dirinya sendiri. Dulu ia amat benci pada dua anak itu. Ia bahkan memberi julukan Duo Kunyuk pada mereka. Habis bagaimana, Delvin dan Melvin bukan hanya bandel. Mereka kurang ajar. Liar. Nakal. Brutal. Kriminal. Punya peluang menjadi psikopat. Dan juga, penipu ulung!

Di perjumpaan mereka yang pertama, Alean sudah memasang detektor peringatan terhadap dua tuyul itu. Tentu saja ia ingat seperti apa pertemuan mereka kala itu. Melvin yang menembakkan bola ke wajahnya, sedangkan Delvin menabraknya dengan sepeda. Duh, sialan!

Sebelum Alean tahu cara menaklukan dua setan itu, ia selalu menyumpah-nyumpahi mereka. Semoga mereka diculik, atau ditabrak pengemudi mabuk, atau tak masalah bila genderuwo itu benar adanya. Tetapi apa yang terjadi sekarang? Alean merindukan mereka. Benar-benar kangen!

Ya Allah, keluh Alean dalam hati. Ia amat tersiksa dengan kesepian ini. Seumur hidup, ia tak pernah dilanda perasaan seperti ini. Rasanya ia hampir gila karena merindukan mereka.

Tak ada lagi alasan Alean harus terjaga lebih pagi, tidak ada yang harus dibangunkan di pukul lima lewat lima belas menit, tidak ada yang harus dibujuk-bujuk ketika salah satunya bilang : “lima menit lagi, Lean. Masih ngantuk, nih.”, tidak ada alasan Alean harus menyisihkan uang untuk keperluan mereka yang tak ada habisnya, tidak ada yang perlu dijemput di pukul setengah enam sore di lapangan atau di masjid, tidak ada yang ribut rebutan tahu bulat di dalam mobil, tidak ada yang memijatnya kalau capek, tidak ada perdebatan saat nonton YouTube, dan tidak ada yang memeluk tangannya saat tidur.

Harapan Alean untuk menjadi ibu Duo Unyu nampaknya sudah benar-benar lenyap. Jika dulu Delvin dan Melvin yang menjadi penghalang hubungannya dengan Sharman, barangkali sekarang kebalikannya. Sharmanlah yang memisahkan mereka.

Kalau sudah seperti ini, rasanya Alean berharap Sharman tak usah pulang. Biar saja Sharman terdampar di sana, asalkan Delvin dan Melvin tetap bersamanya.

Katakanlah ia egois, tapi siapa peduli?

Rasa sayang Alean pada Duo Unyu sudah seperti ibu pada anak sendiri. Bahkan lebih dari itu. Nirwana di atas sana malah masih kalah tinggi dengan kasih sayang Alean kepada mereka.

TesmakTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang