Tak perlu menunggu sambungan Bianca, Segara langsung berkata kepada Delvin dan Melvin, "Kalian tunggu di sini sebentar, ya."
Ia berusaha tenang. Suaranya dibuat selunak mungkin meski dalam hati ingin berkata kasar. Rasanya ia harus mengemplang bibir Bianca setelah ini.
"Abang mau ngobrol dulu sama Dokter. Kalian jangan kemana-mana. Oke?"
Segara balik menatap Bianca. Tanpa ba-bi-bu ia langsung mengajaknya ke sudut lain. Jaraknya tidak terlalu jauh dari posisi Delvin-Melvin, namun setidaknya ucapan mereka tidak akan didengar oleh siapapun.
"Aku minta sama kamu, Bianca. Berhenti bicara yang nggak-nggak!"
"Kamu kelihatan takut. Aku suka." Seuntai senyum bermain lagi di bibir Bianca. "Aku jadi penasaran. Gimana reaksi July, Alean, dan semua gebetan kamu kalau sampai tahu kebejatan seorang Diffie Elgamal Segara. Kamu bukan cuma playboy sejati, tapi kamu mampu mencetak bayi semaunya."
"Kita udah tahu kebenarannya, Bianca. Bayi yang kamu maksud itu nggak pernah ada!"
"Mau ada atau nggak, intinya kamu pernah ngelakuin itu sama aku. Kamu lupa? Kamu memperkos..."
"Bianca!"
Segara mengetatkan rahang. Di kepalanya seakan-akan muncul api yang siap melelehkan seluruh wajahnya. Semakin lama mukanya bertambah merah, tangannya terkepal kuat-kuat, dan napasnya memburu.
"Cukup, Bianca!" sentak Segara geram. "Sampai kapan kamu bakal ngelakuin ini? Masih kurang puaskah atas segala kekacauan yang kamu buat terhadap hidup aku?"
"Aku bahagia ngelihat kamu hancur," kecap Bianca tanpa beban. "Dan asal kamu tahu, aku nggak akan berhenti. Sampai kapanpun."
*
*
*
Mata Alean terbuka tepat pada pukul empat lewat dua detik. Ada dua hal yang pasti di sini. Pertama, badannya terasa ngilu. Hampir sekujur tubuhnya nyeri. Terutama di bagian kepala. Satu objek itu terus berdenyut. Rasanya seperti ada sebilah besi panas yang tengah menusuk-nusuk bagian itu.
"Lean?! Oh, syukurlah kamu udah bangun. Bilang sama aku, apa yang kamu rasaain? Sakit? Yang mana yang kerasa sakit? Mau aku paggilin dokternya? Atau kamu haus? Mau minum? Atau lapar? Kamu mau makan apa, Lean? Ayo, bilang aja."
Dan inilah kepastian yang kedua. Di sampingnya tampak seorang Octora Sastrawijaya Kusuma. Rambutnya kusut masai, kantung matanya tebal, dan mukanya kelihatan lelah.
"Melvin mana?" tanya Alean dengan suara lemas. Ia bukan tokoh sinetron yang IQ-nya tengkurap. Yang mengajukan kalimat monoton--berbunyi: ini di mana?---ketika membuka mata. Bau obat-obatan, ruangan serba putih, serta sepinya latar adalah yang paling khas dari tempat ini.
"Kamu nggak usah khawatir," kecap Tora. "Melvin aman."
"Dan Delvin..."
"Duo Unyu baik-baik aja."
Alean berusaha menarik senyum. Duo Unyu? Bagus juga panggilan itu. Entah terinspirasi dari mana Tora bisa menemukan nama itu, yang pasti julukan Duo Unyu lebih cocok dibandingkan Duo Kunyuk.
"Kamu butuh sesuatu?"
Alean menggeleng lemah. Kepalanya semakin berdenyut gila. Rasanya seperti ada jutaan lebah yang masuk ke dalam kepalanya. Mereka menyengat otaknya ramai-ramai.
"Lean, aku bener-bener minta maaf. Seandainya aku nggak ajak kamu, mungkin semua ini nggak akan terjadi." Tora memasang wajah penuh penyesalan. Dan Alean tak melihat titik dusta sama sekali.
"Jangan nuduh diri kamu kayak gitu," kata Alean masih selemah tadi. "Ini bukan salah kamu."
"Kalau aja..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Tesmak
ChickLitSetelah hidupnya dipermainkan nasib--di mana ayahnya kabur dan kekasihnya menghamili gadis lain--, Alean kembali digoda oleh suratan takdir. Ia yang hanya seoongok anak jadah diperebutkan LIMA lelaki sekaligus!!! 1. Cinta pertama yang pernah mengk...
