Portal yang Tertumbuk

12.8K 1.7K 132
                                        

Kondisi Alean mulai membaik setelah ia dirawat tiga hari. Perban di kepalanya sudah dilepas, begitupun luka-lukanya yang mulai mengering. Beberapa sendinya mungkin masih ngilu, namun dokter yakin tak ada hal serius dari hal tersebut.

Kehadiran seseorang sangat mempengaruhi kepulihannya itu. Nah, silakan tebak siapa yang menemani Alean selama di rumah sakit. Petunjuknya : tajir, kalem, dan mapan. Jika tebakanmu adalah Tora, maka selamat! Anda benar.

Tora bukan saja menemani, lelaki itupun melayani Alean siang dan malam. Ia bahkan nekat bolos kerja demi menyampingi Alean. Ia selalu berada di samping Alean kapanpun itu, kecuali ketika perawat datang untuk membersihkan tubuh Alean. Dengan sendirinya Tora akan tunggu di luar sampai daki-daki Alean dilibas.

Selain itu, kini Tora mengambil alih tugas Segara soal Delvin dan Melvin. Mulai dari mengantar-jemput hingga mengantar ke tanah mimpi, Toralah yang mengerjakannya.

Lantas apa tugas Segara?

Mungkin tiduran, mungkin juga istirahat total. Satu hari setelah membawa Delvin dan Melvin ke rumah sakit, lelaki itu tak pernah muncul lagi. Bahkan sampai detik ini.

"Bang Gara sakit," Delvin menjawab begitu. "Dia bilang jatuh dari motor."

Melvin mengiyakan. "Tapi semalam Bang Gara telpon, kok. Katanya udah baikan."

Rupanya pemuda itu bukan hanya absen dalam mengurus Delvin dan Melvin. Tugas magang pun ditinggalkannya. Alean tahu itu ketika beberapa pegawai dari unit deployer datang berkunjung. Alex, Farida, dan Fenina. Ketiganya serentak mengatakan Segara sudah tak masuk beberapa hari.

"Tapi aneh, Bu. Segara nggak punya motor, tapi kenapa bisa jatuh?" Fenina mengadu. Bukan tanpa alasan ia ikut membesuk ke rumah sakit. Saat ini kerjaannya sebagai anak magang tak banyak. Gabut banget kalau nggak ikut jenguk. Apalagi Si Mata Abu-abu absen. Ruangan maganya jadi sepi bak kuburan.

"Mungkin motor temennya," Tora mencoba menebak.

"Pasti motor kakak iparnya," celetuk Alean. Dulu Si Mata Abu-abu itu pernah bawa motor, kan? Dia mengaku kalau roda dua itu milik kakak iparnya.

"Setahu saya Segara anak tunggal, Bu."

"Iyakah?" Tora dan Alean bertanya dalam intonasi yang sama.

"Orangtuanya tinggal di Riau dan dia merantau sendiri di sini."

Alean tidak meragukan bahwa Segara adalah mahasiswa rantau. Tubuhnya cungkring, dompetnya tipis, dan kerjaannya minta traktir terus. Sekarang biarkan Alean menebak sesuatu. Pemuda itu sedang terbaring lemah di kamar kontrakan. Mukanya pucat, bibirnya kering, tubuhnya lemas, dan hatinya sedang dilanda rindu pada orangtua.

*
*
*

Keesokan harinya Alean sudah dibolehkan pulang. Kata dokter yang menangani, Alean bisa mengoptimalkan kondisi di rumah. Yang penting ia harus cukup istirahat, makan teratur, dan jangan kecapekan. Kalaupun ada keluhan di beberapa ruas tulang --seperti ngilu atau nyeri--maka Alean diimbau untuk mengkonsultasikan lewat telepon dulu, barulah kembali ke rumah sakit.

"Tasnya biar Delvin yang bawa."

Tora tersenyum ke arah bocah itu. Diusapnya rambut Delvin dengan lembut. "Biar Om aja. Delvin pasti capek karena abis sekolah."

"Delvin mau cari muka, Om," celetuk Melvin. "Sini! Biar Melvin aja yang bawa tasnya. Melvin kuat kayak Naruto."

Sekali lagi Tora mengurai senyum geli, sekali lagi pula ia menggunakan telapak tangannya untuk membelai kepala. "Tasnya berat banget. Mending kalian megangin Tante Alean. Biar dia nggak limbung."

TesmakTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang