Alean, keluh Tora sambil menatap wanita itu dari luar ruangan. Lewat jendela, bisa dilihatnya Si Batu Independen yang masih tak sadarkan diri. Dadanya naik turun dengan tenang, menandakan masih ada ruh di raganya. Mata dan bibirnya sama-sama terkatup rapat. Air kesedihan melingkupi wajahnya yang sendu.
Sambil meremas celana panjangnya Tora menyumpah-nyumpahi diri sendiri. Bodoh! Bodoh! Bodoh! pekiknya dalam hati. Seandainya aku bukan pengecut, seandainya aku berjuang lebih keras, seandainya aku bisa melawan ego... Alean tidak akan semenderita ini!
Dugaan Tora soal Alean yang tengah berbadan dua memang benar. Dokter mengkonfirmasi itu setelah menanganinya beberapa saat. Tapi sedihnya lagi, teknisi kesehatan itu langsung melanjutkan penjelasan. Katanya, benturan di pinggul Alean terlalu keras hingga menyebabkan pendaharan hebat. Kondisi kandungannya yang lemah membuat janinnya tak mampu bertahan. Dengan kata lain, jabang bayi harus dikeluarkan secepatnya.
Tora tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Alean kalau ia sadar. Ingin rasanya Tora kabur saja, sehingga ia tak perlu melihat air mata Alean. Tapi kalau ia pergi, itu sama saja mengulangi kesalahan yang sama. Yakni, mendustai hati.
Kalau khawatir, mengapa mesti pura-pura tak acuh? Kalau hati bilang rindu tapi otak tak setuju, mengapa raga memanifestasikan dengan lagak masak bodoh? Kalau masih cinta, mengapa harus menutupi dengan benci?
Tora mencengkeram celananya lebih kuat. Jika tadi ia merasa sendu, maka saat ini ia benar-benar marah. Pada Sharman, lelaki yang sama-sama menanti kesadaran Alean.
Lelaki biadab! Bajingan! Brengsek! hardik Tora di dalam benak. Rahangnya mengetat. Alisnya menekuk. Matanya melotot. Kepalan tangannya bergetar penuh amarah. Seandainya ia tak melihat dua bocah yang masih tersedu itu, ingin rasanya ia menjotos muka Sharman sampai penyok!
Lalu tiba-tiba saja nada telepon berdering dari saku Tora. Pelan-pelan ia meraih ponsel dan menepi ke spot lain. Ketika satu nama itu muncul di layar, Tora meringis tak tertahan.
Amanda.
Tidak ada embel-embel seperti Amanda Sayang, atau Istriku Amanda, dan lain sebagainya. Nama kontak yang tertulis di sana seakan menjelaskan kebenaran perasaannya.
“Hallo?”
“Mas, kenapa suaranya lesu begitu? Mas sakit? Kecapekan, ya?”
Tora mengerjap sambil menahan sakit di dadanya. “Mas nggak apa-apa,” katanya berdusta. “Kenapa telpon?”
“Cuma mastiin Mas baik-baik aja.” Ucapan itu menorehkan luka memanjang di hati Tora. “Gimana keadaan Bunda, Mas?”
“Bunda baik,” kata Tora sambil menyandar ke tembok. “Tapi Mas nggak bisa pulang dalam waktu dekat.”
“Kok, gitu?” Ada nada khawatir ketika Amanda bicara begitu. “Emangnya Bunda sakit apa, Mas?”
Tora menggaruk tengkuknya dengan gusar. Mana mungkin ia bilang Aleanlah yang menjadi alasan dia tetap di Bandung? Yang ada, ia akan menyakiti hati Amanda. Tapi kalau bohong pun, sepertinya sama saja. Aduh!
“Ada sesuatu yang harus Mas urus,” jawab Tora setelah menemukan kalimat yang pas.
“Penting?”
“Hmmm, ya. Penting.”
“Yaudah kalau gitu. Mas jaga diri baik-baik, ya. Jangan begadang, jangan lupa makan, jangan lupa ibadah. Dan pokoknya Mas harus selalu inget, aku sama Rama nungguin Mas di sini.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Tesmak
ChickLitSetelah hidupnya dipermainkan nasib--di mana ayahnya kabur dan kekasihnya menghamili gadis lain--, Alean kembali digoda oleh suratan takdir. Ia yang hanya seoongok anak jadah diperebutkan LIMA lelaki sekaligus!!! 1. Cinta pertama yang pernah mengk...
