Segara menepi sambil terengah-engah. Sekujur kepalanya basah oleh keringat dan dadanya siap meledak beberapa detik lagi.
Namun meski begitu, ia tak mau membuang waktu lebih banyak. Ketika melihat gerbang komplek yang sudah 2 tahun tak dijumpainya, ia segera menarik kaki lebih dalam. Ia tak peduli dadanya sudah kembang kempis minta ampun, ia pun sudah tak memikirkan apa-apa lagi selain perempuan itu.
Ketika ia sampai di depan rumahnya, ia meringis tak tertahan. Bangunan itu sudah digaris polisi, beberapa petugas sedang bekerja, dan orang-orang berkumpul kepo sambil bergunjing.
Tapi dari sekian fenomena yang nampak, ketidakhadiran Aleanlah yang membuat dadanya semakin berdenyut gila. Lantas ia pun langsung menjambak rambutnya dengan kesal. Bodoh! Bodoh! Bodoh! batinnya frustrasi. Kenapa malah ke sini? Dasar tolol! kembali ia menghardik diri sendiri.
Sambil menahan dadanya yang sakit, Segara menarik langkah. Disenggolnya beberapa orang yang masih asyik menonton aksi petugas, dikeparatkannya omongan penduduk yang dua-tiganya mengatakan. "Eh, eta teh artis, kan?"
Belum pernah Segara merasa selinglung ini. Saking tak terkendalinya ia tak bisa merasakan sakit fisik. Padahal beberapa detik lalu, ketika ia keluar dari gerbang komplek, sepeda motor baru saja menubruknya sampai ia terjerembab. Memang kakinya jadi agak ngilu, tapi sakitnya itu tidak sebanding dengan nyeri di hati.
"Kang, tanggung jawab atuh. Pengkor tah sukuna!"
"Tong cicing kitu. Buru bawa Si Akang ieu ka rumah sakit!"
Segara bisa melihat pengendara motor itu menatap takut-takut. Beberapa orang sudah mengerubungi dengan tatapan menuduh. Bahkan tak sedikit yang siap melakukan persekusi.
"Nggak usah," kecap Segara.
Ketika ia hendak berdiri, sebuah mobil menepi. Pintu kendaraan itu terbuka, kemudian mengeluarkan seseorang dari sana.
"Segara?" kata perempuan itu seraya mendekat. "Bapak-bapak, dia ini temen saya. Mau dibawa ke mana, ya?"
"Abis keserempet, Teh. Ini mau diangkut ke rumah sakit."
"Biar saya aja yang nganter," usul perempuan itu. "Tolong bantu masukin ke mobil ya, Bapak-Bapak."
Segara pasrah saja ketika dirinya dibimbing ke dalam mobil. Nyeri di kakinya semakin terasa ketika roda empat yang ditumpanginya melaju. Lama-lama ia pun mulai bisa mengontrol diri. Lantas dikatakannya pada sang pengemudi, "Bianca, kita nggak usah ke rumah sakit."
"Kaki kamu luka, Gara. Harus secepatnya diobati."
"Mending anterin aku ke rumah tahanan."
Bianca meliriknya sedetik. "Kamu mau ketemu Alean?" tebaknya. "Percuma, Gara. Sekarang Alean nggak bisa ditemui siapapun."
"Kenapa?"
"Dia gila."
"Kamu jangan bercanda!"
"Ngapain aku bohong?" cetus Bianca. "Aku ngikutin kasus ini dari awal."
"Terus sekarang Alean di mana?"
"Masih di rumah tahanan."
"Delvin dan Melvin?"
"Dibawa keluarga Sharman ke Jakarta."
Lewat lirikan sesaat Bianca bisa melihat Segara menjambak rambutnya dengan kesal. Peluh semakin bercucuran di pelipisnya. Napasnya kian memburu. Kakinya yang terluka pun dihentak-hentak tanpa ragu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tesmak
Genç Kız EdebiyatıSetelah hidupnya dipermainkan nasib--di mana ayahnya kabur dan kekasihnya menghamili gadis lain--, Alean kembali digoda oleh suratan takdir. Ia yang hanya seoongok anak jadah diperebutkan LIMA lelaki sekaligus!!! 1. Cinta pertama yang pernah mengk...
