“Mas makan, dong!” July ngomel-ngomel ketika sang kakak masih mengatupkan bibir.
“Nggak lapar. Ngerti nggak, sih?” jawab Tora sambil menutup setengah mukanya dengan selimut.
“Aku nggak tanya Mas lapar atau nggak. Pokoknya makan!”
July menyodorkan sesendok bubur. Tapi sampai pegal tangannya bertengger di depan muka Tora, lelaki itu tetap menolak.
Untunglah July tidak kehabisan akal. Ia sangat tahu apa yang harus dilakukannya. “Jadi Mas nggak mau makan?” katanya sambil meraih ponsel di saku labjas. “Oke. Biar aku suruh Mbak Alean yang bujuk.”
Satu nama yang diucapkannya berhasil membuat Tora menyibakkan selimut.
“Alean, saya tunggu 15 menit di tempat saya dirawat. Sekarang. Tertanda, Tora yang pake nomor July.”
“Heh, jangan sembarangan!”
July bergerak gesit ketika Tora hendak merebut benda pipih di tangan kirinya.
“Makan buburnya atau aku kirim SMS barusan?”
Untuk pertama kalinya Tora kesal melihat kempot di pipi adiknya. Ketika July menyodorinya semangkuk bubur, dengan ogah-ogahan ia bangkit dari tidur.
“Mas adalah kakak paling curang sedunia. Licik!” July berkata ketika kakaknya mengaduk-aduk bubur. “Kenapa nggak pernah cerita soal Mbak Alean, sih? Mas tahu, aku ngerasa dikhianati. Aku selalu cerita soal apapun sama Mas. Aku ngerasa di antara kita nggak ada rahasia. Tapi nyatanya?”
July mengoceh sementara Tora melahap bubur. Gadis ini benar. Ia merasa dikhianati. Ia baru tahu kakaknya naksir seseorang ketika Tora dalam keadaan setengah sadar. Di unit gawat darurat, lebih tepatnya. Ketika ia menangani Tora yang saat itu suhu badannya amat panas.
"Alean... Alean... jangan pergi!" Begitu igauan Tora malam itu.
Huh, sebalnya July! Perilaku Tora menunjukkan dirinya tidak percaya pada siapapun, bahkan pada adik semata wayang.
“Oke, Mas ngaku salah karena baru cerita akhir-akhir ini.” Tora menyendok bubur. Kali ini daun bawangnya ia singkirkan sebab ia merasa mual. “Mas punya alasan kenapa nggak bilang sama kamu.”
“Kalau aku jadi Mbak Alean, aku nggak akan mau sama Mas Tora.” July mengatakannya tanpa beban. “Ngakunya sih naksir, tapi nggak pernah ngasih bukti. Tiap ngehubungi, pesannya singkat-singkat. Kalau ketemu, masang muka judes. Hari libur boro-boro ngajak kencan, malah ngasih kerjaan seabrek.
“Mas ini laki-laki, kan? Kalau cuma diem di tempat, sampai monyet ngelahirin kudapun Mbak Alean nggak akan pernah jadi milik Mas!”
Siapa yang diam di tempat? Aku? Aku cuma nyari waktu yang pas buat ngedeketin Alean.
“Kapan, Mas?” July seperti tahu isi kepala kakaknya. “Dengerin aku baik-baik, Mas." July memaksa kakaknya memandang serius. "Mbak Alean nggak bisa dikode. Tipe-tipe nggak peka. Kalau Mas masih pasif, nanti keburu muncul saingan.”
Tora tidak jadi memasukkan bubur ke mulutnya. Bayang-bayang wajah Alean yang tersenyum sepanjang hari ——yang alasannya karena Sharman——berputar di otak. Membuat kepalanya pusing lagi, membuat nafsu makannya kocar-kacir.
Ketika July masih mengutarakan kata-kata, Tora mengaduk buburnya hingga bentuknya tak menentu. Mirip muntah kucing, lebih tepatnya.
"Saingannya emang udah ada. Masih yang lama."
KAMU SEDANG MEMBACA
Tesmak
ChickLitSetelah hidupnya dipermainkan nasib--di mana ayahnya kabur dan kekasihnya menghamili gadis lain--, Alean kembali digoda oleh suratan takdir. Ia yang hanya seoongok anak jadah diperebutkan LIMA lelaki sekaligus!!! 1. Cinta pertama yang pernah mengk...
