Bening Belek

12.1K 1.8K 129
                                        

Melvin tak mau mendengar penjelasan Alean. Dengan uring-uringan ia bergerak menuju rumah, lalu membersihkan badan, kemudian sholat isya sendirian, dan meringkuk di atas kasur.

Ketika Alean masih berusaha mengutarakan alasan, dengan marah Melvin menutup kepalanya dengan bantal dan berkata, "Lean, Melvin capek! Melvin pengin tidur!"

Alean mengembus napas berat kemudian menanti dengan sabar. Namun, sampai pegal kakinya berdiri, Melvin tak bergerak juga. Ia tetap membelakanginya.

Alean tak mengerti kenapa ia merasa begitu bersalah. Lama-lama matanya terasa kian panas. Ini benar-benar aneh! Masak sih, dia akan menangis padahal perkaranya begitu sepele?

Tadi siang Tora mengajaknya ketemu klien. Kebetulan Alean terlalu fokus pada kerjaan. Kebetulan janjinya pada Melvin terpaksa dilanggar. Kebetulan anak itu tak mau mendengar alasannya. Kebetulan Melvin langsung kecewa.

Semuanya cuma kebetulan, kan?

“Masih ngambek?” Delvin bertanya ketika Alean keluar.
Melihat Alean mengangguk pasrah, anak ini lantas meraih tangan Alean kemudian mengusap-usap bagian punggungnya. “Alean nggak usah khawatir! Nanti biar Delvin yang ngomong ke Melvin.”

Alean berusaha mengukir senyum. Ditahannya air mata yang nyaris terjun, diusapnya kepala Delvin dengan keibuan.

Toktoktok... ketukan pintu menginterupsi gerakan Alean. Cepat-cepat Alean menghampiri tamunya sambil menyeka butiran kristal di sekitar mata.

“Lho, Segara? Ngapain kamu ke sini?”

Segara tak langsung menjawab. Ia memegang kedua pipi Alean lalu mengajak kornea mereka saling berpegangan. Lantas, terjadilah pertemuan dua jenis mata. Sipit dengan iris keabuan dan almond berwarna sebening madu.

“Saya janji bakal nemuin mereka," kecap Segara dengan suara lunak. Ada kesungguhan luar biasa yang terpancar lewat sorotannya. "Sekarang Ibu jangan nangis lagi.”

“Siapa yang nangis?” Alean melepaskan diri. “Mereka udah pulang, kok. Tadi mereka diajak makan-makan dulu makanya bisa telat.”

“Terus kenapa Ibu nangis?”

“Nggak ada yang nangis!”

Ketika Segara mendekatkan ibu jari ke sudut matanya, saat itu juga Alean tak bisa mengelak. Ada sebutir air yang berhasil didapatkan Segara. Namun, yang terjadi selanjutnya sangat tidak wajar. Cowok itu memandangi jempolnya yang terolesi air tanpa mengedip. Seakan-akan benda tersebut adalah emas bernilai jutaan dolar.

“Ngapain?” kecap Alean ketika Segara menatap jempolnya dari sudut berbeda. Kadang dari jauh, kadang dari samping kiri, kadang pula dari bawah.

“Ada beleknya, Bu.”

Tentu saja Alean terenyak. Dengan muka merah ia berusaha menghentikan kegilaan Segara. Ia meraih tangannya lalu berusaha mengenyahkan bening yang masih menempel di jempol Segara.

“Ibu kenapa, sih? Mau lihat beleknya juga?” Segara  memunggungi Alean  agar perempuan itu berhenti merebut hartanya. “Penasaran banget? Nih, lihat-lihat!”

“Mana beleknya?”

“Nggak ada. Tadi saya cuma bercanda.” Segara nyegir kuda kemudian tersenyum khas.

Bibirnya yang kemerahan melengkung bak bulan sabit. Lalu pipinya akan tertarik beberapa senti, membuat kedua matanya ikut menyungging sekian derajat. Alhasil, sekujur mukanya seakan-akan ikut tersenyum.

“Omong-omong, Ibu udah masak belum? Laper berat, nih.”

“Maaf, malam ini saya nggak akan masak. Delvin dan Melvin udah pada makan,” Alean siaga. Ia tak mau ambil risiko.

TesmakTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang