"Lelaki seperti Sharman emang mesti dikasih pelajaran," kecap Tora pada wanita di hadapannya. Suaranya terdengar biasa saja. Tatapan matanya pun terkesan dingin.
Padahal baru beberapa hari ia ditahan, tapi siapapun bisa melihat perubahan besar dalam dirinya. Sekarang bukan jas kece ala-ala CEO di cerita mainstream yang melekat di tubuhnya. Bukan lagi wajah kharismatik yang muncul. Bukan pula tetek bengek yang menunjukkan dirinya pewaris Cellcom Corp.
Kini Tora hanya memakai baju tahanan sederhana. Mukanya kelihatan jauh lebih tua. Rambutnya pun kusut masai. Dan di dalam pancaran matanya, hanya ada rasa hampa yang terlintas.
"Alean," panggilnya. "Sekarang kamu tahu, kan? Aku nggak sebaik kelihatannya."
"Selalu ada sisi baik di dalam diri seseorang," jawab Alean. "Begitupun kamu."
Tora menarik senyum getir. Sekarang baru terasa sakitnya atas apa yang ia lakukan. Kemarin-kemarin ia tak menyesal telah melenyapkan Sharman dengan cara kotor. Tapi begitu Alean yang dihadapinya, ada nyeri tak terperi di sini. Di dada!
"Maaf kalau tanpa sadar, akulah yang nyeret kamu ke perkara ini."
Tora bisa melihat kaca-kaca mulai melapisi mata Alean. Hal itu membuat hatinya semakin sakit. Jika ditanya apa yang paling tidak ingin dilihatnya di dunia ini, maka hal itu adalah Alean yang menangis.
"Satu-satunya yang aku sesali adalah keluargaku," kata Tora dengan suara bergetar.
Masih terekam jelas bagaimana sidang kemarin. Ketika tuntutan dibacakan, ketika dokter bernama Bianca bersaksi, ketika ia ditetapkan sebagai terdakwa. Keluarganya begitu terpukul. Ayah dan July yang memalingkan muka dengan getir, Bunda yang semakin tersedu, dan Amanda yang menitikkan air mata.
Rasa sesal di hati Tora semakin membumbung ketika keluarganya tetap memperlakukannya dengan baik. Mereka bukan saja memberinya dorongan mental, mereka pun berkeras untuk menyelamatkan Tora. Padahal siapapun juga tahu, tidak ada harapan sama sekali.
Dan yang lebih menyakitkan adalah kata-kata Amanda sebelum dirinya digiring ke dalam sel. Dengan nada yang sama, dengan komposisi yang serupa, ia berkata, "Aku sama Rama nungguin Mas pulang."
Gara-gara kalimat tersebut sebiji air mata lolos dari mata Tora. Tangis setitik itu berubah menjadi isakan. Lama-lama Tora pun semakin tergugu. Ya Tuhan, lirihnya dengan bahu naik turun. Ia benar-benar merasa berdosa. Di saat Tora melakukan hal bodoh untuk perempuan lain, istrinya masih tetap mendoakan sekaligus mendukungnya dengan setia.
"Alean," Tora memanggilnya untuk melenyapkan ingatan nyeri itu. "Kamu nggak perlu merasa bersalah. Sepenuhnya perkara ini adalah salah aku."
"Ak..."
Tora memotong ucapannya melalui sentuhan telunjuk di bibir. Kemudian Tora memegang wajah Alean dengan kedua belah tangannya. Lantas ditatapnya mata sebening madu itu dengan tegar, dipaksakannya senyum meskipun pada akhirnya hanya kegetiran yang terlukis.
"Saya sayang kamu, Alean," kecapnya. "Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Dan sekarang, jalan kita udah benar-benar terpisah."
*
*
*
Setelah sidang yang menentukan bahwa status tersangka Alean dicabut, masalah tidak langsung hilang. Keesokan harinya, orang yang paling tidak ingin ditemui Alean muncul. Dan tanpa ba-bi-bu, ia langsung menembak Alean dengan kata-kata menyakitkan.
"Mereka memang bukan anak Sharman, tapi akulah ibu kandungnya."
Alean sangat tahu hendak ke mana arah pembicaraan Donna. Namun meskipun ia sudah mencium sesuatu yang buruk, meski ada sebagian hatinya yang berkata: "enak betul jadi Donna, ya. Dulu seenaknya ninggalin Delvin dan Melvin. Terus sekarang mau ngambil gitu aja?", syukurlah Alean masih bisa menguasai diri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tesmak
ChickLitSetelah hidupnya dipermainkan nasib--di mana ayahnya kabur dan kekasihnya menghamili gadis lain--, Alean kembali digoda oleh suratan takdir. Ia yang hanya seoongok anak jadah diperebutkan LIMA lelaki sekaligus!!! 1. Cinta pertama yang pernah mengk...
