“Kalau dalam hitungan tiga kalian nggak muncul, aku tinggalin!” Alean berteriak ke arah pintu kamar. “Satuuuuu.”
“Bentar, Alean! Bentaaaarr.”
“Delvin, mana deker aku?”
“Cari sendiri, dong! Aku juga lagi buru-buru.”
“Duaaaaa!”
“Alean, tunggu bentar! Ih, Delvin! Tanggung jawab, dong! Siang ini aku tanding. Masa nggak pake deker?”
Alean mencebik kesal. Diliriknya jam di dinding yang sudah melenggang lebih jauh. Diteriakannya, “Tiga!”
Terburu-buru Delvin dan Melvin muncul dari pintu kamar. Kehadiarannya sangat gaduh. Yang memakai ransel biru bahkan nyaris terpeleset kalau tangannya tak bertumpu pada meja. Ketika mereka mendatangi rak sepatu, adegan berikutnya malah semakin ribut. Dua-duanya balapan memakai sepatu. Sahut-menyahut, bahkan senggol menyenggol.
“Yeee, aku menang!Aku menang!”
Alean melihat Delvin berjingkat-jingkat ke arah mobil. Ketika Delvin hendak membuka pintu mobil, Melvin muncul tergopoh-gopoh. Dengan cepat ia menghalau saudara kembarnya masuk ke mobil.
“Sekarang giliran aku duduk di depan!” sungut Melvin sambil terengah-engah.
“Nggak bisa! Perjanjiannya kan, yang menang yang duduk di depan.”
“Kemarin kamu udah duduk di depan. Gantian, dong!”
Delvin dan Melvin masih berseteru. Ketika Delvin hendak mencapai pintu maka Melvin akan menarik dengan kasar. Pun sebaliknya. Hal itu membuat Alean geram. Tidak ada satupun dari mereka yang mau mengalah.
“Stoooooop!” pekik Alean sambil menatap ke arah mereka. “Kalau kalian masih ribut, mending kalian pergi sendiri.”
Delvin bergerak gesit. Cepat-cepat ia menyelinap ke kursi depan.
“Delvin!” bentak Melvin siap menarik kakaknya kembali.
“Melvin, masuk sekarang!” titah Alean sambil memasang sabuk pengaman.
Dengan uring-uringan Melvin duduk di kursi belakang. Ia semakin sebal ketika melihat Delvin yang tersenyum penuh kemenangan. Huh, Delvin curang! Awas aja, pulang nanti biar aku yang duduk di depan.
“Bekalnya dimakan dulu,” kata Alean ketika mobil mulai melata.
“Lean udah makan?” tanya Delvin sambil membuka mistingnya.
Alean menambah gigi lalu menginjak pedal gas barulah menjawab, “Nanti aja di kantor.”
“Delvin suapin, ya. Aaaa....”
“Delvin, aku lagi nyetir. Kalau kamu nggak duduk, nanti bakal jatuh. Nasinya bisa tumpah.”
“Delvin sok baik banget, sih!” celetuk Melvin dari kursi belakang.
Alean memotong perdebatan sebelum terjadi, “Itu sayurnya dimakan juga, dong!” Ia memutar setir beberapa derajat ke arah kanan. “Melvin, kamu juga sama. Aku bisa ngelihat kamu dari sini. Kalau sayurnya nggak abis, aku nggak akan nonton pertandingan nanti sore.”
“Melvin makan sayurnya, kok. Ummmm..... enak banget!”
Empat puluh menit kemudian mereka baru sampai di depan sekolah. Tiga perempat jam hanya untuk datang ke SD rasanya terlalu lama, tapi inilah kenyataan. Sekolah Delvin dan Melvin memang jauh. Dulu Sharman bilang, ia sengaja memilih SD ini sebab mutu dan kualitasnya terpercaya.
“Lean, jangan lupa pertandingannya jam 4 sore,” Melvin berpesan ketika turun dari mobil.
“Iya, Melvin. Sebelum jam 4, aku pasti udah ada di sana.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Tesmak
Literatura FemininaSetelah hidupnya dipermainkan nasib--di mana ayahnya kabur dan kekasihnya menghamili gadis lain--, Alean kembali digoda oleh suratan takdir. Ia yang hanya seoongok anak jadah diperebutkan LIMA lelaki sekaligus!!! 1. Cinta pertama yang pernah mengk...
