Meskipun kejiwaan bukanlah bidangnya, Segara setuju dengan pendapat psikolog yang berbuyi : karakter seseorang dibentuk oleh dua hal. Yakni, gen dan lingkungan. Ia juga percaya kalau usia 18 tahun merupakan titik kematangan manusia, di mana pada titik tersebut kepribadian dasar seseorang tidak akan banyak berubah.
Situasi itu dialaminya sendiri. Di mana ia bisa memiliki sifat penyayang pada dua objek berbeda. Yang pertama pada anak kecil, sementara yang lainnya pada cewek-cewek. Jika ditanya kenapa bisa demikian, maka tuduhkan kalimat bersoal tersebut pada orangtuanya.
Ibu Segara bernama Eva. Beliau merupakan guru seni di salah satu sekolah dasar. Kepribadiannya yang lembut, keibuan, serta mencintai anak kecil menjadi panutan Segara sejak dulu. Dia pula yang membentuk Segara sebagai orang yang mampu menaklukan anak-anak.
Dulu, sebelum Segara menginjak dunia pendidikan, ibunya sangat sering mengajak Segara ke sekolah tempatnya mengajar. Di sana Segara bisa menyaksikan betapa hebatnya sang ibu. Yang dipuja anak-anak, yang selalu tersenyum, dan yang tak pernah marah kendatipun anak ajarnya nakal-nakal.
Segara sangat dekat dengan ibunya. Wanita yang mengenalkan Segara pada drum itu selalu tampak memesona di matanya. Entah masakannya yang enak-enak, entah kelihaiannya bermain alat musik. Salah satunya piano. Dulu, setiap sore di pukul lima, Eva selalu menyanyikan sebuah lagu diiringi piano. Dan tentu saja, di sampingnya berdiri tegak Segara kecil yang menatap takjub bercampur bangga.
Beda Eva, beda pula sang ayah. Lelaki bermarga Elgamal itu merupakan sumber ketakutan Segara ketika masih kecil. Ia diktator yang selalu menggugat Segara ini-itu. Salah satunya jurusan kuliah. Ia menuntut Segara supaya bergelar ST padahal ia tahu anak lelakinya memiliki bakat di bidang musik.
Untunglah Segara memiliki ibu sebaik Eva. Kalau saja wanita itu tidak memupukinya cinta, sudah pasti jiwa Segara dapat terganggu. Ah, Mami memang luar biasa. Itu yang sering Segara gumamkan dalam hati. Mami adalah panutannya, idolanya, kebanggaannya. Jika boleh memilih, Segara hanya ingin tinggal dengan Mami. Tidak usah ada Papi. Menurutnya, Papi tidak pantas dijadikan teladan. Sudah galak, hobinya pun meraba-raba betis.
Betis sekretarisnya, tentu saja.
Well, si hidung belang inilah yang membentuk Segara menjadi buaya darat. Dari kecil Segara sering melihat ayahnya merangkul perempuan berbeda setiap minggunya. Bilangnya sih cuma teman. Dan karena saat itu Segara masih terlalu pandir makanya dia percaya. Tapi lama-lama Segara gerah juga. Terlebih saat Mami tidak bereaksi--sama sekali-- padahal Segara yakin kalau yang berciuman di dalam lift memang Papi.
Dan sikap Mami itulah yang membuat Segara yakin kalau cinta terhadap pasangan hanyalah bualan. Oke, Mami memang memberi Segara cinta. Namun cinta tersebut adalah cinta terhadap anak. Bukan cinta terhadap teman hidup!
Segara memanifestasikan kekesalan terhadap orangtuanya --terutama sang ayah-- dengan cara menentang segala aturan. Segala yang dimintanya selalu dikeparatkan. Apapun yang diterapkan tak diacuhkannya. Selain itu, Segara pun kerap kali membuat sang ayah naik darah dengan segala tingkah. Bolos sekolah, menghabiskan uang bulanan sesingkat mungkin, ikut tawuran, dan menghamburkan harta ayahnya bersama perempuan berbeda setiap minggu.
Untuk indikasi terakhir, awalnya memang karena bentuk protes. Tapi lama-lama Segara sadar kalau bermain dengan wanita merupakan kenikmatan tak ternilai. Lebih-lebih kalau wanita tersebut susah ditaklukan. Contohnya, Bianca di beberapa tahun lalu.
Dokter cantik yang sedang bertugas di kotanya itu amat sulit didekati. Kalau diibaratkan, dia seperti punai. Dari jauh kelihatan minta dibelai. Namun begitu didekati, ia akan mengepakkan sayap dan terbang dengan bebas.
Segara sudah mencoba berbagai trik untuk mendapatkannya. Ia bahkan sudah diledeki teman-temannya lantaran belum mampu menaklukan seorang dokter. Padahal biasanya, tiga hari saja dia bisa menggaet gadis yang diinginkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tesmak
Literatura FemininaSetelah hidupnya dipermainkan nasib--di mana ayahnya kabur dan kekasihnya menghamili gadis lain--, Alean kembali digoda oleh suratan takdir. Ia yang hanya seoongok anak jadah diperebutkan LIMA lelaki sekaligus!!! 1. Cinta pertama yang pernah mengk...
