"Mamaaaa!"
Teriakan itu muncul ketika Alean sedang memasukkan buku-buku ke dalam kardus pindahan. Begitu pelakunya menampakkan batang hidung, Alean tahu Melvinlah yang memekik sekencang itu.
"Delvin sama Devline pacaran, Ma!" sahutnya sambil terengah-engah. "Norak banget! Melvin sampai malu ngelihatnya."
Belum sempat Alean menjawab, Delvin muncul tanpa diundang. Keringatnya tak kalah banyak dari sang adik. Pun dengan napasnya yang tersenggal-senggal.
"Marahin, Ma! Marahin," adu Melvin sambil menunjuk-nunjuk muka kakaknya. "Delvin badboy! Huuu. Titisan Yanglek!"
Delvin hendak membela diri namun Melvin tak berhenti bicara. Mulut adiknya itu nyerocos tanpa jeda. Seandainya belum berbusa, barangkali ia memang takkan berhenti. Huh! Kalau saja ia lebih kuat, ingin rasanya ia menggebuk mulut Melvin sampai jantor. Persis kalau mereka makan seblak pedas di kantin.
"Delvin mau ngomong sesuatu sama Mama?" tanya Alean setelah Melvin berhenti bersuara. "Mau di sini, atau di kamar?"
"Di sini aja. Biar Melvin juga denger." Anak itu melirik kembarannya lalu mengerucutkan mulut. "Kita mau pindah kan, Ma? Makanya mesti pamit sama temen-temen di sini. Nah, barusan Delvin pamit ke Devline. Tapi Melvin marah gara-gara kelamaan. Dia ngira Delvin ngerebut Devline sebagai temen main. Padahal nggak, Devline-nya aja yang pengin ngobrol lama-lama."
"Delvin bohong, Ma!" serobot Melvin sengit. "Dia yang ngedeketin Devline. Huh, dasar genit!"
"Melvin jangan sebar fitnah gitu, dong!" tukas Delvin. "Si Devline yang genit, bukan aku!"
Perdebatan belum selesai. Keduanya masih asyik menyalahkan. Saling tuduh, saling tukas. Sebenarnya Alean tahu, ini cuma masalah sepele. Pasti karena Melvin merasa cemburu teman mainnya dekat dengan Delvin. Padahal kemarin-kemarin, Delvin selalu judes pada gadis cilik itu. Ah, anak kecil memang lebay. Yang begitu saja bisa jadi masalah.
"Udah selesai?" tanya Alean setelah keduanya kelelahan. "Kalau belum, silakan selesaiin di kamar. Bicarain baik-baik, tapi jangan main fisik."
Seperti itulah Alean mendidik anak-anaknya. Ia akan memberi mereka waktu untuk menyelesaikan masalah secara personal. Ia sengaja tak ikut campur sebab hal tersebut bisa menjadi pelatihan untuk keduanya. Nanti setengah jam kemudian——kalau mereka belum juga baikan——barulah Alean turun tangan. Ia akan menasihati, kemudian memastikan mereka tak marahan lagi.
Dua bocah itu masuk ke kamar dengan uring-uringan. Ketika siluetnya ditelan sekatan, pintu di ruang tamu diketuk seseorang. Cepat-cepat Alean memasukkan buku terakhir, kemudian menghampir ke sumber suara, dan menyambut sang tamu.
"Selamat siang, Ibu Cantik."
Sebelum Alean sempat menjawab, laki-laki di hadapannya langsung menerobos masuk. Ia menutup pintu, mengunci rapat-rapat, barulah duduk di sofa.
Alean belum bisa menggerakkan lidah. Otaknya berkecamuk tak karuan. Satu sisi mengiyakan bahwa pemuda di hadapannya adalah Segara. Sementara yang sudut lain mengatakan bahwa ini cuma khayalan. Persis seperti kemarin-kemarin.
Tiga kali berturut-turut bunga tidurnya dihinggapi Segara. Dalam mimpi tersebut diceritakan bahwa Segara melakukan perjanjian lisan dengan Bianca. Kalau Alean bebas dari kasus maka Segara harus menikah dengan Bianca. Hal itu dikarenakan Bianca berperan penuh dalam pembebasan Alean.
Meski cuma mimpi, tak ayal Alean merasa ngilu dibuatnya. Ketika Segara mengucapkan janji suci, menyematkan cincin, dan mengecup kening Bianca, semua itu membuat Alean meringis tak tertahan. Bukan saja karena ia merasa terluka, tapi murungnya muka Segara seperti menjelaskan bahwa pemuda itu amat begitu terpaksa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tesmak
ChickLitSetelah hidupnya dipermainkan nasib--di mana ayahnya kabur dan kekasihnya menghamili gadis lain--, Alean kembali digoda oleh suratan takdir. Ia yang hanya seoongok anak jadah diperebutkan LIMA lelaki sekaligus!!! 1. Cinta pertama yang pernah mengk...
