pelanggaran

4.3K 350 9
                                        

Kebimbangan yang meliputi hati bukanlah hal yang Clara inginkan, tetapi apa boleh buat. Sejak dia tahu tentang keturunannya, semenjak itulah dia selalu merasa bimbang dan gelisah.

Dibandingkan kedua temannya yang tertidur pulas di atas ranjang. Clara hanya duduk di atas sofa dan terus memikirkan strategi yang akan dia lakukan saat melakukan misinya tersebut.

Pukul setengah dua belas malam itu. Clara, Niora, dan Keyla bergegas keluar dari kamar menuju perpustakaan. Malam itu sangat gelap, hanya ada cahaya lilin yang mereka bawa.

Mengendap-endap di koridor-koridor kastil, melihat ke seluruh arah setiap saat untuk memastikan tidak ada yang melihat mereka.hingga sampai di tempat tujuan yaitu perpustakaan.

" Pintu perpustakaan terkunci. " Ucap Keyla yang sepertinya sangat mengantuk.

Clara melihat pintu tersebut dan hanya diam untuk mengingat mantra yang pernah diajarkan sebelumnya.

" Sepertinya aku ingat mantranya. " Ucap Niora yang mengeluarkan tongkatnya. " Anoichto ! " Ucapnya sambil mengetuk kunci pintunya. Kunci menceklik dan pintu menjeblak terbuka.

" Clara ! " Terdengar suara dari belakang mereka, sepertinya sangat marah. Dan merekapun berbalik untuk melihat siapa yang memanggil.

Jantung Clara berdetak lebih cepat dari biasanya. Profesor Alcander berjalan ke arah mereka, mereka hanya berdiri gemetar.

" Belum pernah, selama aku disini... " Profesor Alcander nyaris tak bisa bicara sangking marahnya, kacamatanya berkilat-kilat. " Berani-beraninya kalian. "

" Profesor... " Ucap Keyla gugup dan ucapan nya terpotong oleh profesor Alcander.

" Diam Keyla ! " Tegas profesor Alcander menatap tajam ke arah Keyla.

" Clara, ikut saya sekarang ! " Serunya " dan kalian berdua, cepat kembali ke kamar. " Tegas profesor Alcander.

Clara sempat melihat wajah Niora dan Keyla yang penuh ketegangan. Saat dia berjalan dengan perasaan beku, mengikuti profesor Alcander entah kemana. Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi ada yang tidak beres dengan suaranya. Profesor Alcander berjalan cepat. Dan tidak memandangnya. Clara harus berlari-lari kecil agar tidak ketinggalan. Tamatlah riwayatnya sekarang, padahal belum setahun di sini. 15 menit lagi dia akan mengepak barang-barangnya. Apa yang harus dia lakukan nantinya?

Menaiki tangga pualam di dalam, dan masih saja profesor Alcander tidak mengatakan apa-apa kepadanya. Dia membuka pintu-pintu dan berjalan menyelusuri koridor-koridor, sementara Clara hanya mengikutinya dengan perasaan merana.

Profesor Alcander berhenti di depan sebuah ruangan. Dia membuka pintu dan masuk sambil menarik tangan Clara agar masuk juga kemudian kembali menutup pintu.

Ruangan tersebut tertata rapi, banyak sekali foto-foto profesor Alcander yang terpajang di dinding-dinding ruangan. Iya, itu ruangan profesor Alcander. Clara sedikit tercengang, karena ruangan profesor sangat besar.

Profesor Alcander duduk di kursi dan mengambil bukunya, membuka lembaran-lembaran buku yang sudah sangat usang tersebut dengan hati-hati. Diam tanpa bicara sepatah katapun seakan-akan tidak ada orang lain di sana selainnya.

Clara ingin sekali berbicara dan bertanya, tetapi entah mengapa dia seakan tidak dapat mengatakan apa-apa. Hingga ia sempat berfikir apa ada masalah dengan suaranya dari tadi ? Karena lelah terus berdiri akhirnya Clara pun memutuskan untuk duduk di kursi depan profesor Alcander dan tetap diam.

" Profesor.. " Ucap Clara yang akhirnya berani untuk berbicara tetapi terhalangi oleh seseorang yang tiba-tiba masuk dengan sangat ketakutan.

" Profesor Alcander, ada berita buruk." Ucap profesor Harding dengan nafas tersengal-sengal.

" Apa yg terjadi? " Ucap profesor Alcander bingung.

" Perlindung sekolah yang telah di buat telah hancur, di tambah lagi dengan hilangnya beberapa murid kelas satu secara misterius. " Ucap profesor Harding memberikan jeda sebelum akhirnya melanjutkan kata-katanyanya. " Menurut saya, dia pasti sedang menginginkan sesuatu, kau tahukan apa yang dia inginkan." Ucap nya sebelum akhirnya menatap Clara dengan sedih.

" Perintahkan semua guru untuk berkumpul, berserta semua murid ke aula utama. " Ucap profesor Alcander menghentikan ucapannya kemudian melihat ke arah clara " kecuali kau Clara, tetaplah di sini. " Ucapnya lalu pergi bersama profesor Harding yang meninggalkan Clara seorang diri di dalam ruangan.

15 menit, 20 menit, 25 menit. Clara hanya berputar-putar di dalam ruangan itu dengan perasaan bimbang. Bagaimana tidak, semua orang termasuk guru dan profesor ada di aula utama. Sedangkan dia di ruangan itu seorang diri. Ditambah dengan kedua sahabatnya yang bahkan dia tidak tahu mereka sedang apa dan di mana sekarang.

" Aku akan membunuhmu." Tiba-tiba ada suara yang bergema di dalam ruangan tersebut. Suaranya sangat melengking dan mengerikan, entah sejak kapan ruangan tersebut terasa sangat mengerikan.

" Sreet...." sebuah bayangan hitam melintas cepat di depan Clara sebelum akhirnya bayangan tersebut lewat di hadapan clara.

" Aaa !!! " Clara menjerit ketakutan, dan akhirnya pingsan.

Sebelum ia pingsan, ia sempat mendengar suara profesor Alcander yang sedang mengucapkan mantra dan mengeluarkan cahaya putih. Dan satu hal lagi, makhluk itu. Dengan tubuh seperti bayangan dan wajah seperti malaikat pencabut nyawa, menambah pertanyaan dari pikiran Clara. Siapa makhluk itu? Apa tujuan nya? Apa dia yang mengucapkan kalimat yang mengerikan tadi ? Kenapa harus dia yang menjadi korbannya, kenapa tidak orang lain saja ? Pertanyaan itu terus berputar-putar di pikiran Clara yang sayangnya ia sudah duluan pingsan sebelum sempat menanyakan pertanyaannya.

👑👑👑👑👑

Sedikit demi sedikit Clara sudah mulai mendapatkan kesadarannya. Ia berada di sebuah ruangan putih yang penuh dengan tempat tidur dan obat-obatan di sekelilingnya. Iya, di mana lagi kalau bukan di rumah sakit sekolah. Clara tidak sendiri di ruang itu, ada Niora, Keyla dan profesor Alcander yang sedang berdiri di sekeliling tempat tidur nya.

" Makhluk itu. " Ucap Clara yang melihat ke arah profesor Alcander. Sebenarnya ia tidak ingin menanyakan hal itu, tetapi entah mengapa pertanyaan itu yang terucap.

" Jangan khawatir, itu hanya penjaga sekolah ini. Mungkin dia merasa kalau kau adalah orang asing yang memasuki ruanganku. " Ucap profesor Alcander menjelaskan.

Penjaga sekolah katanya? Gumam Clara dalam pikirannya. Apakah ada sekolah yang memiliki penjaga seperti itu? Apa aku telah masuk sekolah yang penuh dengan orang-orang gila? Bagaimana bisa mereka memiliki penjaga sekolah seperti itu?

" Kami akan masuk ke ruang utama apa kau ingin istirahat di sini? " Ucap Keyla yang memecahkan lamuan Clara.

" Tidak, aku ikut kalian saja. " Ucap Clara bangkit dari tempat tidur dan berjalan pergi ke ruang utama.

Sedangkan Profesor Alcander yang masih di ruang rumah sakit menghembuskan napas berat, sedang memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya, dan akan ia mulai dari mana. Menjadi incaran raja iblis itu bukanlah hal yang bisa dianggap biasa, karena kapan pun dan di manapun mereka bisa saja mendapatkan serangan mendadak. Tapi satu yang mengusik pikiran Alcander selain itu, yaitu adalah Rian. Kenapa Rian tidak menjadi incaran raja iblis juga ? Kenapa hanya Clara ?


Adventure Of Witches ElementCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang