Hujan Kemarin Yang Belum Juga Reda

315 28 10
                                    

Hujan selalu saja membawa kenangan yang pernah kita lalui. Setiap rinainya membawa kesedihan dan kebahagiaan yang datang silih berganti. Membuat hati resah, dada sesak, dan semua penyesalan itu hadir mengaduk hati.

Inilah aku yang mencoba membunuh semua sakit hati. Tapi bukan berarti aku harus membunuh juga perasaanku kepadamu. Aku hanya ingin menghapus rasa sakit hati, kecewaku, serta nestapaku.

Sakit hatiku bukan apa-apa, hanya karena kekecewaanku kepadamu yang telah berjanji mencintaiku sehidup semati. Tapi nyatanya tidak, kau pergi membawa hatiku. Dengan apa lagi aku hidup sedang hatiku telah kau bawa pergi. Kekecewaanku hadir karena aku berharap kepadamu. Berharap engkau akan menjadi bagian dari hidupku. Berharap engkau akan menjadi seseorang yang patut untuk diperjuangkan. Tapi nyatanya tidak, kau membunuh harapanku. Memutus talinya, dengan tarikan yang maha kejam.

Apa kamu tidak menyangka, atau pernah berpikir sebelumnya. Mencintai adalah hal yang sulit. Hal keseriusan, bukan mainan atau hanya sebagai pelengkap dalam hidup. Tapi cinta selalu ada di setiap nafas kita. Kita lahir karena cinta, kita hidup karena cinta. Lantas, dengan apa lagi engkau mengelak dan mengatakan bahwa cinta hanyalah barang yang tidak patut diperjuangkan.

Boleh saja, jika saat ini engkau membuatku menangis. Silahkan. Tapi engkau akan merasakan apa yang aku rasakan, cepat atau lambat. Tapi itu akan terjadi.

Nanti engkau akan merasakan derasnya hujan di pelupuk matamu, selayaknya hujan yang pernah aku rasakan.

Aku akan bahagia, dan kau sebaliknya. Tapi jangan pernah kau sesali. Sebab hujan yang kemarin  belum juga reda, hujan yang kau cipta di pelupuk mataku.

*Demi Kamu

Membunuh SepiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang