Inilah aku, sang kupu-kupu yang tak pernah menjadi kupu-kupu. Apa kabarmu disana? Rinduku sudah berada di tahap yang menyesakkan. Ingin sekali kuhapus jarak diantara kita. Namun, semua itu adalah hal yang sia-sia. Sebab sepasang sayapku telah patah karenamu. Dengan apa lagi aku terbang menemuimu, jika semua harap yang pernah kau tumbuhkan untukku. Kau putuskan. Dan mungkin, cita-cita suciku untuk hidup bersamamu tinggallah cita-cita yang berdebu. Apakah kau baik-baik saja? Dan tetap baik-baik saja? Aku merasa khawatir jika pada akhirnya kamu menyesali apa yang pernah kamu perbuat kepadaku. Juga akan kukutuk segala hal yang membuat airmatamu mengalir. Ingin kusentuh kembali uraian panjang rambutmu, ingin kuseka kembali setiap airmata yang pernah jatuh di pipimu.
Tapi, aku hanyalah kupu-kupu yang tak pernah menjadi kupu-kupu. Langkahku merangkak. Hilang kepak-kepak sayap yang dulu membawaku bertualang panjang terbang dengan gembiranya. Aku takut untuk sekedar menanyakan kabarmu. Takut untuk bertemu kamu lagi, padahal rindu sudah pada tahap yang menyesakkan. Aku tidak membenci kamu, hanya saja aku takut jika tak bisa bersikap sewajarnya di hadapanmu. Aku tidak bisa menatap matamu sebagai mata orang lain, sebab cinta itu masih ada. Aku tidak bisa tersenyum padamu sebagai orang lain. Sebab kasih itu masih membekas dalam di hatiku. Aku juga tidak bisa berbicara denganmu sebagai orang lain. Sebab sayangku masih ada untuk kamu.
Mungkin, kubantai semua rindu dengan menatap setiap potret dirimu. Biarlah tak pernah kulihat lagi bayangku ada di matamu. Mata yang dulu begitu anggun menatapku secara tulus. Mata yang tak pernah berbohong dengan hati, dan kini berubah menjadi mata orang asing yang seolah-olah tak pernah menatapku. Biarlah tak pernah lagi kulihat secara langsung bibir itu tersenyum kepadaku. Bibir yang dulu tulus mengucapkan janji-janji setia. Janji untuk selalu bersama. Namun, semua itu diingkari pemiliknya.
Biarlah aku menatap potretmu saja. Karena potret tak pernah berubah, meski orang yang ada di potret itu telah berubah.
*Demi Kamu

KAMU SEDANG MEMBACA
Membunuh Sepi
Poetry(Proses Terbit) Untuk yang mencintai lalu dibenci Untuk yang datang lalu pergi lagi Untuk yang setia lalu dikhianati Untuk yang teguh mempejuangkan lalu dipatahkan Untuk yang memendam lalu terlambat menyatakan, Untuk kamu yang patah hati, Merindukan...