Budayakan vote sebelum membaca ya :) walau sederhana itu suntikan semangat bagi penulis lho. Hehe. Jangan jadi sider oke? Bonus komen juga gppah jangan takut aku gamakan orang kok, wkwkwk.
Sudah?
Oke, happy reading!!!
*****
"Al?" panggil Mama saat aku hendak menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulut. Hari ini kita sarapan tanpa Ayah. Karena Ayah sudah berangkat ke tempat kerjanya pagi-pagi sekali tadi, entah ada urusan apa.
"Ya?"
"Nanti yang jemput sama yang nganter kamu Mama aja yah? Abang kamu ada study tour ke Bandung." Aku menoleh ke arah Kak Radhit, meminta penjelasan darinya. Ia hanya tersenyum miring sembari menggidikkan bahunya—sombong.
Aku mengangkat bahu tak peduli. "Kalok Alyssa mah terserah aja, sih. Emang Mama masih gak kerja hari ini?"
"Rumah Sakitnya belum selesai di renov," terang Mama aku hanya ber-oh ria menanggapi perkataan Mama.
"Ayah tadi malam pulang jam berapa, Ma?" Kak Radhit membuka suara. Akhir-akhir ini Ayah sering pulang malam, dan berangkat pagi-pagi sekali. Sehingga waktu keluarga kami sedikit berkurang, dan aku hanya bisa berdoa semoga saja tidak terjadi apa-apa di kantor Ayah.
"Sekitar jam sebelasan, ada sesuatu yang penting harus Ayah lakukan di kantor. Maklum lah, 'kan kantor Ayah masih baru." Mama tersenyum, mungkin dia mengerti perasaan khawatir yang melanda pada aku dan Kak Radhit. Jadi dia mencoba meyakinkan kami kalau di kantor Ayah tidak terjadi apa-apa, dan aku harap juga begitu.
*****
"Lav, si Aland mana sih?" aku mengguncang lengan Lavie, yang sedari tadi disibukkan menyalin catatan biologi dari bukuku. Mendengar pertanyaan yang lebih mengarah pada tuntutan itu Lavie menghentikan kegiatannya, menatapku lekat. Ya. Aland hari ini lagi-lagi tidak masuk. Fikiran kalau ia benar-benar marah semakin memenuhi kepalaku, sudah tiga hari ia tidak muncul.
"Mana gue tau! Seharusnya 'kan elo yang tau, lo 'kan tetangganya," sungutnya. Aku mengusap wajahku kasar, pasalnya selama beberapa akhir ini Aland tidak lagi sering ke rumah, apalagi sekarang gak ada Kak Radhit.
"Dia gak muncul-muncul, Lav. Juga dia sekarang gak pernah ke rumah lagi. Rumah dia juga sepi, biasanya kalok sore Cantika suka main di teras depan. Tapi selama tiga hari ini gaada." Lavie yang mulai tertarik ke arah pembicaraan, kini menaruh pulpennya, pandangannya kini benar-benar fokus padaku.
"Atau mungkin dia pindah ya?"
Aku memutar bola mata, Lavie otaknya memang tidak pernah sinkron. "Yakali, Lav. Masa iya dia pindah rumah lagi, pekerjaan bokapnya sekerang 'kan menetap. Gak mungkinlah! Baru berapa bulan si Aland pindah kesini? Gak lama 'kan? Emang Aland manusia apaan yang pindah-pindah terus," sungutku tak terima, Lavie terlihat berpikir sebentar. Melihat ekspresi bingungnya aku melanjutkan, "Kalok misalnya Aland pindah, otomatis sekolahnya pindah juga 'kan? Lah, dia sekarang aja gak masuk karena izin, bukan mau pindah sekolah."
"Iya juga yah," ujar Lavie sambil mengangguk-angguk kepalanya. "mungkin dia lagi kerumah saudaranya kali, makanya dia gak masuk."
"Apa dia marah ya sama gue?" setelah lama dipikir-pikir aku akan memberitahu apa yang aku takutkan pada Lavie, mungkin saja dia punya solusinya 'kan? Aku yakin Lavie mengerti apa yang aku maksud.
"Makanya jangan gegabah!" ucap Lavie sedikit menekan pada setiap kalimat yang diucapkan. Aku mengernyitkan dahi. Aku tarik ucapanku tadi, Lavie bukan ngasih solusi tapi semakin membuatku pusing.
"Lo bantu mikir kek! Bukan malah nyeramahin gue!" aku mendengus.
"Yakan supaya lo gak ceroboh lagi dalam memilih dan memmutuskan sesuatu!" tandas Lavie tak mau kalah. Aku menarik napas panjang mengedarkan pandangan ke seluruh kelas berharap bisa dapat referensi yang bisa menenangkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dinosaurus I'mn love.
Teen Fiction[TAMAT] Stephanie Alyssa, si gadis biasa. Kehidupannya seperti gadis lain. Namun yang membedakannya adalah keberuntungan. Dia mampu menggenggam dua hati. Namun, tidak bisa menjaga rasa. Dia mampu menerima. Namun tidak mengerti dan tidak berusaha unt...
