"Menghindar lalu menjauh? Pengecut sekali."—A
"Biar aku yang terluka dan kau yang bahagia."—A
"Mungkin aku salah telah menyuruhmu menjauhi kebahagiaanmu."—D
****
Drrttt drttt!!
Handphoneku bergetar tepat saat guru matematikaku keluar karena menerima telefon. Aku menghela napas, setidaknya handphoneku tidak akan disita jika berbunyi saat jam pelajaran jika gurunya keluar.
Perlahan tanganku meraba kolong meja, karena tadi aku menaruh handphoneku disana. Setelah dapat aku mengeluarkan dan melihat pesan yang masuk. Dari Mama.
Mama: Mama sama abang kamu gak bisa jemput kamu nanti, kamu pulang sama Dave ya, mama udah bilang kok.
Aku hanya membaca pesan itu karena guruku sudah memasuki kelas. Aku mendesah, melihat ke samping bangkuku.
Aland masih tidak masuk.
Mungkin dia menjaga Cantika 'kan? Cantika pulang dari rumah sakit kemarin. Sudah empat hari setelah kejadian itu, dan selama empat hari itu pula Aland tidak masuk sekolah. Kalau dia keseringan tidak masuk sekolah apa kabar dengan nilainya nanti? Atau mungkin dia punya guru sendiri yang mengajarnya supaya tidak ketinggalan pelajaran? Kenapa Aland tidak masuk sih? Kan Cantika sudah banyak yang menjaga.
Kenapa harus aku yang pusing memikirkan? Dia saja belum tentu memikirkanku.
Eh? Memangnya aku berharap untuk dipikirkan?
"Alyssa!"
Aku terkesiap. Teriakan dari guru paruh baya itu sukses mengangetkanku. Karena teriakan itu pula aku menjadi pusat perhatian anak kelas. Jantungku mendadak jumpalitan.
"I-iya pak?" Setelah aku mengatakan hal itu dengan suara terjelek yang aku punya tawa anak kelas mengisi langit-langit ruangan. Jika bisa aku akan memilih menenggelamkan diri ke rawa-rawa daripada dibuat malu seperti ini.
"Kerjakan nomer 4!" titahnya sambil menunjuk tulisan-tulisan yang sukses membuatku pusing di papan sana dengan penggaris kayunya. Tawa anak kelas mulai mereda saat melihat pelototan matanya.
Maka, dengan rasa malu yang ada aku berjalan ke depan dengan hati-hati. Sial! Aku mana ngerti sama yang dijelaskan olehnya sedari tadi?
Sepertinya aku akan dipermalukan lagi.
***
Kira-kira apa yang membuat Aland bersikap seperti itu padaku?
Bersikap dingin, tawa tak lagi menguar dari mulutnya bahkan senyum pun tidak, lalu saat di rumah sakit dia malah menyuruhku menjauh darinya. Dan sekarang, dia jarang sekali masuk sekolah. Tirai kamarnya tak pernah lagi terbuka. Biasanya kalau pagi kami sering bersamaan membuka tirai kamar jendela. Tapi sekarang? Aku sudah lupa kalau itu dulu sempat menjadi kebiasaan kami.
Saat aku mengunjungi Cantika di rumah sakitpun aku tak pernah melihat batang hidungnya. Bahkan, demi melihat Aland kemarin hari minggu aku memutuskan menjaga Cantika dari pagi hingga sore. Namun, yang kudapatkan adalah Aland tetap tidak muncul di sana.
Sempat aku bertanya pada Tante Fina—Mama Aland—kemana Aland pergi, kata tante Fina Aland sedang keluar dengan Ayahnya. Dari pagi sampai sore. Dan mungkin sampai malam Aland tidak ada di rumah sakit. Apakah itu yang dinamakan menjaga? Kalau peran dia di rumah sakit hanya datang lalu pergi kenapa tidak sekolah saja?
KAMU SEDANG MEMBACA
Dinosaurus I'mn love.
Fiksi Remaja[TAMAT] Stephanie Alyssa, si gadis biasa. Kehidupannya seperti gadis lain. Namun yang membedakannya adalah keberuntungan. Dia mampu menggenggam dua hati. Namun, tidak bisa menjaga rasa. Dia mampu menerima. Namun tidak mengerti dan tidak berusaha unt...
