"Datang, memberi warna, lalu pergi. Tujuan kamu apa? Jika hanya memberi luka kenapa kau menyempatkan bahagia menyapa?"—A
"Cinta tak selalu tentang bahagia, luka turut ada di dalamnya."—A
"Luka? Sejak awal sudah kulahap habis demi membuatmu bahagia."—D
*****
Rumah dalam keadaan sepi saat aku menginjakkan kaki di sana. Setelah mengantarku pulang, kak Radhit langsung kembali ke kampusnya seperti biasanya.
Aku melangkahkan kaki menuju dapur. Bau harum masakan langsung tercium ketika aku ada di ambang pintu.
"Assalamuaikum, Ma."
Mama yang tengah menggoreng sesuatu di kompor menoleh ke arahku, tersenyum lalu menghampiriku. Aku menyalaminya.
"Waalaikum salam, kok pulangnya lama?"
"Kak Radhit masih ada di kampusnya tadi," jawabku lalu melangkahkan kaki menuju kulkas, membuka pintunya lalu mengambil sekotak jus mangga lalu menuangkannya pada gelas yang tersedia di samping kulkas.
"Kak Radhit langsung balik?" Mama kembali melanjutkan acara goreng-menggorengnya.
Aku mengangguk lalu meminum jus di tanganku, menyadari kalau Mama tidak sedang memperhatikan aku yang mengangguk, aku kembali berkata, "Iya." Kemudian mendaratkan pantatku di salah satu kursi di kitchen island. "Bi Inah kemana?"
"Nyiram bunga di belakang. Oh, ya. Di kamar kamu ada Cantika dia ma—"
Aku mengeluarkan cairan jus yang sudah masuk kedalam mulutku, mama segera menoleh dengan isyarat wajah menanyakan padaku apa yang terjadi.
"C—Cantika ada di kamar Alyssa?" aku rasa saat ini wajah goblokku yang terpasang. Ragu, mama mengangguk. Dengan cepat aku beranjak dari tempat dudukku lalu berlari menuju kamarku di lantai dua.
"Jangan lari-lari Al! Ntar jatuh!!" teriakan mama tak kupedulikan. Kamarku sedang dalam bahaya sekarang! Aku harus cepat-cepat sampai jika tidak mau kejadian di hari itu terulang kembali. Atau mungkin... sekarang kamarku sudah seperti kapal pecah... lagi.
Ah, sial.
Sampai di lantai dua aku melihat pintu kamarku terbuka sedikit, mengisyaratkan agar aku cepat-cepat menghampiri kamarku agar ia tidak tersiksa lebih lama lagi. Dengan napas yang tidak teratur karena kegiatan tadi, aku membuka pintu kamarku dengan keras, menimbulkan bunyi yang sedikit nyaring. Saking kerasnya tubuhku turut terhuyung menabrak pintu.
"CANTI—" teriakanku terhenti saat mendapati sosok anak kecil tengah meringkuk di kasur kamarku, rambut panjangnya menutupi sebagian wajahnya. Wajahnya begitu tenang, matanya masih tertutup. Iya, itu Cantika.
Menghiraukan posisinya, mataku menyapu seluruh isi kamar, mencari-cari korban na'as karena monster kecil di depanku ini. Setelah merasa cukup memperhatikan kamarku yang tidak ada perubahan apapun aku menghela napas lega menyadari kamarku baik-baik saja.
Melepaskan genggaman di knop pintu aku melangkah menuju gadis kecil yang masih bergeming tak menyadari keberadaanku. Mungkin Cantika benar-benar sudah tobat 'kan? Atau dia sudah bosan menyiksa barang-barang tak berdosa yang ada di kamarku? Itu tidak terlalu penting, kamarku tetap selamat meski kedatangan monster kecil pun aku sudah bersyukur.
Aku menaruh tasku di kasur dengan hati-hati. Cantika tertidur, aku tidak mau menganggunya. Menyadari ada yang aneh aku melangkahkan kakiku mendekati Cantika. Kenapa badannya bergetar? Dia baik-baik saja 'kan?
KAMU SEDANG MEMBACA
Dinosaurus I'mn love.
Teen Fiction[TAMAT] Stephanie Alyssa, si gadis biasa. Kehidupannya seperti gadis lain. Namun yang membedakannya adalah keberuntungan. Dia mampu menggenggam dua hati. Namun, tidak bisa menjaga rasa. Dia mampu menerima. Namun tidak mengerti dan tidak berusaha unt...
