Budayakan vote sebelum membaca ya :) walau sederhana itu suntikan semangat bagi penulis lho. Hehe. Jangan jadi sider oke? Bonus komen juga gppah jangan takut aku gamakan orang kok, wkwkwk.
Sudah?
Oke, happy reading!!
•••••
"Apa yang lo lakuin ke sahabat gue sampe dia nangis? Huh!"
Aku tersentak, jantungku kembali berlarian. Vera membentakku dengan tangan yang diacungkan tepat ke wajahku setelah ia menyeretku ke tempat ini--gudang--sekarang dia menyentakku, menodongku dengan berbagai pertanyaan yang semakin membuatku lelah. Lelah dengan semuanya. Mungkin aku adalah cewek yang mudah mengeluh, menganggap semua masalah itu tidak bisa diselesaikan. Berkutat dengan perkataan orang lain bersama otakku sampai aku menemukan kepuasaan. Tapi, kuakui masalah ini benar-benar membuatku tidak tau harus melakukan apa. Ada rasa bersalah, menyesal, kesal, juga rasa yang tidak aku tau itu apa bercampur menjadi satu.
Aku juga tidak tau kenapa kalau akhir-akhir ini banyak sekali yang menyikapiku seperti ini. Vera juga Claudia. Menyudutkanku membuatku tenggelam dengan perkataan mereka. Jika boleh aku akan menyebut kalau hidupku penuh dengan drama.
Apa aku boleh melawan realita?
"Gue... Gue gak tau harus bicara, dan harus melawan dengan apa untuk menyelesaikan masalah ini, gue udah bosen. Intinya untuk sekarang, gue gak punya niatan buat Claudia nangis! Sama sekali!" tekanku pada Vera sambil menjauhkan tangannya dari wajahku sedikit mendorongnya untuk menjauh dariku, memberiku jarak untuk bernapas karena dari tadi aku diapit ke tembok olehnya. Tidak bisa bergerak. Mungkin dia pikir aku akan lari? Mungkin hal itu akan kulakukan saat melihat Vera membawa pisau dan menodongkannya kepadaku.
Cewek di depanku ini mendengus, "Stephanie Alyssa emang di kenal dengan kesokpolosannya ya?" ia tersenyum miring, kemudian bersedekap. Aku mengernyit mendengar apa yang dikatakannya baru saja. Kesokpolosan ya?
"Gue sama sekali gak ngerti apa yang lo omongin sekarang. Claudia kemarin berantem sama Aland terus dia ngejar gue. Udah jelas 'kan dia nangis karena siapa? Well... Kalok lo mau marah-marah jangan sama gue, karena gue gak tau apa-apa. Intinya sih, kalok mau marah-marah sama Aland aja...."
"Mereka berantem karena lo yang merusak hubungan mereka!" Vera kembali berteriak. Membuatku tertegun. Rasa itu rasa yang sangat aku benci, rasa yang selalu menguasaiku akhir-akhir ini kembali menguasai. Rasa bersalah. Apakah ada yang bisa mengembalikan waktu? Jika ada, dan bisa aku akan memperlakukan Aland seperti patung saja. Tidak mengajaknya bicara. Tidak membalas saat dia berbicara denganku. Supaya masa-masa ini--masa dimana aku dilumpuhkan oleh masalah tidak akan ada dalam catatan hidupku. Sekali lagi, bisakah aku melawan takdir? Atau mungkin jika takdir bisa diajak kompromi aku ingin tidak sama sekali mengenal Aland.
"Merusak hubungan mereka? Gue apa elo ya? Lo 'kan yang ngelapor ke Claudia kalok hubungan gue sama Aland sangat dekat? Padahal... Yang gue rasa, gue gak ada hubungan apa-apa sama Aland." Kali ini aku mengeluarkan sesuatu yang lama kupendam. Sesuatu yang terasa mengganjal kepada Vera langsung. Sekejap raut wajah Vera berubah. Namun, setelah melihatku menaikkan alis ekspresi wajahnya kembali menjadi angkuh dengan tatapan mata yang penuh amarah.
"Lo ini bodoh atau apa gue gak tau! Mungkin lo gak nyadar kalok sikap Aland ke elo itu beda tapi gue yang ngamatin Aland tiap hari. Jadi, gue tau sikap Aland. Cara Aland mandangin elo itu aja beda! Gue bilang ke Claudia itu bukan tanpa bukti ya... Gak salah 'kan kalok gue bilang lo perusak hubungan mereka?" aku mengernyit, menggelengkan kepalaku. Perkataan Vera sukses tertancap di lubuk hatiku. Perih. Perusak hubungan orang. Sehina itukah? Mendadak aku jadi kehilangan kata-kata, lidahku menjadi kelu. "Gue gak habis pikir apa yang ada di otak lo sekarang." Vera mendengus.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dinosaurus I'mn love.
Roman pour Adolescents[TAMAT] Stephanie Alyssa, si gadis biasa. Kehidupannya seperti gadis lain. Namun yang membedakannya adalah keberuntungan. Dia mampu menggenggam dua hati. Namun, tidak bisa menjaga rasa. Dia mampu menerima. Namun tidak mengerti dan tidak berusaha unt...
