"Kita menyiksa diri dengan perasaan, kau takut mengungkapkan. Sebut saja kau pengecut, walau aku juga."-A
"Lalu apa kabar denganku yang hanya bisa melihatmu dari jauh? Tidak ada apa-apanya dibanding dia yang membuatmu bahagia." -D
****
Mobil Aland menepi, kami berhenti di salah satu warung bakso terdekat. Tadi pada saat di mobil setelah kami terdiam cukup lama, suara Aland yang menanyakan hendak makan dimana berhasil merubah suasana. Dia hendak berhenti di salah satu restoran terdekat, tapi aku memintanya agar makan bakso saja. Kebetulan aku lagi ingin bakso. Dan beralihlah kami kemari warung di pinggir jalan dekat perempatan.
"Dua, mang." Aland berkata kemudian mempersilahkanku duduk. Tanpa disuruh dua kali aku segera mengambil tempat duduk. Aland di sampingku memainkan handphonenya sementara aku mengetuk-etukkan jari ke meja dengan mata yang menjelejah ke segala arah.
Bosan, aku memanggil Aland. "Land."
"Hmm?"
"Kalok boleh tau, lo berapa lama pacaran sama Claudia." Seperti mengatakan kalau aku membawa bom atom kesini Aland langsung menoleh. Beberapa detik dia menatapku lalu kembali bermain handphonenya.
"Penting banget ya?"
Sepertinya mulutku perlu dilem supaya tidak mengucapkan sesuatu tanpa memikirkan.
Merasa kalau ini adalah (benar-benar) topik yang sensitif aku akhirnya mengalah, dan mengubur rasa penasaranku dalam-dalam. Bukan apa, aku hanya penasaran dengan hubungan mereka apa mungkin mereka pacaran sebelum Aland pindah ke sini? Atau mungkin dia pacaran dengan Claudia saat dia sudah pindah ke sini? Untuk hal itu rasanya tidak mungkin, Aland baru beberapa bulan pindah dan langsung menemukan pacar itu rasanya saja tidak mungkin meskipun wajah Aland yah... tampan. Lalu putus tiba-tiba. Kurasa itu tidak masuk akal. Demi mengatasi kekepoanku kuputuskan untuk bertanya, walau yah... tidak dijawab karena akupun mengerti.
Mencoba tidak memberikan pertanyaan yang sekiranya sensitif aku akhirnya berkata, "Erm... gak dijawab gak papa kok."
Dua buah mangkuk dengan kuah bakso yang mengepul menghampiri indra penciuman kami. Setelah mengucapkan terimakasih. Kami memakan bakso itu dalam diam.
"Gue pacaran sama Claudia sebelum gue pindah ke sini. Setengah tahun lebih gue pacaran sama dia. Herannya, kita LDR-an aja bisa, kenapa pas kita deket gini malah putus." Suara aland benar-benar membuatku urung memakan bakso yang sebentar lagi akan masuk ke dalam mulut. Aku menoleh ke arah Aland, bakso sama sekali tak disentuhnya, matanya menerawang ke depan kemudian terkekeh, "Mungkin, udah bukan jodoh kali ya. Gue udah seneng banget padahal dulu saat Ayah bilang keluarga kita akan pindah ke Jakarta. Gue pikir gue bisa ngejalanin hubungan dengan Clau lebih baik lagi. Gak cuma dari handphone doang," lanjut Aland lirih. Matanya menatap nanar ke depan. Aku terdiam, seakan sengaja menyuruh Aland mengeluarkan semua unek-uneknya. Walau rasa bersalah itu kembali menghampiri, kuputuskan untuk tetap jadi pendengar yang baik.
"Gue bener-bener gak akan nyangka, sesuatu yang gue pengen dari dulu yaitu pindah ke Jakarta malah sesuatu yang buat gue nyesel. Karena pindah ke Jakarta, Claudia jadi mutusin gue. Dengan mudahnya dia sama cowok lain dan bilang kalok dia udah gak nyaman sama gue, dan alasan basi lainnya. Gue berusaha buat ngerti. Ini emang siklus hubungan. Dan gue juga udah berusaha buat memperbaikin semua hal yang ada di diri gue yang udah buat Claudia gak nyaman. Gue sampe gak jadi diri gue sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dinosaurus I'mn love.
Teen Fiction[TAMAT] Stephanie Alyssa, si gadis biasa. Kehidupannya seperti gadis lain. Namun yang membedakannya adalah keberuntungan. Dia mampu menggenggam dua hati. Namun, tidak bisa menjaga rasa. Dia mampu menerima. Namun tidak mengerti dan tidak berusaha unt...
