Chapter 35

42 11 9
                                        

"Lav, lo kelompok siapa?" tanyaku setelah mengaitkan tas ke kedua bahu.

Lavie menoleh wajahnya terlihat masam. "Ucup," jawabnya kemudian membuatku harus menahan tawa supaya tidak keluar, namun aku tidak berhasil, tawaku dengan cepat memenuhi kelas yang isinya sudah tinggal separuh ini. "Ketawa lo!! Tapi gak apa yang penting ada Aland."

Tawaku langsung menguap begitu saja.

Menyadari ada perubahan, Lavie menoleh ke arahku. Tatapannya terlihat sendu, "Kalian masih..."

Aku cepat-cepat mengangguk, tiba-tiba saja aku ingin segera mengakhiri percakapan ini.

"Kemarin pas gue dateng dari kantin muka lo kayak yang kacau banget, terus Aland bolos lagi. Kena-"

"Alyssaa!!" seseorang menepuk bahuku dari belakang, aku menoleh mendapati Dita dengan ransel yang sudah dipasangnya rapi. "Udah gak? Anak-anak udah nunggu tuh diluar. Nanti lo pulangnya bareng gue aja."

Aku mengangguk, kemudian bersyukur, setidaknya kedatangan Dita tidak membuatku lama-lama menceritakan pasal Aland dengan Lavie. Karena jika pembicaraan ini diteruskan malah akan semakin mendatangkan luka.

"Lav, gue pulang dulu ya. Bay."

Bertepatan setelah aku mengucapkan kata itu Dita cepat menarik tanganku menuju keluar menyusul anggota kelompok lain yang sudah meninggalkan kami di jalan.

Aku berjalan beriringan di sepanjang koridor bersama Dita yang tak henti mengoceh kalau aku adalah orang terakhir di kelompok itu yang tidak mengetahui apa-apa yang dijelaskannya kemarin.

"Anak-anak udah ada di jalan. Mereka pake mobilnya Firza."

Ucapan Dita berhasil membuatku melongo. "Lho. Emang Firza satu kelompok sama kita?"

Dita menoyor kepalaku membuatku melotot ke arahnya. "Tuhkan! Ke anggota kelompoknya aja gak tau! Lo parah banget deh, Al!"

"Yaelah, kan cuma gak tau nama kelompok aja Dit." Aku membela.

"Ya tetep aja."

Aku berhenti melangkah, mengambil tempat tak jauh dari tempat Dita mengambil mobilnya.

Pikiranku sedari tadi tidak pernah terfokus pada hanya satu hal, tapi fokus pada banyak h--

"Woi!" Aku memekik ketika seseorang tiba-tiba menabrak bahuku, tidak keras sebenarnya tapi tetap saja adalah tidak aturan sudah menabrak tanpa meminta maaf.

Laki-laki itu menoleh. Membuatku terdiam, terkejut akan siapa orang itu.

Aku masih mematung melihat punggung orang itu menjauh, hingga Dita membunyikan klakson mobilnya menyuruhku masuk.

Laki-laki itu adalah Dave.

Dulu saat masih tidak ada apa-apa, bermain dengannya adalah hal yang patut kusyukuri. Tertawa bersama, berlari merebutkan sesuatu mengelilingi ruang tamu, tertawa keras-keras di depan banyak orang. Dan masih banyak lagi pengalaman yang kulalui dengan Dave. Pengalaman yang menyenangkan.

Namun, nyatanya siklus hubungan juga terjadi pada kami. Dulu kita sudah hampir mirip saudara, tapi sekarang tidak usah bertegur sapa atau tertawa bersama, menoleh saja Dave tidak pernah.

Bahkan jika diambil kesimpulan atas dia yang menabrakku tadi tanpa menampilkan ekspresi menyesal telah menabrakku dan meminta maaf, mungkin Dave sudah menganggapku tidak ada. Hanya sosok transparan yang mengganggu kedamaian dunianya.

Setidaknya begitu setelah pertengkaran hebat kami terjadi di mall beberapa hari yang lalu.

"Jadi nanti, tugas lo nyari materi yang bakalan kita tampilin saat presentasi. Lo nyarinya sama Firza, Rere juga Lidya. Nyarinya pake hape masing-masing aja biar cepet." Dita mengoceh di dalam mobil, menjelaskan apa-apa yang akan kukerjakan nanti.

Dinosaurus I'mn love.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang