"Entah sampai kapan kita akan menjadi dua orang asing."—A
"Munafik. Adalah manusia, yang selalu mengaku tidak ada apa-apa padahal terdapat apa-apa. Including me."—A
"Sudah cukup alasan untuk memprioritaskannya."—D
****
Raut wajahnya melambangkan luka. Matanya menelusuri setiap bacaan yang tertera di kertas yang kini dipegangnya. Ia menghela napas.
Sepertinya akan sebentar lagi.
Hanya tinggal menghitung hari mengingat keadaannya semakin parah.
Apakah dia akan pergi dengan semua perasaan yang tak kunjung terucapkan? Bagaimana keadaan dia nanti jika waktu telah menjemput?
Oh, ya ampun. Sebenarnya dia ingin mengatakan semua pada gadis yang sekarang mendominasi pikirannya. Namun, ia hanya takut. Takut kalau-kalau gadis itu akan semakin sedih saat mengetahui.
Waktu bertambah, kondisinya akan semakin melemah.
Tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa selain diam dan membiarkan waktu menjelaskan semua. Sebenarnya dia tidak mau menciptakan jarak dengan gadis itu. Ia tidak mau. Terkadang, dia berpikir kenapa semua ini harus terjadi kepadanya?
Kenapa ini terjadi setelah ia benar-benar mempunyai rasa pada gadis itu? Sudah cukup semua ini menggrogotinya. Menciptakan rasa sakit yang berkepanjangan. Tapi ia yakin, bahwa kedamaian akan segera datang padanya.
Tidak lama lagi.
Laki-laki ini kembali menghela napas, tiba-tiba perutnya kembali menimbulkan sakit yang teramat, napasnya pendek-pendek. Dengan gemetar ia mencoba bangun dari tidurnya, mengambil sekotak obat di atas nakas lalu meminumnya.
Setidaknya itu cukup membantu untuk memperpanjang waktu yang dimiliki olehnya.
• • • •
"Selamat pagi."
Seorang guru laki-laki berkepala empat memasuki kelas Alyssa dengan tas yang diapit di salah satu lengannya. Dengan mantap ia melangkahkan kakinya menuju meja guru di kelas itu lalu menaruh tasnya. Sambil menunggu sang murid menjawab salamnya guru itu mengambil tempat yang sekiranya tepat untuk memulai semuanya di pagi ini.
Adalah Pak Joko. Guru IPS di SMA Alyssa yang terkenal dengan guru yang selalu on time. Buktinya saja hari ini, padahal baru beberapa detik lalu bel pertanda masuk berbunyi tapi guru itu sudah berdiri dengan nyaman di hadapan semua murid di kelas Alyssa.
Pak Joko menampilkan senyum ramahnya, "Sebelum memulai pelajaran, saya akan membagi kalian terlebih dahulu menjadi beberapa kelompok untuk memudahkan dalam menyelesaikan bab baru yang akan kita bahas hari ini."
Semua anak di kelas itu terdiam, mendengarkan dengan seksama apa yang akan pak Joko katakan selanjutnya. Begitupula dengan Alyssa, gadis dengan rambut dikucir kuda itu kini tengah berusaha mati-matian untuk mencoba fokus memperhatikan pak Joko. Sementara di kepalanya tengah simpang siur beribu tanggapan, pertanyaan, dan pemikiran tidak jelasnya bertumpuk-tumpuk memenuhi otak gadis itu. Kejadian kemarin tentu saja memberi pengaruh padanya.
"Supaya lebih cepat, saya akan mengambilnya menurut absen. Di kelas ini ada berapa murid?"
"Empat puluh pak!" sebagian anak di kelas itu mejnawab membuat pak Joko mengangguk-angguk mengerti.
"Baik. Saya akan membagi kalian semua menjadi empat kelompok. Masing-masing kelompok terdapat sepuluh murid—" pak Joko mengedarkan pandangan menuju banner yang tertempel rapi di samping atas meja guru yang merupakan denah pengurus kelas. "Syakilla Anandita Putri?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Dinosaurus I'mn love.
Fiksi Remaja[TAMAT] Stephanie Alyssa, si gadis biasa. Kehidupannya seperti gadis lain. Namun yang membedakannya adalah keberuntungan. Dia mampu menggenggam dua hati. Namun, tidak bisa menjaga rasa. Dia mampu menerima. Namun tidak mengerti dan tidak berusaha unt...
