Halo!! Lama ya gak ketemu *sepi* *dilempar sendal* *dilempar sepatu* sori, hehe. Sering banget aku gantungin ya? Hehe, anggep aja semua gantungan-gantungan itu (?) adalah latihan buat aku untuk menghadapi kehidupan *apasih* *dilempar sandal lagi* semoga suka ya sama endingnya, sad atau happy? Penasaran? *sepi* oke, happy reading.
p.s. biar dapet feelnya bisa diiringi sama lagu yang mellow-mellow.
*
*
*
*
*
Aku mempercepat langkah menyusuri lorong rumah sakit, aku harus segera mengetahui keadaan Aland lalu memastikan kalau dia baik-baik saja. Bau obat-obatan tak lagi kuhiraukan,beberapa jam disini membuatku mulai terbiasa dengan bau obat, meskipun begitu aku tidak mau berada di sini terlalu lama, yang artinya Aland tetap harus dirawat.
"Tante Fina? Gimana keadaan Aland?" aku langsung membuka mulut setelah melihat tante Fina tinggal berjarak beberapa langkah dariku.
Tante Fina yang semula tengah menyuapkan es krim pada Cantika dan membelakangiku kini, ia menoleh.
Tersenyum lalu berkata, "Aland udah sadar."
Mendengar perkataan itu aku mengeluarkan napas yang semula tertahan. Senyum senang tak terelakkan muncul dari kedua sudut bibirku. Sesuatu yang mengganjal dan menutup semua yang ada pada diriku seakan terangkat sudah, kembali membuat sisa-sisa ruangan di dalam diriku. Lega.
"Alhamdulillah. Alyssa boleh masuk gak?" tanyaku antusias.
"Masih enggak bisa. Di dalem masih ada Ayah Aland. Harus gantian ngejenguknya," terangnya membuat sedikit rasa antusiasku berkurang. Tapi tak apa, hanya sebentar 'kan? Setelah Ayah Aland keluar aku bisa bertemu dengan Aland.
Aku mengangguk mengerti kemudian mendekatkan diri pada tante Fina kemudian duduk di sebelahnya. Setelah pantatku benar-benar mendarat di kursi aku merasakan semua tubuhku rasanya remuk. Aku baru sadar karena Aland aku hampir lupa kalau kesehatanku harus juga dijaga.
"Aland sadarnya udah lama?" Aku membuka suara setelah berusaha memendam rasa keinginan yang besar untuk segera bertemu dengan Aland.
"Enggak. Baru setengah jam-an lah."
"Kak Alyssa!!" aku menundukkan pandangan saat merasa sesuatu menarik-narik bajuku. Itu Cantika dengan wajah imut dan bahagia menyertai. Aku menaikkan kedua alis, membalas panggilan Cantika dengan mimik wajah. "Kak Alyssa tau nggak kalok kak Aland tadi bilang dia kangen sama kak Alyssa!!"
Aku tercekat, sedetik kemudian aku dapat merasakan kalau pipiku memanas, dadaku berdesir. Jantungku dengan cepat merespon ucapan polos yang dilontarkan oleh Cantika dengan debaran-debaran tidak menentunya.
"E—eh?" bodohnya hanya itu yang mampu keluar dari mulutku. Sedetik kemudian aku dapat mendengar kekehan lembut dari sampingku.
"Cantika sayang, jangan buat kak Alyssanya malu dong. Liat tuh pipinya udah merah," goda tante Fina membuatku memalingkan wajah, berupaya menyembunyikan pipiku yang sekarang terasa semakin memanas.
Cantika tidak peduli. Dengan entengnya ia kembali meminta Mamanya supaya melanjutkan menyuapkan es krim kepadanya, melanjutkan kegiatannya seakan semua ucapan yang ia lontarkan bukanlah apa-apa. Dia tidak tau saja kalau ucapannya berhasil menyalakan kembang api di dadaku.
Dasar Cantika!
"Kak Radhit kemana Tan?"
"Kakak kamu masih keluar bentar, katanya mau beli makan. Kalau Mama kamu ada di ruangannya," terangnya bonus satu jawaban yang pertanyaannya masih belum kutanyakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dinosaurus I'mn love.
Tienerfictie[TAMAT] Stephanie Alyssa, si gadis biasa. Kehidupannya seperti gadis lain. Namun yang membedakannya adalah keberuntungan. Dia mampu menggenggam dua hati. Namun, tidak bisa menjaga rasa. Dia mampu menerima. Namun tidak mengerti dan tidak berusaha unt...
