Kasur yang berwarna abu-abu polos berubah menjadi kasur abu-abu dengan totol-totol berwarna kecoklatan, isi lemari yang berhamburan keluar, kertas novel yang tersobek-sobek, gorden jendela yang lepas ikatannya.
Semua hal yang kusebutkan di atas membuat kepalaku pusing tujuh keliling. Gadis yang menyebabkan semua ini sekarang tengah duduk dengan kepala yang tertunduk di pinggir kasur. Aku menatapnya tajam, persetan dengan wajah memelasnya!
"Cantika bisa liat gak kamar kakak sekarang kayak apa?" mati-matian aku berusaha menahan suaraku yang ingin sekali membentaknya.
Cantika menengadah menghadapku lalu mengedarkan pandangan mengelilingi kamarku yang sudah seperti kapal pecah ini. Lalu dia menjawab dengan entengnya dua kata yang berhasil membuatku semakin kesal padanya, "Kayak kamar." Ia memasang wajah polosnya. Aku menggeram tertahan. Kayak kamar? Kamar kambing!
"Kamar apaan kalok kasurnya banyak cairan jus, isi lemari keluar semua, dan gorden yang sobek huh?" aku masih menatapnya tajam, namun tak berhasil membuat Cantika luluh hanya dengan tatapan yang menurutku sudah pantas disebut garang. Bukannya takut ia malah memberengut kesal lalu berdiri.
"Kan Cantika cuma main-main! Salah siapa Kak Alyssa ngebosenin! Cantika gak bakalan main di kamar kakak kalok kakak asik! Kak Alyssa gak asik!" ia malah membentakku. Lalu berjalan menuju jendela, melihat pemandangan dari sana.
Aku? Ngebosenin? Gak asik?
Halo?! Dari tadi yang menemaninya keliling taman belakang rumah siapa?! Salah dia yang membuatku marah! Salah dia yang membuat kekacauan makanya aku tidak ingin mengajaknya bermain lagi!
Kenapa malah aku yang disalahkan olehnya karena aku tidak asik?
Dia manusia kan? Bukan anak dinosaurus yang kesasar ke rumah ini?
Huh, ya ampun. Dia membuatku tidak bisa berkata-kata lagi karena saking banyaknya umpatan yang berebutan keluar dari mulutku. Bukan umpatan itu yang keluar malah keluhan yang tertahan begitu melihatnya memandang tak berkedip pada sebuah figura yang masih sehat di atas nakas. Pikiran burukku kembali mengahantui saat dia mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah nakas itu.
"Kak Alyssa itu foto siapa?!" wajah kusutnya berubah drastis saat dia kembali melihat wajah syokku melihatnya berlari lalu mengambil figura itu.
Sepertinya dia selalu senang melihat wajahku menderita selalu. Aku jadi ragu kalau dia anak manusia berumur tiga tahun yang kulihat tadi di depan pintu yang datang bersama Mamanya.
Dengan tatapan berbinar Cantika memandangi foto dua anak kecil, seorang perempuan dan seorang laki-laki yang tengah berangkulan itu. Kata Mama, itu adalah Dave sahabat kecilku dulu. Aku tak mengingatnya karena setahun yang lalu aku amnesia karena kecelakaan mobil.
Aku selalu menyimpan foto itu, menatapnya lama dan berharap semua ingatanku akan kembali setiap aku melihat foto itu. Foto dari masa lalu yang kurindukan segala kenangan yang tercipta.
Hentikan penjelasan tentang masa lalu itu! Masa kini lebih penting karena aku takut Cantika akan segera menghancurkan foto satu-satunya yang kumiliki dari masa lalu!
Cukup kamar, ruang tamu, dan dapur saja yang ia hancurkan! Aku tidak akan membiarkannya mengahancurkan foto itu! Tidak akan!
Dengan cepat aku berlari, tak memperdulikan barang-barang yang berserakan di lantai akan terinjak nantinya jika aku tidak hati-hati. Melihatku yang kalang kabut berlari ke arahnya ia malah tertawa keras lalu secaratak sengaja Cantika hampir menjatuhkan figura itu karena tangan nakalnya melayang-layang di udara.
Dengan cepat aku menangkap figura itu kemudian menghembuskan napas lega melihat figura itu masih utuh dan kini ada di genggamanku. Persetan dengan posisiku yang nungging demi menangkap figura itu. Sebentar, Cantika tercekat menyadari kalau figura itu hampir terjatuh karena ulahnya, lalu kembali tertawa saat aku menatap tajam ke arahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dinosaurus I'mn love.
Teen Fiction[TAMAT] Stephanie Alyssa, si gadis biasa. Kehidupannya seperti gadis lain. Namun yang membedakannya adalah keberuntungan. Dia mampu menggenggam dua hati. Namun, tidak bisa menjaga rasa. Dia mampu menerima. Namun tidak mengerti dan tidak berusaha unt...
