Radhit dengan khusuknya memerhatikan layar datar di depannya, tangannya bergerak cekatan menggerak-gerakkan stik game mengendalikan sesuatu terdapat di dalam layar datar tersebut. Fokusnya terbelah karena kedatangan seseorang yang dengan kerasnya tertawa di ruangan tersebut. Radhit mendengus kesal saat layar datar tersebut mengeluarkan tulisan 'game over' tercetak jelas pada benda itu.
Ia menaruh kasar stik game-nya itu matanya menatap tajam ke arah Alyssa yang kini tengah berjalan sempoyongan ke arahnya dengan tangan yang memegang segelas minuman juga sekotak biskuit yang ia selipkan disela-sela jarinya. Mulutnya penuh dengan biskuit namun hal itu tidak menganggu kegiatan tertawanya saat ini.
"Kesurupan setan apaan lo? Ketawa mulu! Ganggu tau nggak, kalah 'kan gue!" semprot Radhit kesal. Matanya menatap tajam ke arah Alyssa yang kini sudah berjarak beberapa langkah dari tempatnya duduk. Alyssa mengernyitkan dahi bingung, tak mengerti apa yang dibicarakan oleh sang Kakak, otaknya memang sedikit lemot dalam hal seperti ini. Matanya beralih menghadap ke arah layar datar disampingnya sedetik kemudian ia tersadar.
"Kalok situ mainnya emang jelek gak usah nyalahin gue! Pfthahha." Alyssa kembali tertawa untuk kesekian kalinya. Tak memperdulikan serpihan biskuit yang dimakannya mulai berceceran di lantai kamar Radhit. Kesal dengan kelakuan Adiknya tersebut Radhit menyambar sebuah bantal tak berdosa disampingnya, tanpa aling-aling Radhit langsung melempar ke arah Alyssa. Namun Alyssa sudah lebih siap dengan resiko apa yang akan ia terima, dengan cekatan Alyssa menghindar saat melihat sebuah bantal hendak meluncur ke arah dirinya. Melihat serangan Kakaknya seratus persen gagal, hal ini malah kembali menyulutkan semangat Alyssa untuk kembali tertawa yang membuat alis Radhit semakin menyatu. Itung-itung ini untuk membalas perbuatan Radhit yang membuat mood Alyssa buruk.
BUKK!!
Tawa Alyssa terhenti saaat mendenar suara debuman diiringi suara ringisan seseorang ia yakini berasal dari belakang, begitupun dengan Kakaknya harus memendam seribu kata-kata manis yang akan ia persembahkan untuk Alyssa.
Dengan sedikit gerakan slow motion,Alyssa membalikkan badannya, sementara Radhit menyembulkan kepalanya disela-sela tubuh Alyssa yang sedari tadi menghalangi pandangannya ke arah pintu. Betapa terkejutnya Alyssa saat melihat Aland tengah memegang wajah, lebih tepatnya dahinya diiringi ringisan yang keluar dari mulutnya. Tepat dibawah kaki Aland terdapat sebuah bantal yang tadi sempat menjadi senjata Radhit untuk menyerang Alyssa.
Sadar akan situasi, seketika tawa Alyssa dan Radhit pecah, mengisi langit-langit ruangan yang sedetik lalu sempat dikuasai oleh keheningan.
Mungkin karena keseringan tertawa perut Alyssa mulai sakit, dengan sedikit perjuangan agar jus-nya tidak terjatuh, dengan hati-hati tangannya mendaratkan segelas jus tersebut di meja tepat di depan sofa yang terdapat di kamar Radhit. Tangannya memegang perut yang kini terasa semakin banyak tangan yang menggelitiki saat melihat wajah cemberut Aland.
"Kakak adik sama aja! Bukannya minta maaf malah nge-tawain! Emang sama-sama gak bener!" Aland mendengus kemudian mengambil kasar bantal yang ada dibawah kakinya, tanpa diduga sebelumnya ia melempar bantal tersebut ke arah Kakak beradik di depannya.
Dan seperti inilah mereka sekarang, tangan memegang bantal menjadi kewajiban saat ini, dimana perang bantal berlangsung, menghasilkan suara teriakan dan cekikikan terdengar.
Ting nong!!
Suara tersebut berhasil menghentikan kegiatan tak normal tiga orang anak manusia ini. Masih dengan napas tersengal-sengal mata Alyssa melihat bergantian ke arah Radhit dan Aland, sedetik kemudian mereka kembali tertawa mentyadari kegiatan yang mereka lakukan sedetik lalu—permainan anak kecil.
Masih dengan napas tak teratur Radhit menyikut lengan Alyssa di sampingnya.
"Apaan?" tanya Alyssa malas, mendengar suara bel beberapa menit yang lalu, sedikit membuat mood Alyssa mulai rusak untuk kedua kalinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dinosaurus I'mn love.
Novela Juvenil[TAMAT] Stephanie Alyssa, si gadis biasa. Kehidupannya seperti gadis lain. Namun yang membedakannya adalah keberuntungan. Dia mampu menggenggam dua hati. Namun, tidak bisa menjaga rasa. Dia mampu menerima. Namun tidak mengerti dan tidak berusaha unt...
