Chapter 25

53 14 13
                                        

Semalam ulang tahun Kak Radhit berjalan lancar, sangat lancar malah. Saking lancarnya ulang tahun Kak Radhit malah seperti prom night anak SMA. Semua teman dekat kak Radhit datang dengan pasangan mereka masing-masing tak terkecuali. Walau sedikit yang diundang, banyaknya tamu datang malah dua kali lipat karena membawa pacar masing-masing. Kak Radhit sebenarnya tidak keberatan, tapi aku yang keberatan melihat bagaimana mirisnya kakakku itu tanpa pasangan seorang diri.

Kemarin, sejam setelah aku uring-uringan tidak jelas di kamar, Kak Radhit mendobrak-dobrak pintu kamarku menanyakan ada apa denganku, dia tau kondisiku dari Dave omong-omong. Iya, dia datang ke rumah tanpa dicari, sebenarnya aku sudah tau dia pasti ingat jalan pulang tapi entahlah, kemarin mungkin aku lagi gabut atau semacamnya tiba-tiba ingin mencari Kak Radhit.

Aku yang saat itu masih menutupi seluruh tubuh dari selimut demi menyembunyikan keberadaan diri dari dunia langsung heboh sendiri bingung bagaimana menjelaskan semua ke kak Radhit. Maksudku bagaimana cara mengelabuhinya karena tentu saja aku tidak akan menjelaskan alasanku nangis, lari ngibrit ke kamar saat melihat pertengkaran Claudia dan Aland yang disebabkan olehku. Tentu saja aku tidak akan menceritakannya.

Maka dengan wajah goblokku, aku langsung membuka kamar berpura-pura tergesa-gesa menghampiri dan meminta Kak Radhit untuk mencari sesuatu di mataku. Kak Radhit menampilkan wajah cengonya, tak lama ia menurutiku untuk mencari sesuatu di mataku.

Mengerti tidak apa yang kulakukan?

Aku pura-pura kelilipan.

Dan parahnya Kak Radhit percaya. Haha.

Lain dengan Dave ia tidak mudah dikelabuhi ya ternyata. Sepanjang acara ulang tahun Kak Radhit dia selalu membuntutiku menanyakan tanpa henti padaku apa yang terjadi sebenarnya. Dan sepanjang acara itu pula aku menggelengkan kepalaku dan berkata kalau yang sebenarnya terjadi kemarin adalah benar aku hanya kelilipan.

Dave menambah dosaku omong-omong, karena saat ia bertanya aku selalu berbohong. Tapi apakah berbohong demi kebaikan itu tetap dosa?

Tidak hanya Dave yang membuntutiku Aland juga, tapi tidak setiap waktu seperti Dave. Dengan wajah bodohnya Aland menuruti saat aku mengatakan padanya kalau aku ingin sendiri.

Aku jahat ya?

"Yah, harus banget berangkatnya jam dua pagi?" aku bertanya pada ayah yang kini tengah mengecek bagasi mobil sambil menguap. "Kenapa harus sekarang sih Yah? Katanya seminggu setelah ultahnya Kak Radhit. Harus banget Alyssa ga masuk sekolah? Emang kita mau kemana sih Yah?"

"Harus. Soalnya minggu depan Ayah sama Mama ga bisa. Ayah sama Mama bisanya sekarang. Kalok minggu depan ntar kita gak jadi liburan barengnya."

Aku membuka mataku yang pelan-pelan mulai tertutup. Itu bukan Ayah yang bicara. Aku mendongak dari dudukku di teras depan rumah mendapati Mama dengan wajah rapinya, ia tersenyum padaku lalu mengarahkan tangannya. Hendak membuatku berdiri. Maka, dengan enggan karena takut dimarahi aku pun menuruti dituntunnya untuk memasuki mobil.

Tiga puluh menit yang lalu, aku dibangunkan dari tidur nyenyakku dengan paksa oleh Kak Radhit dan Mama. Kupikir aku benar-benar kesiangan atau apa sampai-sampai kedua pawangku itu turun ke lokasi secara bersamaan. Saat aku melihat jam alarm di atas nakas, mataku membulat. Jam 01.30 dini hari. Terkejut pasti. Kenapa mereka membangunkanku? Dengan susah payah aku meyakinkan diriku kalau ini bukan hari ulangtahunku hingga aku dibangunkan pada sepertiga malam ini.

Diajak solat tahajud sih syukur.

Lah ini?

Kemanapun aku tak tau.

Katanya sih buat hadiah ulangtahun kak Radhit—ini kata Ayah—untuk menunaikan family's time itu.

Dalam hati aku menggerutu, "Family's time sih family's time. Tapi jangan ganggu time salah satu anggota family kan bisa. Iya gak sih?"

Dinosaurus I'mn love.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang