Budayakan vote sebelum membaca ya :) walau sederhana itu suntikan semangat bagi penulis lho. Hehe. Jangan jadi sider oke? Bonus komen juga gppah jangan takut aku gamakan orang kok, wkwkwk.
Sudah?
Oke, happy reading!!!
•••••
"Karena ku tau jika banyak orang yang membenci kita, maka lebih banyak pula orang yang menyukai kita. Karena kupercaya, roda selalu berputar."—Stephanie Alyssa.
*****
Hari ini, lagi-lagi aku berangkat sekolah dengan Lavie. Aku yang memaksanya agar bisa menjemputku. Hal ini karena, Kak Radhit belum datang juga aku tak mau Mama menyuruh Aland untuk mengantarku. Percakapan Vera di toilet itu masih terngiang-ngiang di kepalaku. Ya, bisa untuk jaga-jaga saja bukan?
"Al, kok gue pengen banget baksonya Bu Ningsih ya? Gue nyesel banget kemaren gak beli bareng sama lo juga Aland," kata Lavie di sebelahku. Aku mengernyit, tapi tak berniat menghentikan langkahku berjalan di koridor sekarang ini.
"Lo ngidam?" dan seperkian detik setelah mulutku mengucapkan itu aku menerima pukulan penuh kasih sayang dari Lavie. Aku hanya meringis, menatapnya dengan pandangan horor.
"Sembarangan aja lo! Kalo mau ngomong difilter dulu kek! Jangan maen nyerocos gitu aja."
Aku hanya mengerucutkan bibir sebal, mengalihkan pandangan ke depan dengan kaki yang terus berjalan. Hingga tiba-tiba mataku menangkap sosok laki-laki yang sangat kukenal memunggungiku, meskipun begitu aku tetap mengenal dia. Dave. Segera saja aku mempercepat langkahku tak memperdulikan Lavie yang berteriak memanggil namaku, karena dia tertinggal jauh di belakang. Persetan lah dengan anak yang hobinya berteriak itu.
"Hai Dave!" sapaku sambil memukul bahu Dave, memaksa agar ia menahan tubuhku sejenak karena napasku mulai pendek-pendek karena acara lari-melari tadi. Refleks Dave menoleh ke arahku yang kini tepat berada di belakang bahunya ngos-ngosan.
"Icha, lo abis lari-lari ya? Napasnya pendek-pendek gitu. Ngapain lari-lari sih? Masih pagi juga. Kalok lo kecapean gimana?" kata Dave setelah memutuskan percakapan dengan siswa yang berbicara dengannya sedari tadi. Aku hanya memutar bola mata malas mendengar celotehan panjang dari Dave.
"Ya 'kan, buat olahraga juga." Aku berusaha mencari alasan. Melepaskan peganganku pada bahu Dave kemudian duduk di kursi depan Dave.
Dave mendengus, kemudian mendaratkan pantatnya di kursi sebelahku. "Pinter banget ya lo ngeyelnya. Oh ya tumben pagi?"
"Gue minta anter sama noh." Aku menunjuk ke arah Lavie yang kini tengah berlari dengan mulut yang komat-kamit menuju arah kami. Dave hanya ber-oh ria.
"Alyssa! lama-lama gue makan juga lo ya! Kalok bedak gue luntur karena keringet gimana? Kalok gue bau gimana? Kalok rambut gue lecek gimana?" Lavie berkacak pinggang di depanku dengan napas yang tak jauh beda denganku tadi. Aku nyengir.
"Hehe, buat olahraga, pagi-pagi. 'kan biar sehat." Aku menaik-urunkan alisku menggoda Lavie. Ia mendengus kemudian duduk di sampingku. Lavie menatap kagum ke samping kananku lebih tepatnya ke arah Dave, ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan supaya dapat melihat seorang Dave dengan jelas.
"Eh, ada David toh. Hai David." Suara ala ibu-kos menagih uang bulanan yang Lavie tunjukan padaku tadi tiba-tiba raib seketika dikala berbicara dengan Dave. Keterlaluan emang Lavie.
Tak berniat menjawab sapaan Lavie, ia hanya menatap dengan wajah datar ke arah Lavie.
"Gak usah ganjen deh lo! lo udah punya cowok gue bilangin ke Ray bau tau rasa lo. lagian gue juga gak rela kali sahabat gue pacarannya ama cewek kayak elo," ucapku nyinyir sambil merangkul lengan Dave. Berniat bersikap possesive di depan Lavie.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dinosaurus I'mn love.
Teen Fiction[TAMAT] Stephanie Alyssa, si gadis biasa. Kehidupannya seperti gadis lain. Namun yang membedakannya adalah keberuntungan. Dia mampu menggenggam dua hati. Namun, tidak bisa menjaga rasa. Dia mampu menerima. Namun tidak mengerti dan tidak berusaha unt...
