Seorang lelaki berambut merah berjalan memasuki sebuah bangunan dengan langkah yang tergesa-gesa dan kepala yang tertunduk. Di dalam jubahnya terdapat potongan tangan seorang lelaki, sementara kedua tangannya memeluk kepala berambut pirang dari rekannya.
Ia berhenti di depan sebuah pintu dan mengetuk pintu. Setelahnya ia masuk ke dalam menutup pintu, masih dengan kepala yang tertunduk dalam. Ia tak menghiraukan lelaki dihadapannya yang menatapnya dengan bingung, berusaha mencari sosok rekan nya.
"Pekerjaan kami berhasil. Kami berhasil meledakkan rumah samurai itu dan menghabisi seluruh penghuni nya. Namun Deidara terkena ledakan besar dan mati," ucap lelaki berambut merah itu dengan tenang meskipun ia sebetulnya sama sekali tak merasa tenang. Sudah lama ia tak merasakan emosi yang sangat kuat dan kini hatinya bergejolak bagaikan ombak yang bergolak.
"Apa kau membawa jasad Deidara yang tersisa, Sasori?"
"Aku meletakkannya di ruang depan, Itachi."
Itachi terdiam sejenak. Ekspresi wajahnya tetap datar, namun sebetulnya hatinya benar-benar berkecamuk. Deidara tak menyukai dirinya, namun ia merasa agak kehilangan. Dalam satu hari, ia telah kehilangan dua anggota organisasinya.
"Kisame juga telah mati pagi ini," ucap Itachi dengan nada yang entah kenapa terdengar lebih murung dari biasanya.
Ucapan Itachi lumayan membuat Sasori terkejut hingga ia mengangkat kepalanya. Namun yang lebih mengejutkan, Itachi yang biasanya juga tak pernah menunjukkan emosi apapun seperti dirinya kini terlihat agak murung.
"Oh, ya."
Itachi merasa agak kecewa dengan reaksi Sasori yang terkesan tak peduli. Namun ia menangkap sorot kesedihan yang terpancar dari mata Sasori. Lelaki itu pasti tengah berduka setelah kehilangan rekan yang selalu bersama dengannya.
"Aku ingin beristirahat, tolong jangan berikan aku pekerjaan apapun selama satu minggu," ujar Sasori seraya bangkit berdiri.
Itachi mengangguk. Rasa kehilangan yang dirasakan Sasori pasti lebih dalam dibanding yang terlihat. Bagaimanapun juga mereka berdua selalu menjadi rekan setim dalam pekerjaan yang memerlukan dua orang.
"Hn. Tolong urus jasad Deidara yang tersisa dengan cara apapun yang kau mau."
"Ya."
Sasori keluar dari ruangan dan menutup pintu, meninggalkan Itachi yang sendirian di dalam ruangan.
Setelah merasa tak ada seorangpun, ia segera menopang wajahnya dengan kedua tangan dan mengusap matanya. Emosinya masih tak stabil setelah menyaksikan secara langsung mengenai apa yang terjadi pada Kisame.
Sebetulnya ia tak pernah mengira jika ia akan kehilangan hingga seperti ini. Dibandingkan orang lain, ia merasa lebih nyaman bersama Kisame meskipun ia terus menjaga jarak dengan siapapun.
Itachi merasa benar-benar menyesal. Seharusnya ia sendiri yang pergi menemui Sasuke dan pergi tanpa membunuh Sasuke meski harus menarik ucapannya sendiri. Ia sadar jika Kisame adalah orang yang haus darah dan selama ini ialah yang selalu menahan tindakan gegabah yang dilakukan Kisame. Ia tak mengira jika Kisame akan melawan perintahnya.
Atau seharusnya ia tidak diam saja melihat Kisame dibantai oleh Sasuke. Namun nasi telah menjadi bubur dan rasa penyesalan malah terasa memberatkan dirinya.
Jam telah menunjukkan pukul dua belas siang dan matahari sedang benar-benar terik. Namun Itachi tak peduli. Ia ingin segera mengunjungi 'kuburan' Kisame yang dibuat oleh Sasuke dan meletakkan bunga meski sebetulnya ia ingin menguburkannya di halaman markas tempatnya berada saat ini.
Itachi berjalan keluar dari markas dan segera mengubah dirinya menjadi burung gagak hitam. Matanya yang ia kira telah mengering selamanya kini mulai berkaca-kaca. Kini alasannya untuk hidup semakin melemah dan ia semakin tenggelam dalam perasaan bersalah, kehilangan dan kesedihan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kill The Assassin
Fiksi PenggemarUzumaki Naruto adalah putra seorang daimyo yang harus menyaksikan pembantaian keluarga nya sendiri di suatu sore. Pertemuan nya dengan Uchiha Sasuke yang merupakan pembunuh keluarga nya membuatnya hendak membunuh pria itu dan berakhir dengan mengiku...
